INDONESIAONLINE – Banyak daerah di Pulau Jawa diselimuti udara yang jauh lebih dingin dibanding biasanya. Suhu yang menusuk tulang terutama terjadi saat malam hingga menjelang pagi.
Bahkan menurut data BMKG Iklim pada Selasa (28/7/2026), suhu minimum di Jawa Timur tembus 5,3 derajat celcius, tepatnya di kawasan wisata Gunung Bromo.
Lantas sejumlah warganet mengeluhkan dinginnya udara yang membuat aktivitas pagi menjadi kurang nyaman. Ada yang mengaku air terasa seperti es. Sementara sebagian lainnya mengatakan jemarinya menjadi kaku akibat suhu yang terus menurun.
“Surabaya lagi dingin-dinginnya kalau malam ke subuh? Ini dinamakan bediding. Terjadi pas puncak kemarau (Juli–September) karena “impor” angin dingin dari Australia yang lagi winter. Suhu subuh bisa drop sampai 20°C! Jujur, kamu tipe nekat mandi air dingin jam 5 pagi, atau tim nunggu matahari terbit dulu baru berani menyentuh air?,” tulis akun Threads @mas_*****.
Keluhan serupa juga datang dari wilayah lain. “Ga jadi jalan pagi karena waktu bangun dingin bangetttttt….. trus tarik selimut lagi. Lagi fenomena bediding katanya, gaes. Waktunya pol-in vitamin C, makan/minum yg hangat2, kurangi makanan manis2 atau goreng2 yg bisa memicu radang. Jaga kesehatan, warga Threads,” tulis akun @shelv****.
Lantas, mengapa suhu di Pulau Jawa terasa jauh lebih dingin dan sampai kapan fenomena ini akan berlangsung? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan udara dingin yang kini dirasakan masyarakat merupakan fenomena bediding, yaitu kondisi yang lazim muncul ketika musim kemarau berlangsung.
Fenomena ini dipengaruhi oleh Monsun Australia, yakni angin musiman yang membawa massa udara kering sekaligus lebih dingin menuju Indonesia.
Selain membawa udara dingin, angin tersebut juga menyebabkan pembentukan awan berkurang. Langit yang lebih cerah membuat panas yang tersimpan di permukaan Bumi pada siang hari lebih mudah terlepas ke atmosfer saat malam. Akibatnya, suhu udara terutama menjelang dini hari hingga pagi hari menjadi jauh lebih rendah dibanding biasanya.
BMKG menyebut kondisi seperti ini bukanlah hal baru. Berdasarkan catatan pengamatan selama sekitar satu dekade terakhir, penurunan suhu umumnya mulai terasa pada Juli dan mencapai fase terdingin pada Juli hingga Agustus.
Wilayah dataran tinggi menjadi daerah yang paling merasakan dampaknya. “Sebagai contoh, Kabupaten Malang, suhunya bisa drop hingga di bawah 19,5 derajat Celcius, jauh lebih dingin dibandingkan Jakarta yang relatif stabil hangat,” jelas BMKG.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa faktor topografi ikut memengaruhi rendahnya suhu. “Hal ini juga menunjukkan peran topografi dan elevasi dataran tinggi dalam mengunci hawa dingin,” lanjut BMKG.
Karena berada di wilayah pegunungan maupun dataran tinggi, daerah-daerah seperti Malang, Batu, Dieng, hingga kawasan pegunungan Jawa Barat umumnya mengalami suhu lebih rendah dibanding wilayah pesisir.
Sampai Kapan Bediding Berlangsung?
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB (Institut Pertanian Bogor) Dr Givo Alsepan memperkirakan udara dingin masih akan bertahan selama musim kemarau belum mencapai akhirnya.
Menurut dia, fenomena bediding diperkirakan berlangsung hingga puncak musim kemarau pada akhir Juli sampai Agustus. Bahkan, di sejumlah daerah kondisi tersebut masih berpotensi berlanjut hingga awal September, tergantung perkembangan atmosfer.
“Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, maupun sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas,” jelasnya.
Mengapa Malam Hari Terasa Lebih Dingin?
Saat musim kemarau, langit pada malam hari cenderung cerah karena jumlah awan sangat sedikit. Kondisi tersebut membuat panas yang sebelumnya diserap permukaan bumi sepanjang siang hari langsung terlepas ke atmosfer tanpa tertahan lapisan awan.
Akibat proses itu, suhu udara turun lebih cepat ketika malam hingga menjelang pagi. Semakin sedikit awan yang menutupi langit, semakin besar pula pelepasan panas dari permukaan bumi sehingga udara terasa lebih dingin.
Fenomena ini paling mudah dirasakan di daerah pegunungan maupun dataran tinggi karena memiliki suhu dasar yang memang lebih rendah dibanding kawasan pesisir.
Meski membuat suhu terasa menusuk, BMKG menegaskan bahwa bediding merupakan fenomena alam yang normal terjadi setiap musim kemarau. Masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh, terutama saat beraktivitas pada malam dan pagi hari, karena udara yang lebih dingin dapat memicu gangguan kesehatan pada sebagian orang, terutama kelompok rentan. (bn/hel)







