Beranda

Penaklukan Tuban oleh Sultan Agung, Mataram Kuasai Pelabuhan Besar Pantai Utara

Penaklukan Tuban oleh Sultan Agung, Mataram Kuasai Pelabuhan Besar Pantai Utara
Penggambaran Sultan Agung dalam film Sultan Agung: The Untold Story (2018). Dengan pakaian kebesaran dan karisma kepemimpinannya, karakter Sultan Agung digambarkan sebagai sosok tegas, visioner, dan berwibawa yang berjuang mempertahankan kedaulatan Mataram dari pengaruh kolonial VOC. (foto: Sultan Agung The Movie)

INDONESIAONLINE – Tuban berdiri sebagai pelabuhan utama di pesisir utara Jawa pada 1619. Kota ini bukan sekadar persinggahan bagi kapal-kapal dagang, tetapi juga benteng pertahanan bagi penguasa setempat yang menolak tunduk pada hegemoni Mataram.

Di bawah kepemimpinan adipati Tuban, kota ini menjadi simpul perlawanan yang menghambat ambisi penguasa Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo untuk menguasai jalur perdagangan dan politik di utara.

Namun, sejarah tidak memberi ruang bagi yang ragu-ragu. Keputusan untuk menaklukkan Tuban diambil dengan ketegasan seorang raja yang sedang membangun imperium. Di dalam lingkaran istana Kotagede, Sultan Agung mengatur siasat dan memilih panglima-panglima terbaiknya. Dua sosok utama, Martalaya dan Jaya Suponta, mendapat mandat untuk memimpin ekspedisi militer ke pesisir utara. Pasukan ini tidak hanya bergerak dengan kekuatan, tetapi juga membawa strategi yang telah dipertimbangkan matang-matang oleh raja sendiri.

Riwayat Singkat Sultan Agung Hanyokrokusumo

Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa ketiga Kesultanan Mataram Islam, merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Jawa pada abad ke-17. Memerintah dari tahun 1613 hingga 1645, Sultan Agung bukan hanya dikenal sebagai pemimpin militer yang ulung, tetapi juga sebagai pemikir visioner yang membawa Mataram mencapai puncak kejayaannya.

Sultan Agung lahir dengan nama asli Raden Mas Jatmika, yang juga dikenal sebagai Raden Mas Rangsang. Ia merupakan putra Panembahan Hanyokrowati, putra Panembahan Senopati (pendiri Kesultanan Mataram) dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati (putri Pangeran Benowo, raja ketiga Kesultanan Pajang). Ia dilahirkan di Kotagede pada 14 November 1593, dalam lingkungan aristokrat yang mengasah kemampuan kepemimpinannya sejak dini.

Kegemilangan Sultan Agung dalam strategi militer terlihat dari upayanya melawan kekuatan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang bercokol di Batavia. Dua kali serangan besar dilancarkan, masing-masing pada tahun 1628 dan 1629. Meskipun kedua ekspedisi ini tidak berhasil sepenuhnya menundukkan VOC, keberhasilan merebut Benteng Hollandia dan mengguncang kekuatan musuh di Batavia menjadi bukti ketangguhan pasukan Mataram di bawah komandonya. Namun, berbagai kendala logistik dan medan yang tidak mendukung menghambat upaya untuk mencapai kemenangan penuh.

Di luar medan perang, Sultan Agung juga dikenal sebagai pemimpin yang memperhatikan sektor ekonomi. Ia menempatkan produksi beras sebagai komoditas utama kerajaan dan mengembangkan sistem irigasi yang efisien melalui pemanfaatan sungai-sungai besar. Strategi ini berhasil meningkatkan hasil panen dan memperkuat ekonomi Mataram.

Sultan Agung turut memperkuat perdagangan dan pelayaran, menjadikan Mataram sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Jawa pada masa itu. Peranannya dalam mengintegrasikan berbagai wilayah melalui jalur dagang turut memperluas pengaruh politik dan ekonomi Kesultanan.

Selain sebagai pemimpin politik dan ekonomi, Sultan Agung juga dikenal karena perhatiannya terhadap kebudayaan. Salah satu peninggalan pentingnya adalah penciptaan Kalender Jawa Islam, yang merupakan perpaduan antara Kalender Hijriyah dan Kalender Saka. Hingga saat ini, kalender tersebut masih digunakan dalam berbagai tradisi Jawa.

Ia juga menetapkan bahasa Bagongan sebagai bahasa resmi istana, serta mendukung perkembangan seni patung, ukir, tari, bangunan, dan lukis. Perhatian Sultan Agung terhadap seni dan budaya turut memperkaya warisan kebudayaan Jawa yang bertahan hingga masa kini.

Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, wilayah Kesultanan Mataram meluas hingga mencakup hampir seluruh Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian besar Jawa Barat. Ekspansi ini diperoleh melalui perpaduan antara strategi militer yang tegas, diplomasi yang cerdas, dan sistem pemerintahan yang kokoh.

Sebagai salah satu raja terbesar dalam sejarah Nusantara, Sultan Agung Hanyokrokusumo dikenang bukan hanya karena ambisinya untuk mempersatukan Jawa, tetapi juga karena upayanya dalam mengembangkan budaya, ekonomi, dan pemerintahan yang solid. Kepemimpinannya meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah Indonesia, baik dalam catatan pribumi maupun dalam kesaksian para pengamat asing yang mengabadikan kisahnya.

Strategi Penaklukan Tuban: Jaringan Aliansi dan Diplomasi Paksa

Sejarah militer Mataram tidak hanya dibangun di atas keunggulan taktik tempur, tetapi juga melalui strategi diplomasi dan tekanan politik. Sebelum menyerang Tuban, pasukan Mataram terlebih dahulu singgah di Pati. Pragola, seorang kepala daerah setempat, diajak serta dalam ekspedisi ini—suatu langkah yang menunjukkan bagaimana Sultan Agung membangun jaringan aliansi untuk memperlemah lawannya.

Namun, Tuban tidak berdiri sendiri. Ancaman dari Mataram membuat Adipati Tuban mengulurkan tangan kepada Surabaya dan Madura, meminta bantuan dalam menghadapi serangan yang akan datang. Adipati Surabaya, meski menyadari ancaman ini, lebih memilih untuk mempertahankan kotanya sendiri daripada mengorbankan pasukannya untuk Tuban. Sebagai gantinya, ia mengirimkan seorang panglima bernama Sanjata bersama seribu prajurit—sebuah jumlah yang masih jauh dari cukup untuk menghadang gempuran Mataram.

Di sisi lain, Madura mengirimkan dua ribu orang, memperkuat pertahanan Tuban yang sudah diperkuat dengan meriam-meriam besar. Dua di antaranya, Sidamurti dan Pun Gelap, dipercaya memiliki kekuatan gaib yang dapat membalikkan keadaan. Namun, kepercayaan terhadap kekuatan supranatural sering kali menjadi pedang bermata dua dalam perang.

Benteng dan Meriam: Ketangguhan Tuban di Bawah Kepungan

Tuban bukanlah kota yang mudah ditaklukkan. Berbeda dengan daerah-daerah lain yang menyerah dengan cepat, Tuban memiliki tembok pertahanan yang kokoh dan persenjataan yang mumpuni. Di atas tembok-tembok itu, meriam-meriam raksasa siap memuntahkan api kepada musuh yang mendekat. Adipati Tuban, dengan keyakinan penuh, mengabaikan saran para penasihatnya dan memilih bertahan di dalam kota. Ia percaya bahwa tiga meriam sakti yang dimiliki Tuban akan menjadi tameng yang tak tertembus bagi pasukan Mataram.

Namun, takdir berkata lain. Pada hari pertama pengepungan, strategi Mataram berjalan sesuai rencana. Pasukan Tuban berhasil dipancing keluar dari kota, membuka celah bagi serangan kilat yang diusulkan oleh Adipati dari Pati. Di tengah pertempuran yang berkecamuk, dua meriam utama—Sidamurti dan Pun Gelap—malah menjadi malapetaka bagi pasukan Tuban sendiri. Ditembakkan dengan muatan berlebihan, kedua meriam ini meledak, menewaskan banyak pasukan Tuban dan menimbulkan kepanikan di antara mereka.

Malam itu, pertempuran terhenti sementara. Namun, di dalam kota, Adipati Tuban mulai merasakan kekalahan yang kian mendekat. Luka yang dideritanya membuatnya berpikir ulang tentang masa depan kotanya. Dalam keputusasaan, ia memerintahkan para istrinya untuk melarikan diri, membawa serta segala kekayaan yang bisa mereka bawa.

Sementara itu, di luar tembok kota, Sultan Agung memilih untuk merayakan kemenangan yang hampir pasti. Serat Kandha mencatat bagaimana raja menghibur dirinya dan pasukannya dengan gamelan, tarian bedhaya, serta jamuan mewah—sebuah ironi di tengah kota yang sedang sekarat.

Runtuhnya Kota Pelabuhan Terbesar di Utara

Tengah malam, Tuban berada di ambang kehancuran. Ketika fajar menyingsing, kabar bahwa Adipati Tuban telah melarikan diri ke Madura tersebar luas. Tanpa pemimpin, pasukan Tuban kehilangan semangat juang mereka. Adipati Jagaraga dan Adipati Sanjata, dua sekutu yang semula bertahan, memutuskan untuk mundur. Tak lama setelah itu, pasukan Madura juga mulai menarik diri dalam kekacauan.

Kota yang sebelumnya berdiri megah sebagai pusat perdagangan pesisir utara kini kosong. Keraton yang megah telah ditinggalkan, kapal-kapal dirampas atau dihancurkan, dan rakyat yang tersisa dipaksa tunduk pada kekuasaan Mataram. Babad Tanah Djawi mencatat bahwa tentara Mataram memasuki Tuban tanpa perlawanan, menandai berakhirnya kedaulatan kota tersebut.

Sebagai ganjaran atas kemenangannya, Sultan Agung menganugerahkan jabatan Adipati Sujana Pura kepada Aria Jaya Suponta, salah satu panglima utama dalam ekspedisi ini. Sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa Mataram tidak hanya menghancurkan musuhnya, tetapi juga menata ulang struktur kekuasaannya dengan orang-orang yang setia kepada tahta.

Tuban dalam Bayang-Bayang Mataram

Setelah penaklukan ini, Tuban tidak lagi menjadi kota pelabuhan yang merdeka. Meskipun tetap menjadi pusat perdagangan, pengaruh Mataram kini mendominasi setiap aspek kehidupan di sana. Para pemimpin baru ditunjuk dari kalangan yang loyal kepada Sultan Agung, memastikan bahwa kota ini tidak lagi menjadi ancaman bagi ekspansi kerajaan.

Penaklukan Tuban tahun 1619 merupakan langkah penting dalam ambisi besar Sultan Agung untuk menyatukan seluruh Jawa di bawah panji Mataram. Namun, kemenangan ini bukan akhir dari perjuangan. Mataram masih harus menghadapi perlawanan dari Surabaya, Madura, dan kekuatan-kekuatan lain yang belum sepenuhnya tunduk, menguji keteguhan dan strategi kepemimpinan Sultan Agung. (ar/hel)

 

 

Exit mobile version