INDONESIAONLINE – Kemenangan dramatis Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 diwarnai kontroversi. Selebrasi sejumlah pemain Tim Tango yang membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas Son Argentina” atau “Malvinas adalah Argentina” berpotensi berbuntut penyelidikan dari FIFA.
Argentina memastikan tiket ke final setelah menundukkan Inggris dengan skor 2-1. Tim asuhan Lionel Scaloni itu membalikkan keadaan melalui gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez yang tercipta dalam 10 menit terakhir pertandingan.
Keberhasilan tersebut membuat Argentina berpeluang menyamai rekor Brasil sebagai negara terakhir yang mampu mempertahankan gelar juara Piala Dunia secara beruntun, yakni pada edisi 1958 dan 1962.
Euforia kemenangan pun pecah di kubu Argentina, terlebih lawan yang dikalahkan adalah Inggris, negara yang memiliki sejarah panjang perselisihan politik dengan Argentina di luar lapangan hijau.
Ketegangan mengenai Kepulauan Falkland atau Malvinas bahkan sudah menjadi sorotan sejak sebelum pertandingan dimulai. Kedua negara terlibat konflik bersenjata pada 1982 setelah Inggris, yang menguasai wilayah tersebut, memenangkan perang melawan Argentina.
Hingga kini pemerintah Argentina tetap mengklaim Kepulauan Falkland sebagai bagian dari wilayahnya, meski referendum pada 2013 menunjukkan mayoritas penduduk di sana memilih tetap berada di bawah kedaulatan Inggris.
Sebelum laga berlangsung, sentimen nasionalisme juga sempat disampaikan Wakil Presiden Argentina Victoria Villarruel. Karena itu, kemenangan atas Inggris dinilai memiliki makna yang lebih besar bagi sebagian masyarakat Argentina.
Seusai pertandingan, Giovani Lo Celso terlihat membawa spanduk bertuliskan “Las Malvinas Son Argentina” dan membentangkannya di hadapan tribun pendukung Argentina. Aksi tersebut kemudian diikuti beberapa rekan setimnya, termasuk Lionel Messi, Cristian Romero, dan Lautaro Martinez. Tak lama kemudian, Nicolas Otamendi meminta Lo Celso menurunkan spanduk tersebut ke lapangan.
Momen itu segera menjadi perbincangan luas dan berpotensi menarik perhatian FIFA. Berdasarkan Laws of the Game, atribut atau pesan bermuatan politik tidak diperbolehkan ditampilkan dalam pertandingan resmi sehingga tindakan tersebut bisa menjadi objek penyelidikan apabila dilaporkan oleh perangkat pertandingan.
Media The Athletic melaporkan telah meminta tanggapan dari FIFA maupun Federasi Sepak Bola Argentina (AFA). Namun hingga kini belum ada respons dari kedua pihak.
Sebagai catatan, Argentina pernah dijatuhi denda sebesar 20 ribu dolar AS pada 2014 akibat insiden serupa yang melibatkan spanduk bertema Malvinas. (hsa/hel)







