Pasir Putih Situbondo catat surplus Rp1,8 miliar pada 2025 usai perombakan. Mas Rio bidik modernisasi dan investasi swasta untuk pengembangan wisata.
INDONESIAONLINE – Di tepian Jalan Raya Pantura yang legendaris, Pantai Pasir Putih Situbondo bukan sekadar destinasi liburan; ia adalah barometer ekonomi pariwisata di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur. Setelah sempat mengalami stagnasi dan fluktuasi manajemen di awal tahun, ikon pariwisata ini menutup tahun buku 2025 dengan catatan emas.
Di bawah kepemimpinan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo—atau yang akrab disapa Mas Rio—sebuah eksperimen birokrasi yang berani telah dilakukan. Perombakan total manajemen yang dimulai pada pertengahan 2025 kini terbukti bukan sekadar retorika politik, melainkan langkah strategis yang menghasilkan surplus miliaran rupiah.
Laporan keuangan terbaru yang dirilis pada Senin (5/1/2026) menjadi bukti empiris kebangkitan tersebut. Namun, di balik angka-angka yang hijau, tersimpan narasi yang lebih besar tentang bagaimana pemerintah daerah menyeimbangkan profitabilitas, pelestarian aset publik, dan rencana besar modernisasi yang melibatkan sektor swasta.
Anatomi Kebangkitan Ekonomi: Bedah Data 2025
Data berbicara lebih lantang daripada janji kampanye. Mas Rio mengungkapkan bahwa periode krusial pemulihan terjadi pada semester kedua, tepatnya lima bulan terakhir tahun 2025 (Agustus-Desember). Pada fase ini, manajemen baru diuji untuk membalikkan keadaan pasca-fluktuasi awal tahun.
Berdasarkan dokumen laporan pendapatan yang diterima redaksi, total pemasukan Wisata Pantai Pasir Putih pada periode Agustus hingga Desember 2025 menembus angka Rp1.729.545.000. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan periode apple-to-apple pada tahun 2024 yang hanya membukukan Rp1.453.379.000.
Artinya, terdapat suntikan dana segar—atau growth revenue—sebesar Rp276.166.000 hanya dalam kurun waktu kurang dari setengah tahun.
“Kalau kita bicara berdasarkan data, sejak Agustus sampai Desember 2025 setelah dilakukan perombakan, pengelolaan Pantai Pasir Putih itu berjalan baik dan hasilnya terlihat. Pendapatannya naik,” tegas Mas Rio saat ditemui usai evaluasi kinerja awal tahun, Senin (5/1/2026).
Secara akumulatif, performa tahunan 2025 pun mencatatkan kesehatan finansial yang prima. Total pendapatan setahun mencapai Rp3.780.368.153. Dengan biaya operasional yang ditekan efisien di angka Rp1.952.260.915, Perusahaan Daerah (Perusda) yang mengelola kawasan ini berhasil membukukan surplus bersih atau laba operasional sebesar Rp1.828.107.238.
Angka surplus Rp1,8 miliar ini bukan jumlah yang kecil bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) di sektor pariwisata tingkat kabupaten. Sebagai pembanding data tervalidasi, rata-rata kontribusi objek wisata pantai yang dikelola Pemda di wilayah Jawa Timur (selain Bali) seringkali tergerus oleh biaya pemeliharaan yang tinggi.
Kemampuan Pasir Putih mencetak surplus hampir 50% dari total pendapatan menunjukkan efisiensi tata kelola yang patut menjadi studi kasus.
Perombakan Manajemen: Kunci Stabilitas
Keberhasilan ini tidak terjadi secara instan. Mas Rio mengakui adanya turbulensi di awal 2025. Fluktuasi pendapatan sempat terjadi, yang disinyalir akibat transisi sistem dan kebocoran-kebocoran kecil dalam manajemen tiket maupun parkir—masalah klasik dalam pengelolaan wisata daerah.
Langkah “perombakan” yang disebut Mas Rio mencakup restrukturisasi sumber daya manusia (SDM) dan kemungkinan besar digitalisasi sistem pendapatan yang menutup celah kebocoran anggaran.
Stabilitas pengelolaan inilah yang kemudian mengembalikan kepercayaan publik. Wisatawan kembali merasa nyaman dengan pelayanan yang lebih terstandarisasi, kebersihan pantai yang terjaga, dan transparansi tarif.
“Keberhasilan tersebut tidak hanya dilihat dari angka pendapatan, tetapi juga dari stabilitas pengelolaan dan kepercayaan publik. Kalau dilihat secara menyeluruh, pengelolaan Pantai Pasir Putih ini terbukti menghasilkan,” imbuh Bupati muda yang visioner tersebut.
Menatap Masa Depan: Modernisasi dan Pintu Swasta
Surplus Rp1,8 miliar hanyalah “modal awal”. Dalam peta jalan (roadmap) pariwisata Situbondo 2026-2030, Mas Rio menyadari bahwa mengandalkan pesona alam semata tidak lagi cukup. Pasir Putih Situbondo menghadapi tantangan eksternal yang nyata: kehadiran Tol Probowangi (Probolinggo-Banyuwangi) yang diprediksi mengubah pola pergerakan wisatawan. Jika tidak berbenah, Situbondo hanya akan menjadi kota lintasan, bukan tujuan.
Oleh karena itu, Mas Rio membuka wacana yang cukup progresif: modernisasi melalui kemitraan strategis dengan swasta.
“Kalau sekarang saja dalam lima bulan bisa menunjukkan hasil positif, ke depan tentu masih bisa dimodernisasi. Apalagi jika ada swasta yang masuk dengan konsep profesional,” ungkapnya.
Pernyataan ini menarik garis tegas antara “privatisasi aset” dan “kerjasama pengelolaan”. Mas Rio menjamin bahwa Pasir Putih tidak akan dijual. Skema yang ditawarkan kemungkinan besar adalah Public-Private Partnership (PPP) atau Bangun Guna Serah (BGS), di mana investor menyuntikkan modal untuk wahana baru, resort berstandar internasional, atau fasilitas water sport, namun aset tanah tetap milik pemerintah daerah.
Prinsip Kehati-hatian dan Keberlanjutan
Masuknya investor swasta seringkali memicu kekhawatiran tentang marjinalisasi warga lokal dan kerusakan lingkungan. Menjawab hal ini, Mas Rio menetapkan pagar-pagar kebijakan yang ketat.
“Kita tidak ingin hanya mengejar keuntungan sesaat. Prinsipnya, Pantai Pasir Putih harus tetap menjadi milik masyarakat Situbondo, tetapi dikelola dengan standar yang lebih modern dan profesional,” tegasnya.
Setiap rencana investasi akan melalui kajian komprehensif (feasibility study) yang tidak hanya menghitung ROI (Return on Investment), tetapi juga AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dan dampak sosial. Mengingat Pasir Putih memiliki gugusan terumbu karang yang rentan, aspek sustainability atau keberlanjutan menjadi harga mati. Wisata massal (mass tourism) harus perlahan digeser menuju wisata berkualitas (quality tourism) yang menghargai alam.
Tahun 2026 menjadi tahun pertaruhan bagi Mas Rio dan jajarannya. Surplus yang diraih pada 2025 adalah validasi bahwa Situbondo memiliki potensi raksasa yang selama ini “tertidur” karena manajemen konvensional.
Dengan pendapatan nyaris Rp3,8 miliar per tahun, Pasir Putih membuktikan diri sebagai “sapi perah” yang sehat bagi PAD Situbondo. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah surplus tersebut menjadi reinvestasi yang mempercantik wajah pantai tanpa menghilangkan jiwa kerakyatannya.
Jika modernisasi dan kemitraan swasta ini berhasil dieksekusi dengan transparan, Pasir Putih Situbondo berpotensi tidak hanya menjadi legenda masa lalu jalur Pantura, tetapi menjadi destinasi wisata bahari kelas dunia di masa depan. Bola kini ada di tangan pemerintah daerah untuk menjaga momentum positif ini agar tidak kembali surut seperti ombak di sore hari.
