Turnamen Futsal Berujung Petaka, 2 Siswa SMP Kritis

Turnamen Futsal Berujung Petaka, 2 Siswa SMP Kritis
Ilustrasi pengeroyokan pelajar SMP di Kabupaten Malang gegara futsal. kedua korban mengalami luka parah dikeroyok pelajar lainnya (io)

Futsal pelajar di Malang berujung tawuran sadis. 2 siswa SMP kritis dibacok di Pakisaji. Simak kronologi lengkap dan analisis darurat kekerasan remaja.

INDONESIAONLINE – Semangat sportivitas yang seharusnya menjadi jiwa dari sebuah kompetisi olahraga kembali tercoreng oleh noda darah dan amarah tak terkendali. Minggu sore, 18 Januari 2026, yang seharusnya menjadi ajang unjuk bakat bagi para pelajar di Metro Sport Center, Kecamatan Kepanjen, justru berubah menjadi mimpi buruk.

Turnamen futsal tingkat pelajar yang mempertemukan gengsi antar sekolah menengah pertama (SMP) dari Kabupaten Malang dan Kota Malang berakhir dengan tragedi pengeroyokan brutal di jalanan umum.

Insiden di Kecamatan Pakisaji ini bukan sekadar tawuran biasa. Dua pelajar berinisial NAR (asal Kecamatan Kromengan) dan ED (asal Kecamatan Sumberpucung) harus dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi mengenaskan. Luka berat akibat hantaman benda tumpul hingga dugaan sabetan senjata tajam menjadi bukti betapa rapuhnya mentalitas generasi muda kita saat menghadapi rivalitas.

Peristiwa ini membuka mata publik bahwa kekerasan di kalangan remaja—khususnya jenjang SMP—kini telah bermetamorfosis menjadi tindakan kriminal yang terorganisir dan mematikan, bersembunyi di balik kedok suporter olahraga.

Kronologi Mencekam: Dari Tribun ke Jalanan

Berdasarkan rekonstruksi kejadian yang dihimpun dari kepolisian dan saksi mata, benih konflik bermula dari tensi tinggi di pinggir lapangan futsal. Sorak-sorai dukungan berubah menjadi provokasi verbal yang memanaskan telinga.

Ketika peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan ditiup, permusuhan itu tidak ikut usai. Ia justru terbawa keluar arena, merayap hingga ke jalan raya yang menjadi jalur kepulangan para suporter.

Kapolsek Pakisaji, AKP Indra Subekti, menjelaskan bahwa “medan perang” berpindah dari Kepanjen menuju wilayah Pakisaji. Sekitar pukul 14.30 WIB, rombongan korban yang berjalan dari arah Kepanjen berpapasan dengan kelompok lawan di depan Pasar Pakisaji.

Di titik inilah, pertanyaan sederhana namun mematikan terlontar: “Anak sekolah mana?”. Pertanyaan identitas yang lazim dalam kultur tawuran pelajar ini menjadi kode pembuka serangan.

Saat NAR mengaku sebagai suporter dari salah satu sekolah di Kabupaten Malang, tanpa aba-aba, pukulan benda keras mendarat telak di wajahnya. Hidungnya remuk, darah mengucur deras. Lebih sadis lagi, tubuh remaja itu diseret oleh kerumunan pelaku layaknya hewan buruan.

Kebrutalan ini terjadi di ruang publik, di mana warga sekitar sempat berusaha melerai namun kewalahan menghadapi beringasnya para pelajar tersebut.

Teror belum berhenti di Pasar Pakisaji. Korban lain, ED, yang melihat temannya dihajar habis-habisan, berusaha menyelamatkan diri bersama seorang rekannya. Mereka berlari membelah keramaian, masuk ke sebuah gang di sekitar pasar, berharap menemukan perlindungan.

Namun, nasib berkata lain. Di gang tersebut, ED justru berpapasan dengan kelompok lain dari kubu lawan yang jumlahnya jauh lebih besar—diperkirakan mencapai 20 orang. Fakta ini mengindikasikan bahwa para pelaku kemungkinan besar telah menyebar dan mengepung jalur-jalur pelarian.

ED kemudian digiring paksa—sebuah tindakan yang bisa dikategorikan sebagai penculikan singkat—menuju arah utara, tepatnya ke kawasan depan SDN 2 Kebonagung. Di lokasi kedua inilah, eksekusi jalanan terjadi. ED menjadi bulan-bulanan pengeroyokan massal.

Ketika polisi dan warga menemukannya, ED sudah terkapar tak berdaya. Tubuhnya penuh luka, dengan indikasi kuat adanya luka bacok di bagian kepala dan tangan. Keberadaan luka bacok ini memunculkan pertanyaan mengerikan: Apakah para pelajar SMP ini datang ke turnamen futsal dengan membawa senjata tajam di dalam tas mereka?

Analisis: Pergeseran Tren Kekerasan Remaja

Kasus di Pakisaji ini menambah daftar panjang fenomena kekerasan remaja di Jawa Timur. Mengacu pada data tren nasional dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan berbagai studi kriminologi, kekerasan pelajar kini mengalami pergeseran pola.

Jika dahulu tawuran terjadi secara spontan di jalanan, kini banyak insiden yang dipicu oleh “trigger event” seperti turnamen olahraga atau janjian melalui media sosial.

Psikolog sosial menilai fenomena ini sebagai bentuk displaced aggression (agresi yang dialihkan) dan krisis identitas. Futsal, yang sejatinya olahraga fisik, seringkali dijadikan wadah untuk menyalurkan hasrat dominasi kelompok (tribalisme).

Bagi pelajar SMP yang sedang dalam fase pencarian jati diri, label “suporter sekolah” menjadi identitas komunal yang harus dibela mati-matian, bahkan jika harus melanggar hukum. Rasa solidaritas yang salah kaprah (toxic solidarity) membuat mereka merasa benar saat melukai orang lain demi “nama baik” sekolah.

Fakta bahwa insiden ini melibatkan puluhan anak (20 orang dalam satu kelompok pengepung) menunjukkan adanya herd mentality (mentalitas kawanan). Individu yang mungkin secara personal penakut, bisa berubah menjadi beringas ketika berada dalam kelompok besar, karena merasa anonim dan tanggung jawab moralnya terdistribusi.

Langkah Hukum dan Evaluasi Pendidikan

Pihak Polsek Pakisaji saat ini bergerak cepat. AKP Indra Subekti menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan pendalaman, olah TKP, dan memburu para pelaku berdasarkan keterangan saksi serta rekaman yang mungkin ada di sekitar lokasi. Penerapan pasal pengeroyokan (Pasal 170 KUHP) dan UU Perlindungan Anak menanti para pelaku yang terbukti terlibat.

Namun, penegakan hukum hanyalah tindakan kuratif di hilir. Peristiwa ini harus menjadi tamparan keras bagi Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota Malang, serta panitia penyelenggara turnamen olahraga.

Turnamen futsal antar-sekolah kini perlu dievaluasi ketat. Standar keamanan harus ditingkatkan, termasuk pemeriksaan barang bawaan suporter untuk mencegah masuknya senjata tajam dan minuman keras. Sekolah juga tidak bisa lepas tangan; pembinaan karakter siswa dan pemantauan aktivitas suporter di luar jam sekolah harus lebih intensif.

Insiden Minggu berdarah di Pakisaji adalah alarm bahaya. Ketika peluit pertandingan berakhir dengan sirine ambulan, kita tahu ada yang salah dalam sistem pendidikan karakter generasi muda kita. NAR dan ED kini terbaring di rumah sakit, menanggung sakit fisik dan trauma psikis yang mungkin akan membekas seumur hidup, hanya karena sebuah pertanyaan: “Kamu anak mana?” (al/dnv).