Semifinal Piala Dunia 2026: Bayang-bayang Perang Malvinas

Perang Malvinas antara Inggris dan Argentina kembali menyala dalam ingatan dengan akan berlaganya kedua tim di Piala Dunia 2026 (Ist)

Argentina vs Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 memunculkan memori Perang Malvinas 1982. Sengketa Falkland kembali menyala.

INDONESIAONLINE – Semifinal Piala Dunia 2026 di Amerika Utara bukan sekadar perebutan tiket final. Ketika Argentina yang digawangi Lionel Messi menghadapi Inggris—usai menumbangkan Swiss 3-1 dan The Three Lions menekuk Norwegia 2-1—lapangan hijau mendadak menyimpan bom waktu sejarah. Ini adalah episode terbaru dari rivalitas yang sejak 1982 selalu dibayangi senjata dan bendera.

Bagi Argentina dan negara berbahasa Spanyol, Kepulauan Falkland tetaplah “Malvinas”. Letaknya 480 km dari pantai Argentina, namun sejak 1833 dikendalikan London sebagai wilayah seberang laut. Sebaliknya, Buenos Aires merasa pulau itu bagian dari kedaulatan mereka pasca-lepas dari Spanyol 1816.

“Argentina menganggap Inggris sebagai pemicu awal konflik. Inggris dinilai merebut pulau tersebut secara paksa pada 1833 dan mengusir penduduk Argentina dari sana,” catat sejarah resmi yang kerap diulang di setiap momen benturan kedua negara.

Dalam konteks 2026, bentrokan ini makin terasa politis. Dunia sedang terbelah oleh ketegangan AS-Israel vs Iran dan eskalasi Rusia-Ukraina. Namun, bagi warga Amerika Latin, gengsi Malvinas tak pernah pudar meski PBB sudah mengeluarkan resolusi 1965 dan 1973 yang gagal menemui titik temu.

Ketika Junta Militer Berakhir di Lautan

Perang Malvinas (Falklands War) digulirkan oleh rezim junta Jenderal Leopoldo Galtieri pada 2 April 1982. Pasukan komando Argentina menurunkan Union Jack di Stanley dan mengibarkan bendera sendiri. Respons Margaret Thatcher cepat: armada laut menempuh 13.000 km ke Atlantik Selatan.

Pertempuran 74 hari itu brutal. Kapal selam Inggris menenggelamkan krusier Argentina (323 jiwa tewas), sementara jet tempur Argentina membalas dengan rudal yang menenggelamkan beberapa fregat Britania. Pada 14 Juni 1982, Argentina menyerah tanpa syarat.

Data resmi mencatat: 655 prajurit Argentina dan 255 tentara Inggris gugur, plus 3 warga sipil. Kekalahan ini menghancurkan junta militer dan memulihkan demokrasi Argentina 1983. Di Inggris, kemenangan mendongkrak popularitas Thatcher hingga terpilih kembali.

Hingga hari ini, status Pulau Falkland dan dependensinya (Georgia Selatan, Sandwich Selatan) tetap British Overseas Territory menurut otoritas setempat. Sementara Argentina, dari rezim ke rezim, tak pernah mencabut klaim: Malvinas adalah bagian tak terpisahkan dari mereka.

Di ranah sepak bola, memori 1986 sangat hidup. Gol “Tangan Tuhan” Maradona adalah alegori balas dendam sipil atas kekalahan militer. Kini, di Piala Dunia 2026, tensi serupa membuncah. Jika Messi dkk. menang, itu akan jadi pelunasan simbolis di tengah dunia yang sedang tidak stabil.

Inggris menegaskan penguasaan damai sejak 1833 dan menilai aksi 1982 sebagai agresi ilegal. Namun, bagi publik Argentina, menjebol gawang Inggris adalah cara paling elegan untuk “merebut kembali” apa yang tak tuntas di laut dulu.

Pertandingan nanti bukan cuma soal siapa juara dunia. Ini soal harga diri dua bangsa yang masih menyimpan luka 40 tahun lalu. Saat wasit meniup peluit, seluruh Atlantik Selatan seolah ikut menonton di tribune politk dunia.