Beranda

Nostalgia Ikonik: Anne Hathaway Pakai Mantel Andy Sachs Usai 20 Tahun

Nostalgia Ikonik: Anne Hathaway Pakai Mantel Andy Sachs Usai 20 Tahun
SC akun Instagram Vogue @voguemagazine. Anne Hathaway kembali mengenakan mantel ikonik dari The Devil Wears Prada sebagai penutup tur promosi sekuel film tersebut.(Instagram/@voguemagazine)

Anne Hathaway kembali kenakan mantel hijau ikonik The Devil Wears Prada untuk sekuel terbarunya. Simak rahasia lelang dan dampak budaya pop fashionnya.

INDONESIAONLINE – Lagu hit KT Tunstall, “Suddenly I See”, seolah kembali mengalun di telinga para pencinta sinema. Bagi generasi yang tumbuh di era 2000-an, adegan makeover karakter Andrea “Andy” Sachs di film The Devil Wears Prada (2006) bukan sekadar transisi sinematik biasa, melainkan sebuah revolusi budaya pop.

Kini, tepat dua puluh tahun setelah film pertama merajai box office global, Anne Hathaway kembali melakukan keajaiban. Mengakhiri rangkaian tur promosi epik untuk sekuel The Devil Wears Prada 2, aktris pemenang Oscar tersebut tampil memukau dengan mengenakan mantel hijau vintage berdada leopard yang sama persis seperti yang ia kenakan di film aslinya.

Penampilan ini bukan kebetulan belaka. Di balik sepotong mantel tersebut, tersimpan strategi pemasaran Hollywood yang brilian, perburuan barang lelang yang menegangkan, hingga pesan kuat tentang sustainability (keberlanjutan) dalam dunia high fashion.

Misi Rahasia di Balik Mantel: Dari Ruang Lelang ke Karpet Merah

Banyak yang mengira bahwa studio film selalu menyimpan rapat-rapat kostum ikonik mereka di dalam arsip berpendingin ruangan. Kenyataannya, banyak properti film berguguran, dijual, atau dilelang kepada kolektor pribadi setelah proses syuting selesai.

Membawa kembali mantel tersebut ke tubuh Anne Hathaway di tahun ini bukanlah perkara mudah. Penata gaya (stylist) Hathaway, Erin Walsh, mengungkap bahwa mantel vintage rancangan desainer ternama itu harus didapatkan kembali melalui proses lelang yang kompetitif.

“Anne ingin menutup tur promosi ini dengan sebuah referensi langsung yang sangat personal ke film tersebut,” ungkap Erin Walsh.

Menurutnya, penggunaan mantel itu dirancang menjadi momen spesial dan emosional, sebuah surat cinta visual bagi para penggemar setia yang telah menanti kelanjutan nasib Andy Sachs selama 20 tahun.

Untuk memahami magisnya mantel ini, kita harus mundur ke tahun 2006 dan melihat isi kepala desainer kostum legendaris, Patricia Field. The Devil Wears Prada tercatat dalam sejarah perfilman sebagai salah satu film dengan biaya kostum paling fantastis pada masanya.

Menurut data yang diverifikasi dari berbagai literatur industri perfilman, bujet awal kostum film ini hanya dialokasikan sebesar 100.000 dolar AS. Namun, Patricia Field berhasil mengumpulkan pakaian dan aksesori senilai lebih dari 1 juta dolar AS berkat pinjaman dari teman-teman desainernya di industri mode, menjadikannya salah satu lemari pakaian film termahal dalam sejarah.

Mantel hijau terang dengan kerah dan manset bermotif macan tutul (leopard) itu adalah salah satu masterpiece dari koleksi tersebut. Dalam adegan montase, Andy memadukannya secara berani dengan kacamata hitam oversized, sarung tangan putih klasik, dan sepatu hak tinggi.

“Saya menyukainya karena warnanya. Hijau itu terlihat sangat menonjol, mencolok, dan langsung menarik perhatian di tengah suasana kota New York yang cenderung didominasi warna abu-abu, hitam, dan beton,” ujar Patricia Field menjelaskan filosofi desainnya.

Mantel itu melambangkan transisi Andy: dari seorang jurnalis yang kikuk dan tidak peduli penampilan, menjadi wanita karier yang memegang kendali atas dirinya sendiri di belantara industri mode yang kejam.

Nostalgia Sebagai Senjata: ‘Cerulean’ hingga Prada

Tur promosi The Devil Wears Prada 2 layak dijadikan studi kasus di sekolah pemasaran. Mantel hijau ini rupanya bukan satu-satunya easter egg (pesan tersembunyi) yang disuguhkan Anne Hathaway dan timnya.

Sebelumnya, internet dibuat gempar ketika Hathaway dan sang “bos”, Meryl Streep (pemeran Miranda Priestly), tampil bersama mengenakan pakaian bernuansa warna cerulean (biru langit). Bagi penggemar garis keras, warna cerulean adalah simbol dari salah satu monolog paling ikonik dalam sejarah perfilman, di mana Miranda Priestly menceramahi Andy tentang bagaimana industri mode haute couture mendikte apa yang dipakai oleh masyarakat kelas menengah.

Selain itu, Hathaway juga berulang kali menyematkan elemen warna merah—warna yang identik dengan kekuatan dan sering digunakan oleh merek Prada—serta membawa berbagai tas arsip dari rumah mode asal Italia tersebut. Penggunaan kembali busana dari film lama menjadi jembatan psikologis yang sangat efektif untuk menghubungkan cerita klasik dengan proyek terbaru mereka.

Keputusan Anne Hathaway memakai mantel berusia 20 tahun ini juga beresonansi kuat dengan tren mode global saat ini, yakni Archival Fashion atau mode arsip.

Berdasarkan laporan industri barang mewah dari Bain & Company, pasar barang mewah bekas (termasuk busana vintage/archival) telah tumbuh pesat melampaui pertumbuhan barang mewah baru dalam lima tahun terakhir. Gen Z dan Milenial memandang pakaian lama bukan sebagai barang usang, melainkan sebagai karya seni historis yang mendukung praktik mode berkelanjutan (sustainable fashion).

Dengan mengenakan mantel lamanya, Hathaway membuktikan bahwa mode sejati tidak pernah mati. Alih-alih mengenakan gaun rancangan terbaru dari runway musim ini yang akan segera dilupakan besok hari, ia memilih busana yang memiliki nyawa, cerita, dan warisan budaya.

Kemunculan kembali mantel ikonik ini membuktikan tesis yang kuat: fashion dalam film memiliki kekuatan untuk bertahan melintasi waktu. Penampilan memukau Anne Hathaway di penghujung promosi menjadi pengingat yang emosional akan karakter Andy Sachs yang telah terpatri kuat di ingatan pop culture penonton seluruh dunia.

Dua dekade mungkin telah berlalu. Namun, satu potong mantel hijau sukses membawa kita melintasi mesin waktu, menghadirkan kembali nostalgia masa lalu, sekaligus membuktikan bahwa gaya yang berkarakter akan selalu terasa relevan dan modern kapan pun ia dihidupkan kembali. Tentu saja, Miranda Priestly akan sangat menyetujui hal ini.

Exit mobile version