INDONESIAONLINE – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menutup sebanyak 1.300 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi dapur penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penutupan dilakukan karena dapur-dapur tersebut dinilai belum mampu memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah.
Dalam tiga pekan sejak menjabat sebagai kepala BGN, Sudaryono menyebut telah menutup sekitar 800 SPPG, kemudian disusul 500 dapur lainnya. Dengan demikian, total SPPG yang ditutup mencapai 1.300 unit.
“Kalau nggak bisa diperbaiki, kita tutup permanen. Jadi, sudah saya sudah menutup mungkin 800, tambah kemarin saya sudah menutup 500. Jadi, sudah 1.300 saya tutup selama tiga minggu saya jadi kepala,” ujarnya.
Sudaryono menegaskan, penutupan dilakukan tanpa melihat siapa pihak yang mengelola SPPG. Menurut dia, setiap dapur wajib memenuhi standar sistem yang telah ditetapkan BGN.
Ia bahkan memastikan SPPG yang tidak memenuhi ketentuan dapat ditutup secara permanen. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya persoalan yang dapat membahayakan penerima manfaat program MBG.
“Saya nggak peduli itu SPPG-nya misalnya apa punya siapa, saya nggak lihat, saya lihat sistem. Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen,” tegasnya.
Sudaryono mengatakan, pengawasan dan pengetatan terhadap kinerja SPPG akan terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG. Meski masih ditemukan kasus keracunan, BGN akan mengevaluasi dan mempelajari pola kerja SPPG yang dinilai berhasil menjaga kualitas makanan.
Menurut Sudaryono, saat ini terdapat sekitar 27.000 SPPG yang dinilai telah menjalankan tugas dengan baik. Ia mencontohkan SPPG yang dikelola Bhayangkari Polri. Dapur tersebut menggunakan alat uji atau test kit dalam pengawasan makanan dan, menurut Sudaryono, hingga kini tidak ditemukan kasus keracunan.
“Jadi, kita belajar dari keberhasilan SPPG, beberapa SPPG. Zalah satunya adalah SPPG yang dikelola Bhayangkari dari Polri. Itu menggunakan test kit dan sampai saat ini tidak ada satu kasus pun keracunan,” pungkasnya. (rds/hel)
