Oscar 2026 cetak sejarah: Sinners raih 16 nominasi, tantang dominasi PTA. Simak analisis mendalam peta persaingan Best Picture dan panduan tontonnya.
INDONESIAONLINE – Sejarah baru saja ditulis ulang di Samuel Goldwyn Theater, Beverly Hills. Ketika The Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) mengumumkan daftar nominasi untuk Academy Awards ke-98 pada Kamis (22/1), dunia sinema tidak hanya menyaksikan deretan judul film, melainkan sebuah pergeseran tektonik dalam lanskap perfilman global.
Tahun 2026 menjadi saksi runtuhnya batasan lama. Film Sinners, sebuah karya genre-bending besutan sutradara visioner Ryan Coogler, berhasil memecahkan rekor yang selama puluhan tahun dipegang oleh All About Eve (1950), Titanic (1997), dan La La Land (2016).
Dengan perolehan 16 nominasi, Sinners tidak hanya memimpin kompetisi; ia mendefinisikan ulang apa yang mungkin dicapai oleh sebuah film horor-periode di mata para pemilih elit Hollywood.
Namun, Oscar 2026 bukan sekadar panggung tunggal bagi Coogler. Di sudut lain, maestro sinema Paul Thomas Anderson (PTA) kembali dengan kekuatan penuh lewat One Battle After Another, membawa serta Leonardo DiCaprio dalam sebuah narasi yang digadang-gadang sebagai puncak artistik tahun ini.
Artikel ini akan membedah secara mendalam pertarungan raksasa ini, menelusuri signifikansi budaya dari setiap nominasi Best Picture, serta memberikan panduan lengkap bagi penikmat film di Indonesia untuk menjadi saksi sejarah ini.
Sinners: Ketika Horor Menjadi Mahakarya
Ryan Coogler bukanlah nama asing dalam inovasi. Setelah menghidupkan kembali franchise Rocky lewat Creed dan mendobrak batasan budaya pop lewat Black Panther, Coogler kini menghadirkan Sinners. Film ini berlatar era Jim Crow tahun 1930-an, sebuah periode kelam dalam sejarah segregasi rasial di Amerika Serikat, namun dibalut dengan elemen supranatural vampir yang kental.
Masuknya Sinners ke dalam 16 kategori—termasuk Best Picture, Best Director, Best Actor (Michael B. Jordan), dan Best Original Screenplay—adalah anomali yang mengejutkan. Secara historis, The Academy kerap memandang sebelah mata genre horor. Film seperti The Exorcist atau Get Out memang pernah dinominasikan, namun tidak pernah ada film horor yang mendominasi secara teknis dan artistik sekomprehensif ini.
Kombinasi Michael B. Jordan yang memerankan karakter kembar (Smoke dan Stack) memberikan kedalaman emosional ganda yang jarang ditemui. Kritikus menilai Sinners bukan sekadar film tentang monster penghisap darah, melainkan metafora berdarah tentang rasisme sistemik yang “menghisap” kehidupan komunitas kulit hitam di masa lalu.
Dominasi ini menandakan bahwa The Academy di tahun 2026 semakin terbuka pada narasi genre yang memiliki bobot sosiopolitik berat.
Paul Thomas Anderson dan Ambisi Leonardo DiCaprio
Di posisi kedua dengan 13 nominasi, One Battle After Another menjadi pesaing terberat. Paul Thomas Anderson, sutradara yang dikenal lewat There Will Be Blood dan Phantom Thread, kali ini menggandeng Leonardo DiCaprio sebagai Bob Ferguson, mantan agen yang terpojok.
Ini adalah pertemuan dua kekuatan besar. PTA dikenal dengan perfeksionismenya dalam pengarahan visual dan naskah, sementara DiCaprio dikenal dengan selektivitas perannya yang ekstrem. Film ini mendominasi kategori Best Adapted Screenplay dan kategori akting pendukung.
Secara historis, PTA sering kali menjadi “pengiring pengantin” di Oscar—selalu dinominasikan, jarang membawa pulang piala utama. Namun, dengan kemenangan sapu bersih di Golden Globe dan Critics’ Choice Awards 2026, momentum kali ini tampaknya berpihak padanya.
Pertarungan antara visi horor Coogler dan drama thriller elegan PTA akan menjadi narasi utama hingga malam penganugerahan pada 16 Maret mendatang.
Invasi Genre: Alien, Monster, dan Teori Konspirasi
Oscar 2026 juga menandai kemenangan bagi sinema yang “aneh” dan berani. Kehadiran Bugonia karya Yorgos Lanthimos di jajaran Best Picture menegaskan bahwa selera The Academy telah bergeser drastis dari drama konvensional.
Lanthimos, yang sebelumnya sukses besar dengan Poor Things, kembali berkolaborasi dengan Emma Stone. Premis tentang penculikan CEO yang dituduh sebagai alien adalah satir sosial yang tajam tentang era misinformasi dan polarisasi digital.
Masuknya film dark comedy sci-fi ini menunjukkan bahwa orisinalitas ide kini lebih dihargai daripada formula “umpan Oscar” (Oscar bait) yang klise.
Senada dengan itu, Guillermo del Toro kembali ke akar kecintaannya pada monster melalui Frankenstein. Dengan Jacob Elordi sebagai makhluk ciptaan dan Oscar Isaac sebagai sang pencipta, Del Toro tidak sekadar membuat ulang horor klasik.
Ia mendekonstruksi obsesi manusia untuk menjadi Tuhan. Keberhasilan film ini di BAFTA dan Golden Globe membuktikan bahwa monster Del Toro memiliki hati yang mampu menyentuh para pemilih.
Biopik dan Memori Kolektif
Di tengah gempuran fiksi spekulatif, dua film biopik hadir membawa jangkar realitas. Marty Supreme yang dibintangi Timothée Chalamet menawarkan warna berbeda. Mengangkat kisah Marty Reisman, legenda tenis meja, film produksi A24 ini menjadi crowd pleaser yang sukses secara komersial maupun kritikal.
Chalamet, yang bertransformasi menjadi atlet nyentrik era 50-an, sekali lagi membuktikan rentang aktingnya yang luar biasa setelah sukses di Dune.
Sementara itu, Hamnet karya Chloé Zhao (sutradara Nomadland) mengambil pendekatan yang lebih sunyi dan puitis. Mengisahkan duka William Shakespeare atas kematian putranya, film ini adalah studi karakter yang mendalam tentang bagaimana kesedihan bertransformasi menjadi seni (Hamlet).
Sejarah mencatat Chloe Zhao sebagai sutradara yang mampu menangkap esensi kemanusiaan dalam lanskap yang luas, dan Hamnet adalah pembuktian terbarunya dalam genre drama periode.
Panduan Menonton: Di Mana Menyaksikan Para Kandidat?
Bagi penikmat film di Indonesia, berikut adalah panduan lengkap untuk menyaksikan film-film nominator Best Picture Oscar 2026, mulai dari layar lebar hingga layanan streaming di ruang keluarga Anda:
1. Sedang & Akan Tayang di Bioskop Bagi Anda yang merindukan pengalaman sinematik komunal dengan kualitas audio-visual maksimal, tiga film ini wajib ditonton di layar lebar:
- Sinners (Warner Bros.)
- Jadwal: Mulai 28 Januari 2026.
- Alasan Tonton: Sinematografi atmosferik era 1930-an dan efek visual vampir yang mencekam membutuhkan layar besar.
- Marty Supreme (A24)
- Jadwal: Mulai 25 Februari 2026.
- Alasan Tonton: Dinamika pertandingan pingpong yang cepat dan gaya visual retro yang memanjakan mata.
- Hamnet
- Jadwal: Mulai 27 Februari 2026.
- Alasan Tonton: Lanskap visual puitis khas Chloé Zhao yang menenangkan namun menghanyutkan.
- Sentimental Value
- Status: Sedang tayang terbatas (cek jaringan bioskop independen atau festival).
2. Layanan Streaming (Rilis Digital) Bagi yang lebih nyaman menonton secara maraton di rumah, platform digital telah mengamankan hak tayang beberapa kandidat kuat:
- Netflix:
- Frankenstein: Tersedia sejak 7 November 2025. Sebuah tontonan wajib bagi penggemar gothic horror.
- Train Dreams: Tersedia sejak 21 November 2025. Drama melankolis Joel Edgerton yang cocok untuk tontonan kontemplatif.
- Apple TV+:
- F1: Film beranggaran besar tentang balap Formula 1 yang dibintangi Brad Pitt.
- One Battle After Another: Kandidat terkuat kedua ini sudah bisa diakses secara digital.
- Sinners: (Juga akan tersedia di Apple TV berbarengan atau setelah rilis bioskop, cek ketersediaan regional).
- HBO Max:
- One Battle After Another: Alternatif platform untuk menyaksikan aksi Leonardo DiCaprio.
3. Status Belum Terkonfirmasi
- Bugonia dan The Secret Agent belum memiliki tanggal rilis resmi untuk pasar luas Indonesia, namun kemungkinan besar akan hadir di festival film atau platform VOD dalam waktu dekat mengingat status nominasinya.
Periode pemungutan suara final akan berlangsung mulai 26 Februari hingga 5 Maret 2026. Dalam rentang waktu tersebut, nasib para sineas akan ditentukan. Apakah Sinners akan menyempurnakan rekor nominasinya dengan kemenangan mutlak? Ataukah One Battle After Another akan memberikan piala Oscar pertama bagi Paul Thomas Anderson?
Satu hal yang pasti, Oscar 2026 bukan lagi sekadar pesta glamor selebritas. Ia adalah cermin dari evolusi sinema yang semakin inklusif terhadap genre, semakin berani dalam narasi, dan semakin cair dalam distribusinya.
Pada 16 Maret 2026 pukul 06.00 WIB nanti, kita tidak hanya akan melihat pemenang, tapi arah masa depan perfilman dunia.
