Ponorogo: Hikayat Darah, Doa, dan Cincin Permata Negara Jawa

Ponorogo: Hikayat Darah, Doa, dan Cincin Permata Negara Jawa
Ilustari Raden Katong bergelar Bathoro Katong, Selo Aji menjadi Patih, dan Kyai Mirah menjadi Penghulu Agama. Tri Tunggal kepemimpinan baru (io)

Menelusuri jejak lahirnya Ponorogo: pertemuan tasawuf Raden Katong, hegemoni Warok, dan siasat menaklukkan Majapahit dalam tarikan napas Islam dan Jawa.

INDONESIAONLINE – Senja belum benar-benar jatuh di langit timur Gunung Lawu ketika dua sosok kesatria menjejakkan kaki di tanah berdebu itu. Raden Katong dan Patih Selo Aji, dua utusan yang membawa mandat langit dan bumi dari Demak Bintoro, akhirnya tiba di titik takdir mereka: sebuah padepokan sunyi yang diasuh oleh Kyai Ageng Mirah. Pertemuan ini bukanlah kebetulan sejarah, melainkan simpul kosmis yang telah digariskan dalam kitab takdir tanah Jawa.

Kyai Mirah bukanlah sekadar ulama biasa. Ia adalah axis mundi, poros penghubung antara dunia Islam yang sedang merekah dan masyarakat Hindu-Buddha yang masih memegang teguh tradisi. Sebagai pewaris spiritual Kyai Ageng Gribig, ia hidup di tengah kepungan hegemoni para warok, namun hatinya tengah retak.

Duka mendalam akibat wafatnya sang putri tercinta telah menenggelamkannya dalam lautan dzikir dan munajat malam. Namun, dalam tidur yang gelisah di antara air mata dan doa, sebuah wangsit datang dari gurunya: dua kesatria akan datang, membuka jalan dakwah, dan mendirikan negara.

Maka, ketika Raden Katong berdiri di hadapannya dan mengucapkan salam Islam, Kyai Mirah tersentak. Dialog yang terjadi di antara mereka kemudian bukan sekadar percakapan dua orang lelaki, melainkan sebuah kontrak politik yang puitis. Raden Katong, dengan kecerdasan seorang negarawan dan kedalaman seorang sufi, berujar lirih namun tajam:

“Jika boleh saya umpamakan, Kyai adalah mutiara yang bersinar, tetapi belum ditahtakan dalam cincin.”

Metafora ini mengguncang kesadaran. Mutiara adalah representasi spiritualitas yang murni, namun rapuh tanpa wadah. Cincin adalah negara, struktur kekuasaan yang melindungi. Islam tanpa negara adalah mutiara yang rawan hilang ditelan lumpur zaman; negara tanpa spiritualitas hanyalah cincin besi yang kosong melompong.

Kyai Mirah, sang mutiara, akhirnya bersedia ditahtakan. Ia menerima tawaran itu, mengikut Raden Katong menghadap Sultan Demak, membawa serta harapan akan lahirnya sebuah peradaban baru.

Kosmologi Warok: Tubuh, Hasrat, dan Kekuasaan

Namun, membangun “cincin” di tanah Wengker (nama kuno Ponorogo) bukanlah perkara membalik telapak tangan. Kyai Mirah membuka peta sosial yang kelam namun memukau: tanah ini berdiri di atas otot dan mantra para Warok.

Struktur sosial Ponorogo kala itu adalah sebuah tatanan pra-negara yang unik. Kekuasaan tidak terpusat pada istana, melainkan menyebar pada figur-figur demang sakti dan warok yang memimpin dengan hukum tak tertulis namun mutlak.

Harga diri adalah mata uang tertinggi. Ketersinggungan kecil dibayar nyawa, namun permintaan maaf yang tulus bisa mengubah musuh bebuyutan menjadi saudara sedarah. Ikatan mereka dikunci oleh sumpah sakral pada ibu pertiwi—sebuah garis yang digurat di tanah, dipijak bersama, menjadi ikrar kosmis yang tak boleh dikhianati.

Dunia warok, sebagaimana direkam secara telanjang dan jujur dalam Serat Centhini—ensiklopedia kebudayaan Jawa abad ke-19—adalah dunia yang kompleks. Warok bukan sekadar preman desa. Mereka hidup di persimpangan asketisme (tapa brata), kekuasaan tubuh, dan estetika.

Serat Centhini, melalui perjalanan tokoh Mas Cebolang ke Panaraga, memotret praktik gemblakan—hubungan antara warok dan pemuda-pemuda tampan—bukan sebagai penyimpangan moral semata, melainkan mekanisme pengelolaan energi kesaktian (kasekten) dan kapital sosial.

Dalam tatanan ini, tubuh bukanlah sekadar daging biologis, melainkan medium kekuasaan. Para warok menjadi patron seni; membiayai pertunjukan jatilan, reyog, dan tari gambyong. Seksualitas dan seni lebur menjadi bahasa kekuasaan yang halus.

Raden Katong menyadari satu hal krusial: menaklukkan Ponorogo tidak bisa hanya dengan pedang atau dalil fiqih. Ia harus memahami logika kekuasaan lokal ini. Negara baru tidak boleh memberangus total, melainkan harus melakukan negosiasi kultural yang canggih dengan dunia yang maskulin ini.

Setelah memetakan medan, trio pendiri bangsa ini—Katong, Selo Aji, Mirah—melapor ke Demak. Sultan Raden Patah menyambutnya dengan sukacita, menghadiahi emas dan pusaka. Namun, yang lebih berharga dari emas adalah “Sembilan Petuah Kepemimpinan” yang dititahkan Sultan.

Petuah ini adalah konstitusi moral bagi negara yang akan lahir. Raden Katong dilarang terjebak dalam adigang, adigung, adiguna (menyombongkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian). Ia harus memiliki budi bawa leksana, serta menjauhi molimo (lima larangan moral).

Demak tidak ingin menciptakan raja kecil yang tiran, melainkan pemimpin yang mengayomi tanpa memandang kasta. Ini adalah antitesis dari kekuasaan feodal lama yang sewenang-wenang.

Glagah Wangi: Mewarisi Hantu Majapahit

Perjalanan berlanjut ke timur Gunung Lawu, selatan Sungai Ketegan. Di sebuah hutan belantara yang beraroma harum bunga glagah, 40 kepala keluarga mulai membabat alas. Namun, tanah itu menolak. Wabah penyakit menyerang, rumah-rumah roboh tanpa sebab. Ini adalah penolakan gaib.

Raden Katong, Selo Aji, dan Kyai Mirah lantas menggelar ritual tirakat, membakar dupa, menembus batas dimensi. Dari asap dupa, muncullah Jayadrono—hantu bekas abdi Majapahit pembawa payung agung. Sosok ini adalah representasi masa lalu yang belum rela mati. Jayadrono kemudian memanggil adiknya, Jayadipo, yang masih hidup sebagai pertapa.

Dalam momen magis ini, terjadi penyerahan simbolik. Jayadipo diserahkan untuk membantu pembangunan kota. Pusaka Majapahit berupa Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Naga, dan Sabuk Cinde Puspita berpindah tangan.

Pesan sejarahnya jelas: Islam di Ponorogo tidak menghancurkan Majapahit, melainkan mewarisinya. Legitimasi Majapahit kini mengalir dalam darah negara baru bernama Pramanaraga.

Pramanaraga dan Benturan Dua Zaman

Di atas tanah berbentuk bathok mengkureb (tempurung telungkup), nama Pramanaraga diproklamirkan. Pramana berarti cahaya/kekuatan hidup, Raga adalah tubuh. Ini adalah konsep sinkretisme Jawa-Islam yang sempurna: persatuan cahaya ilahi dan wadah duniawi.

Raden Katong bergelar Bathoro Katong, Selo Aji menjadi Patih, dan Kyai Mirah menjadi Penghulu Agama. Tri Tunggal kepemimpinan terbentuk.

Namun, matahari kembar tak mungkin bersinar di satu langit. Kebangkitan Pramanaraga mengusik tidur para penguasa lama. Demang Honggolono, Suryongalam, dan terutama Ki Ageng Kutu (Ki Demang Kutu) dari Surukubeng, melihat keramaian Pasar Ponorogo sebagai lonceng kematian bagi kekuasaan mereka. Ekonomi bergeser, loyalitas rakyat berpindah.

Konflik memuncak di Watu Doyong. Sebuah pertemuan elite berakhir dengan tewasnya Ki Honggolono. Darah tertumpah. Diplomasi buntu. Perang terbuka tak terelakkan. Para demang lama menghitung hari pasaran, memilih Jumat Wage sebagai hari nuju pati untuk menggempur pusat kota baru.

Bathoro Katong bertahan di masjid—simbol pusat kosmis baru. Patih Selo Aji memimpin barisan fisik. Dalam pertempuran itu, Tombak Tunggul Naga bukan sekadar senjata, melainkan manifestasi wahyu. Kuda Ki Demang Kutu terjerembap ketakutan. Serangan fisik gagal total. Wahyu kekuasaan telah benar-benar berpindah.

Siasat Cinta dan Runtuhnya Surukubeng

Menyadari kekuatan fisik Ki Demang Kutu yang dilindungi baju zirah Koro Welang, Bathoro Katong mengubah strategi. Ia memainkan kartu telik sandi (intelijen). Nawangsari, seorang emban cerdas, disusupkan. Melalui Nawangsari, Bathoro Katong menembus benteng paling rahasia: hati putri musuh, Niken Gandini.

Pertemuan di Tamansari Surukubeng adalah adegan dramatis yang menentukan sejarah. Niken Gandini, sang putri yang digambarkan gagah bak Srikandi, menghunus keris saat memergoki penyusup. Namun, Bathoro Katong tidak melawan dengan kekerasan, melainkan dengan tutur lembut seorang satria pinandhita. Hati Niken Gandini luluh. Ia menyerahkan rahasia kelemahan ayahnya.

Ini bukan sekadar kisah asmara, melainkan alegori politik: generasi muda dari rezim lama (Niken Gandini) memilih meninggalkan ortodoksi ayahnya demi masa depan yang ditawarkan tatanan baru (Islam/Ponorogo).

Dengan bekal rahasia itu, Ki Demang Kutu terdesak. Pengejaran panjang berakhir di Gunung Dloka. Sang Demang moksa—hilang raganya—masuk ke dimensi lain di bawah kekuasaan Nyi Korek. Hilangnya Ki Demang Kutu menandai berakhirnya era lama secara definitif.

Ponorogo akhirnya berdiri tegak. Bukan sebagai hasil sulap semalam, melainkan bangunan yang disusun dari bata-bata sejarah yang direkatkan oleh darah, doa, dan diplomasi tingkat tinggi. Islam berkembang menjadi identitas, namun “Jawa” tidak dibuang. Warok tetap ada, namun energinya dikanalisasi menjadi penjaga moral dan seni, bukan lagi ancaman bagi negara.

Hari ini, ketika kita menatap Ponorogo, kita sesungguhnya sedang membaca sebuah palimpsest—naskah sejarah yang bertumpuk-tumpuk. Di sana ada jejak tasawuf Kyai Mirah, ada keberanian militer Selo Aji, ada visi kenegaraan Bathoro Katong, dan ada bayang-bayang Ki Demang Kutu yang tak pernah benar-benar pergi.

Sejarah Ponorogo mengajarkan kita satu hal abadi: bahwa sebuah negara tidak pernah didirikan di ruang hampa. Ia adalah hasil kompromi yang menyakitkan sekaligus indah antara masa lalu yang enggan mati dan masa depan yang memaksa lahir.

Referensi:

  1. Purwowijoyo. (1985). Babad Ponorogo: I – Wewengkon Wengker Tumeka Praja Ponorogo. Ponorogo: Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo.
  2. Ranggasutrasna, R. Ng., dkk. (Disunting oleh Karkono Kamajaya). (1986). Serat Centhini: Suluk Tambangraras. Yogyakarta: Yayasan Centhini.
  3. Onghokham. (2002). Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara. Jakarta: Kompas.
  4. Graaf, H.J. de & Pigeaud, Th.G.Th. (1985). Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Jakarta: Grafiti Pers.
  1. Kurnianto, Rido. (2017). Seni Reog Ponorogo: Sejarah, Nilai, dan Dinamika. Yogyakarta: Buku Litera.
  2. Wessing, Robert. (2006). “Symbolic Animals in the Land between the Waters: Markers of Place and Transition.” Anthropos.
  3. Fauzi, M. (Iain Ponorogo). (2019). “Islamisasi Ponorogo: Menelusuri Jejak Bathoro Katong.” Jurnal Tamaddun.
  1. Arsip & Narasi Juru Kunci Makam Bathoro Katong (Setono).
  2. Prasasti & Situs di Ponorogo