Ratusan pakar anak mendesak YouTube menghapus AI slop dari platform YouTube Kids. Konten AI massal ini dinilai merusak kognitif dan realitas anak.
INDONESIAONLINE – Layar sabak digital atau tablet menyala terang di tangan seorang balita. Di layar tersebut, karakter kartun dengan bentuk proporsi tubuh yang aneh, warna-warna neon yang menyilaukan mata, dan alur cerita yang melompat-lompat tanpa logika sedang bernyanyi dengan suara sintetis yang kaku.
Bagi orang tua yang sibuk, tontonan di aplikasi YouTube Kids ini mungkin dianggap sebagai “pengasuh digital” yang aman. Namun, bagi ratusan pakar perkembangan anak di seluruh dunia, layar tersebut adalah medan eksperimen psikologis yang sangat berbahaya.
Platform YouTube Kids, yang sejak awal dirancang dan dipasarkan sebagai benteng perlindungan tontonan ramah anak, kini tengah berada di pusaran badai kritik. Lebih dari 200 dokter spesialis anak, psikiater, kelompok advokasi, sekolah, hingga pakar pendidikan melayangkan desakan keras kepada raksasa teknologi Google dan YouTube. Target kemarahan mereka mengerucut pada satu fenomena baru yang meresahkan: AI slop.
AI slop adalah istilah peyoratif yang merujuk pada konten video hasil buatan kecerdasan buatan (AI) yang diproduksi secara massal, berkualitas sangat rendah, minim nilai edukasi, dan hanya dirancang untuk memanipulasi algoritma agar terus ditonton. Desakan dari para ahli ini dituangkan dalam sebuah surat terbuka yang ditujukan langsung kepada pucuk pimpinan perusahaan, yakni CEO Google Sundar Pichai dan CEO YouTube Neal Mohan.
Seruan Penyelamatan dari Ancaman ‘Junk Food’ Digital
Kelompok advokasi perlindungan anak, Fairplay, berdiri di garis depan dalam kampanye penolakan ini. Dalam surat terbuka yang dirilis awal bulan ini, koalisi tersebut meminta Google untuk segera menghapus seluruh video berbasis AI yang menargetkan anak-anak dari ekosistem YouTube, khususnya YouTube Kids. Mereka menuntut agar algoritma berhenti merekomendasikan tontonan nirfaedah tersebut kepada audiens di bawah umur.
“Mengingat tidak adanya bukti ilmiah bahwa konten AI slop aman bagi anak-anak, ditambah dengan potensi video-video ini untuk memikat dan membahayakan psikologis mereka, Google harus segera mengambil tindakan tegas. Ini adalah soal melindungi anak-anak di platform mereka sendiri,” tegas perwakilan Fairplay dalam surat yang dikutip dari Mashable (5/4/2026).
Kekhawatiran para ahli ini bukan tanpa dasar. Dalam kajian psikologi perkembangan, usia 0 hingga 5 tahun adalah periode emas (golden age) di mana otak anak sedang membangun fondasi pemahaman tentang dunia nyata, logika sebab-akibat, serta empati sosial. AI slop menabrak semua kaidah perkembangan tersebut.
Video yang diproduksi oleh kecerdasan buatan generatif sering kali menghasilkan anomali visual—seperti karakter dengan enam jari, objek yang tiba-tiba berubah bentuk, atau hukum fisika yang berantakan.
“AI slop ini merugikan perkembangan kognitif anak-anak dengan mendistorsi rasa realitas mereka. Konten ini membanjiri proses belajar alami dan membajak rentang perhatian mereka secara agresif,” imbuh kelompok advokasi tersebut seperti dilansir AP News.
Eksperimen Massal yang Tidak Terkontrol
Salah satu tudingan paling tajam dalam surat tersebut adalah bahwa YouTube secara sadar sedang melakukan eksperimen massal yang tidak terkontrol terhadap generasi termuda kita. Laporan dari Bloomberg menggarisbawahi bahwa para pakar menuduh YouTube terus mendorong miliaran tayangan konten AI kepada anak-anak tanpa adanya kajian akademis atau penelitian klinis yang membuktikan bahwa konten tersebut aman.
“YouTube secara aktif berpartisipasi dalam eksperimen yang tidak terkontrol ini dengan mempromosikan konten buatan AI tanpa riset yang mendemonstrasikan manfaat edukatifnya,” bunyi kutipan surat tersebut.
Jika kita merujuk pada data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Academy of Pediatrics (AAP), anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak terpapar layar digital sama sekali, sementara anak usia 2 hingga 5 tahun dibatasi maksimal satu jam per hari dengan tontonan yang berkualitas tinggi dan didampingi orang tua.
Fakta di lapangan berbicara lain. Berdasarkan riset Common Sense Media, rata-rata anak usia di bawah 8 tahun menghabiskan waktu hampir 2,5 jam per hari di depan layar, dengan YouTube sebagai platform favorit.
Ketika waktu layar (screen time) yang sangat berharga ini justru diisi oleh AI slop—video yang dibuat secara otomatis oleh mesin dalam hitungan detik semata-mata untuk mendulang klik (clickbait) dan pendapatan iklan—anak-anak dirugikan secara masif.
Algoritma YouTube yang mendeteksi bahwa warna cerah dan suara repetitif dapat menahan anak di depan layar, akan terus memutar video serupa tanpa henti (dopamin loop). Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan anak untuk bermain di luar ruangan, tidur yang cukup, belajar motorik kasar, dan berinteraksi sosial dengan orang tua, hangus ditelan layar.
Lima Tuntutan Krusial untuk Google dan YouTube
Menyadari bahaya yang mengintai, kelompok advokasi dan para pakar medis tidak sekadar melontarkan kritik, melainkan mengajukan petisi publik dengan sejumlah tuntutan yang jelas dan terukur. Tuntutan tersebut meliputi:
- Pelabelan Transparan: YouTube diwajibkan memberi label “Dibuat dengan AI” secara besar dan jelas pada semua konten terkait, agar orang tua menyadari apa yang ditonton anaknya.
- Larangan Penuh di YouTube Kids: Melarang total keberadaan konten buatan AI di platform YouTube Kids dan mencabut status Made for Kids pada video reguler yang diproduksi oleh AI.
- Penghentian Algoritma: Menuntut algoritma YouTube untuk berhenti merekomendasikan video AI kepada pengguna yang teridentifikasi berusia di bawah 18 tahun.
- Kendali Orang Tua: Menyediakan tombol atau fitur khusus yang mudah diakses bagi orang tua untuk memblokir seluruh tontonan berbasis AI dari akun anak mereka.
- Setop Pendanaan: Meminta raksasa teknologi tersebut menghentikan segala bentuk investasi dan pendanaan pada studio atau perusahaan yang memproduksi video AI untuk anak-anak.
Langkah-langkah di atas dinilai sebagai rem darurat yang paling rasional untuk menghentikan eksploitasi kognitif anak demi metrik engagement dan uang iklan.
Jawaban YouTube dan Ironi Investasi Jutaan Dolar
Merespons gelombang protes besar-besaran ini, pihak YouTube tidak tinggal diam. Mereka mencoba meredakan situasi dengan mengeluarkan pernyataan defensif. Juru bicara YouTube menyatakan bahwa platformnya telah membatasi penyebaran konten AI di aplikasi YouTube Kids. Mereka mengklaim bahwa video buatan AI hanya diizinkan tayang melalui segelintir kanal yang telah melewati proses verifikasi ketat.
Lebih lanjut, YouTube berdalih telah menerapkan kebijakan baru yang mewajibkan para kreator untuk mencentang kotak penanda jika video yang mereka unggah dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan generatif.
“Sistem kami telah dirancang secara berlapis untuk mendeteksi dan menghukum konten spam atau video yang diproduksi secara massal tanpa memberikan nilai tambah,” klaim perwakilan YouTube.
Namun, bagi koalisi 200 pakar, langkah moderasi tersebut dianggap terlalu lemah, lambat, dan penuh celah. Pembatasan yang diklaim YouTube dinilai tidak sebanding dengan kecepatan mesin AI memproduksi puluhan ribu video per hari yang siap membombardir beranda aplikasi anak-anak.
Kritik terhadap YouTube dan Google semakin tajam ketika publik dihadapkan pada fakta yang kontradiktif. Di tengah narasi perusahaan yang mengklaim melindungi anak, Google baru-baru ini justru diketahui menggelontorkan dana investasi sebesar US$ 1 juta (sekitar Rp 15,5 miliar) kepada Animaj, sebuah studio animasi yang sepenuhnya digerakkan oleh AI.
Studio Animaj secara terang-terangan berfokus pada produksi video YouTube yang menargetkan demografi anak-anak. Melalui efisiensi produksi AI, studio ini telah berhasil mengumpulkan miliaran penayangan lintas kanal. Ironi ini memperlihatkan adanya standar ganda; di satu sisi YouTube berjanji membatasi AI slop, namun di sisi lain induk perusahaannya justru mendanai pabrik pembuat konten AI tersebut.
Pada akhirnya, polemik AI slop di YouTube Kids membuka mata kita tentang realitas kelam industri hiburan digital abad ke-21. Di saat teknologi AI berkembang dengan kecepatan cahaya, regulasi perlindungan anak masih berjalan merangkak.
Selama model bisnis perusahaan teknologi masih bertumpu pada berapa lama mata manusia—termasuk mata mungil anak-anak kita—terpaku pada layar, maka konten murahan tanpa jiwa akan terus diproduksi. Kini, keputusan ada di tangan Google: apakah mereka akan mendengarkan jeritan ratusan pakar anak, atau terus membiarkan algoritma meraup untung dari kepolosan masa kecil.
