Beranda

Tiga Bocah Surabaya Ciptakan ZeWast, Raih Penghargaan ICIA 2026

Tiga Bocah Surabaya Ciptakan ZeWast, Raih Penghargaan ICIA 2026
Tiga pelajar Surabaya ciptakan aplikasi digital ZeWast untuk budaya zero waste, raih tiga penghargaan global di ICIA 2026 (Ist)

Tiga pelajar Surabaya ciptakan aplikasi digital ZeWast untuk budaya zero waste, raih tiga penghargaan global di ICIA 2026.

INDONESIAONLINE – Siang itu, terik matahari Surabaya menyengat trotoar Jalan Kaliasin. Di sudut Warung Bu Wirang, tiga bocah tak sibuk bermain gawai seperti anak sebaya mereka.

Princess Zelda Ilmiah (13), Sanggrama Rasio Al Warisyi (12), dan Fathan Alby Andhitama (11) justru berdesakan di depan laptop, memantau grafik pertumbuhan pengguna aplikasi buatan mereka: Zero Waste Student Habit Tracker (ZeWast).

Berbeda dengan mayoritas pelajar sebaya yang menghabiskan waktu luang dengan gim online, ketiga bocah dari jenjang dan sekolah berbeda ini sudah akrab riset sejak belia. Zelda duduk di SMPN 29 Surabaya, Rasio masih kelas 6 SDN Kaliasin 1 Surabaya sekaligus adik kandung Zelda, sementara Fathan menempuh pendidikan di SDN Banyuurip III Surabaya.

Meski beda sekolah, semangat mereka menyatu: menciptakan platform yang membudayakan pola hidup bebas sampah (zero waste) di kalangan pelajar.

Mereka tak asal berinovasi. Data KLHK 2024 mencatat Indonesia memproduksi 68 juta ton sampah per tahun, 15 persennya limbah plastik. Jawa Timur berkontribusi 12 persen dari total limbah plastik nasional, dengan Surabaya menjadi penyumbang terbesar. Laporan UNDP 2023 menyebut hanya 18 persen pemuda Indonesia memahami aksi nyata zero waste.

“Kami sering lihat sampah plastik menumpuk di Sungai Kalimas pulang sekolah, terus mikir gimana caranya biar temen-temen mau kurangi sampah,” ujar Zelda, yang ditunjuk sebagai Duta Lingkungan Hidup Surabaya pada 2025.

ZeWast: Media Sosial Ramah Lingkungan dengan Sistem Konversi Sampah

Platform digital yang dirilis 2024 ini sengaja dibuat mirip antarmuka media sosial agar akrab di mata pelajar. Tujuannya jauh berbeda: memantau aksi nyata pengguna menjaga lingkungan sesuai ketentuan sistem.

Aspek paling menarik adalah transparansinya. Setiap pengguna bisa saling memantau progres tugas ekologis pengguna lain. Jika seseorang rutin membawa botol minum pribadi dan mendokumentasikannya di ZeWast, algoritma aplikasi otomatis mengonversi aksi tersebut ke angka riil limbah plastik yang tidak diproduksi.

“Di aplikasi muncul angka perkiraan pengurangan sampah botol plastik. Bawa botol sendiri sekali sehari selama sebulan, bisa kurangi 0,5 kg sampah plastik,” ujar Zelda, Sabtu (30/5/2026) kemarin.

Studi ITB 2024 menyebut penggunaan aplikasi pelacakan kebiasaan ramah lingkungan meningkatkan perilaku pro-lingkungan 47 persen di kalangan Gen Z. Saat ini ZeWast memiliki 2.300 pengguna aktif di Surabaya, 60 persennya mengaku kurangi plastik sekali pakai 30 persen dalam tiga bulan pertama pemakaian.

Rintangan Bahasa dan Perjuangan Raih Penghargaan ICIA 2026

Berkat inovasi ini, ketiganya meraih tiga penghargaan di International Creativity and Innovation Award (ICIA) 2026: Silver Award kategori Innovation Challenge, Special Award Young Digital Change Maker, dan masuk Top Ten Innovation Challenge Team.

ICIA adalah ajang tahunan internasional untuk pelajar dan inovator muda yang fokus pada penyelesaian persoalan global sesuai SDGs. ICIA 2025 diikuti 1.200 peserta dari 45 negara, edisi 2026 diprediksi diikuti 1.500 peserta dari 50 negara. Ketiga bocah ini menjadi pemenang termuda dalam sejarah gelaran tersebut.

Di balik raihan prestasi, tersimpan kisah perjuangan penuh rintangan, terutama bagi Rasio. Bocah yang semula tak suka pelajaran bahasa Inggris ini sempat putus asa karena mayoritas referensi ilmiah pengembangan ZeWast hanya tersedia dalam bahasa Inggris.

“Awalnya sulit karena semua sumber berbahasa Inggris, sempat terpikir untuk berhenti,” ungkap Rasio.

Namun ia tak menyerah. Bersama Zelda dan teman sebaya di lingkungan tempat tinggalnya, ia rutin belajar bahasa Inggris setiap akhir pekan. “Meneliti seru kalau dikerjakan bareng-bareng, apalagi kerja keras kita bisa juara,” kata Rasio yang kini justru jadi juara kelas pelajaran bahasa Inggris di sekolahnya.

Fathan, yang mewakili tim menerima penghargaan di ICIA 2026, mengaku sempat ragu platform buatan mereka bisa bersaing dengan inovator dewasa. “Tapi ternyata, ide sederhana dari anak kecil seperti kami bisa diakui dunia,” ujarnya.

Dampak ZeWast terhadap Target Zero Waste Surabaya 2030

Surabaya menargetkan menjadi kota zero waste pada 2030. Laporan DLH Surabaya 2024 menyebut inovasi digital berbasis pemuda seperti ZeWast berkontribusi 15 persen terhadap pencapaian target tersebut.

“ZeWast adalah game-changer karena menyasar generasi muda, konsumen terbesar plastik sekali pakai di Surabaya. Sistem sosialnya membuat mereka saling memotivasi,” ujar Kepala DLH Surabaya, Eko Agus Suryanto.

Saat ini ZeWast diuji coba di 10 sekolah Surabaya, dengan rencana perluasan ke 50 sekolah pada akhir 2026. Tim pengembang juga berencana menambahkan fitur penukaran poin aksi lingkungan dengan voucer buku atau alat tulis untuk meningkatkan partisipasi pengguna.

“Gak usah main gawai terus, bikin sesuatu yang bermanfaat buat bumi,” ujar Fathan singkat.

Ketiga bocah ini membuktikan usia belia bukan halangan berinovasi. Lewat ZeWast, mereka tak hanya meraih penghargaan global, tapi juga berkontribusi nyata untuk keberlangsungan alam. Bagi mereka, riset bukan beban, melainkan cara berbuat baik bagi lingkungan sekitar.

Exit mobile version