Beranda

UIN Maliki Malang dan Behaestex: Pangkas Masa Tunggu Kerja via Kampus Hiring

UIN Maliki Malang dan Behaestex: Pangkas Masa Tunggu Kerja via Kampus Hiring
Sesi Foto Career Development Center (CDC) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang dan pT Behaestex dalam acara Kampus Hiring (jtn/io)

Kolaborasi CDC UIN Maliki Malang dan PT Behaestex buka rekrutmen on-campus. Strategi jitu pangkas masa tunggu kerja lulusan dan wujudkan link and match industri.

INDONESIAONLINE – Di tengah ketatnya persaingan pasar tenaga kerja nasional, masa tunggu lulusan perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan pertama (first job) menjadi isu krusial yang terus disorot. Fenomena ini bukan sekadar statistik, melainkan realitas yang dihadapi ribuan sarjana setiap tahunnya.

Menjawab tantangan tersebut, Career Development Center (CDC) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang mengambil langkah taktis “jemput bola” pada awal tahun 2026 ini.

Bukan sekadar menggelar bursa kerja biasa, CDC UIN Maliki Malang menggandeng salah satu raksasa industri tekstil legendaris di Indonesia, PT Behaestex, untuk melakukan eksekusi rekrutmen langsung di dalam lingkungan kampus. Langkah ini dinilai sebagai terobosan strategis untuk memangkas jarak antara dunia akademik dan kebutuhan industri yang dinamis.

Urgensi Memangkas Masa Tunggu Lulusan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa tahun terakhir, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari jenjang universitas sering kali menjadi sorotan. Fenomena skills gap atau kesenjangan keterampilan sering dituding sebagai penyebab utama lamanya masa tunggu lulusan—yang rata-rata bisa mencapai 3 hingga 6 bulan pasca wisuda.

Dalam konteks inilah, inisiatif yang dilakukan pada Kamis (5/2/2026) di UIN Maliki Malang menjadi sangat relevan. Kepala Pusat CDC UIN Maliki Malang, Dr. Ahmad Ghozi, M.A., menegaskan bahwa kehadiran perusahaan secara fisik di kampus bukan sekadar seremoni.

“Kami memfasilitasi lulusan agar memiliki akses langsung terhadap peluang kerja yang relevan dengan kompetensi akademik yang telah mereka tempuh. Kehadiran perusahaan langsung di kampus merupakan bagian dari upaya konkret memperpendek masa tunggu lulusan setelah menyelesaikan studi,” ujar Ahmad Ghozi dengan optimis.

Pernyataan Ghozi mengindikasikan pergeseran paradigma layanan karier di perguruan tinggi: dari yang tadinya pasif menunggu informasi lowongan, menjadi aktif menciptakan ekosistem rekrutmen di “kandang sendiri”.

Sinergi Lintas Disiplin Ilmu

Meski pada fase awal Februari 2026 ini fokus rekrutmen diarahkan pada alumni Fakultas Psikologi yang baru saja menyelesaikan yudisium dan bersiap wisuda pada 7 Februari 2026, pintu peluang tidak tertutup bagi disiplin ilmu lain.

PT Behaestex, perusahaan yang terkenal dengan produk sarung tenun berkualitas premium, menyadari bahwa kebutuhan industri modern memerlukan talenta dari berbagai latar belakang. Perwakilan HRD PT Behaestex, Giovanny Octavia, menjelaskan bahwa radar pencarian bakat mereka menyapu spektrum yang luas, mulai dari Psikologi, Teknologi Informasi (TI), Manajemen, hingga Akuntansi.

“Kami membuka peluang rekrutmen tidak hanya bagi lulusan Psikologi, tetapi juga dari program studi lain yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” ungkap Giovanny.

Ia menambahkan bahwa tahapan seleksi, termasuk wawancara kerja, disesuaikan dengan karakter keilmuan masing-masing calon pekerja untuk memastikan kecocokan (fit) antara budaya perusahaan dan kompetensi kandidat.

Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa industri kini tidak lagi melihat ijazah semata, melainkan kemampuan adaptasi dan soft skills yang dimiliki lulusan dari berbagai jurusan.

Komitmen Institusi Terhadap “Link and Match”

Kolaborasi ini mendapat dukungan penuh dari jajaran pimpinan universitas. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Prof. Triyo Supriyatno, menyoroti pentingnya ruang temu antara penyedia tenaga kerja (kampus) dan pengguna (industri).

“Kampus perlu menghadirkan ruang yang mempertemukan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja secara langsung,” tegas Prof. Triyo.

Menurutnya, layanan pengembangan karier adalah elemen vital dalam indikator kinerja universitas. Keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak lagi hanya diukur dari berapa banyak mahasiswa yang diwisuda, tetapi berapa banyak yang terserap di dunia kerja dalam waktu singkat (kurang dari 6 bulan) dengan gaji yang layak.

Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Siti Mahmuda, M.Si., melihat dampak psikologis yang positif bagi para alumni. Ketidakpastian pasca kampus seringkali memicu kecemasan (post-graduation anxiety). Dengan adanya rekrutmen on-site, kecemasan itu dapat diredam.

“Lulusan dapat mulai mempersiapkan diri sejak awal, sehingga masa transisi setelah kelulusan bisa lebih singkat,” tutur Prof. Siti Mahmuda.

Ini berarti mahasiswa tingkat akhir tidak hanya sibuk dengan skripsi, tetapi juga sudah mulai membangun portofolio profesional mereka.

Adaptasi Kurikulum Berbasis Kebutuhan Pasar

Keberhasilan program rekrutmen kampus ini juga menjadi umpan balik (feedback) bagi pengelola akademik. Wakil Dekan I Bidang Akademik Dr. Mualifah dan Wakil Dekan II Dr. Elok sepakat bahwa interaksi dengan industri seperti PT Behaestex memberikan wawasan tentang kompetensi apa yang sedang dicari pasar.

Keduanya menilai kebutuhan industri terhadap lulusan perguruan tinggi terus berkembang dan berubah dengan cepat akibat disrupsi teknologi. Oleh karena itu, penyelarasan (alignment) berkelanjutan antara kurikulum akademik, kompetensi lulusan, dan tuntutan pasar kerja adalah sebuah keniscayaan.

Ke depan, CDC UIN Maliki Malang bersama PT Behaestex tidak akan berhenti pada satu event ini saja. Rencana pengembangan pola rekrutmen kampus yang lebih luas, terstruktur, dan berkelanjutan telah disiapkan. Model ini diharapkan dapat membuka peluang kerja yang lebih merata, tidak hanya bagi segelintir fakultas favorit, tetapi bagi seluruh lulusan UIN Maliki.

Langkah UIN Maliki Malang ini membuktikan bahwa tanggung jawab perguruan tinggi tidak berhenti saat tali toga dipindahkan. Lebih jauh dari itu, institusi pendidikan memegang mandat moral untuk mengantarkan anak didiknya menuju gerbang kemandirian profesional. Dengan strategi kolaboratif seperti ini, harapan untuk menekan angka pengangguran terdidik di Indonesia bukanlah mimpi di siang bolong (as/dnv).

Exit mobile version