Ribuan Nahdliyin putihkan Malang di 1 Abad NU. Hujan tak surutkan doa untuk negeri dan Palestina. Simak pesan Gus Kikin dan Rais Aam jelang abad kedua.
INDONESIAONLINE – Langit Kota Malang pada Minggu (8/2/2026) dini hari seolah turut larut dalam keharuan. Rintik hujan yang mengguyur kawasan Stadion Gajayana bukan menjadi penghalang, melainkan penyambut bagi ribuan langkah kaki yang bergerak dalam satu irama spiritual. Mereka datang dari pelosok desa, dari hiruk-pikuk kota, membawa serta lelah yang dilebur dalam niat suci: Mujahadah Kubro Peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU).
Stadion yang biasanya bergemuruh oleh sorak-sorai suporter sepak bola itu, hari ini bergetar oleh lantunan zikir dan selawat. Lautan manusia berbaju putih mengubah tribun dan lapangan rumput menjadi hamparan sajadah raksasa. Ini bukan sekadar perayaan seremonial kalender, melainkan sebuah pernyataan eksistensi dan konsolidasi batin organisasi Islam terbesar di dunia tersebut.
Ketahanan di Tengah Derasnya Zaman (dan Hujan)
Pukul 02.00 WIB, saat sebagian besar warga kota masih terlelap, ribuan jamaah—yang akrab disapa Nahdliyin—sudah bersiaga. Hujan yang turun sempat membuat genangan kecil di beberapa sudut, namun tak satu pun barisan yang bubar. Pemandangan ini menjadi potret mikro dari karakter NU itu sendiri: adaptif, tangguh, dan militan dalam kesenyapan.
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, menangkap fenomena sosiologis ini dengan jeli. Di hadapan lautan jamaah dan tamu kehormatan, termasuk Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Gus Kikin tidak berbicara tentang statistik, melainkan tentang “rasa”.
“Terima kasih kepada seluruh warga NU se-Jawa Timur yang telah hadir bersusah payah dengan segala ikhtiar, dengan lelehan keringat, tenaga, dan biaya dengan penuh keikhlasan dan tiba di Kota Malang yang indah ini,” ucap Gus Kikin dengan suara bergetar, menyiratkan kebanggaan sekaligus keharuan.
Data historis mencatat, NU didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Peringatan di tahun 2026 ini menandai genapnya 100 tahun perjalanan organisasi tersebut dalam hitungan kalender Masehi (setelah sebelumnya peringatan 1 Abad Hijriah digelar meriah di Sidoarjo pada 2023).
Bertahannya sebuah organisasi massa berbasis keagamaan selama satu abad penuh di tengah turbulensi politik Indonesia—mulai dari era kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi—adalah anomali yang menakjubkan dalam studi pergerakan sosial.
Manis bagi yang Baik, Sesak bagi yang Jahat
Dalam pidatonya, Gus Kikin menyelipkan pesan filosofis yang dikutip dari pendiri NU, Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari. Kalimat ini bukan sekadar retorika, melainkan khittah (garis perjuangan) moral.
“Organisasi ini terasa manis bagi orang yang baik, tapi terasa sesak di tenggorokan orang yang jahat,” tegas Gus Kikin.
Kutipan ini relevan di tengah dinamika sosial-politik Indonesia yang kian kompleks. Dengan basis massa yang menurut survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mencakup lebih dari 50% populasi Muslim Indonesia (sekitar 100-150 juta orang), NU memegang peran sebagai bandul stabilitas nasional. Gus Kikin menyadari, memasuki abad kedua, tantangan bukan lagi sekadar fisik, melainkan ideologis dan teknologis.
“Kami menyadari memasuki abad ke-2 NU, menjalankan peran sebagai penjaga tradisi dan peneguh NKRI bukan hal ringan,” tambahnya. Transformasi digital, pergeseran nilai di kalangan Gen-Z, hingga polarisasi politik adalah “ombak” baru yang harus diarungi kapal besar bernama NU ini.
Jika Gus Kikin berbicara tentang fondasi organisasi, maka Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, membawa jamaah menembus batas geografis melalui kekuatan doa.
Dalam teologi NU, Mujahadah bukan sekadar doa bersama, melainkan perjuangan sungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah untuk memohon pertolongan. Kiai Miftach, sapaan akrabnya, mengarahkan energi spiritual jutaan jamaah itu untuk dua hal krusial: keselamatan bangsa dan perdamaian dunia.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di tengah acara menjadi simbol sinergi antara Umara (pemerintah) dan Ulama. “Dalam melaksanakan tugas kenegaraan, semoga dengan sikap tegas dan kesetiaan mendampingi umat, rakyat Indonesia dimudahkan oleh Allah,” doa Kiai Miftach, yang diamini serentak hingga menggetarkan dinding stadion.
Namun, momen paling emosional terjadi ketika sang Kiai menyinggung tragedi kemanusiaan yang tak kunjung usai di Timur Tengah. Di tengah kenyamanan dan kedamaian Malang, warga NU tidak melupakan saudara mereka di Palestina.
“Sebagai solusi untuk lepas dari segala hal yang tidak menyenangkan, seperti musibah yang sedang melanda saudara kita, termasuk saudara kita di Palestina, semoga semuanya mendapatkan yang terbaik. Al-Fatihah,” ucapnya lirih namun tegas.
Doa ini menegaskan prinsip Ukhuwah Bashariyah (persaudaraan sesama umat manusia) yang dianut NU. Data dari PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan internasional menunjukkan kondisi di Palestina yang kian memburuk pada tahun-tahun terakhir, membuat solidaritas moral dari komunitas Muslim terbesar di dunia seperti NU menjadi sangat bermakna secara psikologis dan diplomatik.
Menjelang matahari terbit, saat rangkaian acara usai, wajah-wajah lelah para jamaah tampak berseri. Sampah-sampah sisa makanan dan alas duduk mulai dibersihkan secara mandiri—sebuah etos baru yang mulai tumbuh di kalangan santri.
Peringatan 1 Abad NU di Malang hari ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri. Bahwa di tengah ancaman disintegrasi dan krisis global, masih ada jutaan orang yang rela bangun tengah malam, menembus hujan, hanya untuk mendoakan negerinya tetap utuh dan dunia menjadi lebih damai.
Mujahadah Kubro ini bukan akhir dari perayaan, melainkan titik awal (kick-off) bagi NU untuk membuktikan tesisnya: bahwa Islam, Tradisi, dan Modernitas bisa berjalan beriringan dalam harmoni, membawa rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil Alamin). Dan di Stadion Gajayana, sejarah itu ditulis ulang dengan tinta air mata dan keringat ketulusan (ir/dnv).
