INDONESIAONLINE – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Stella Christie mendapat tantangan dari kreator konten sekaligus aktivis Virdian Aurello. Virdian menantang Stella Christie membuka data calon mahasiswa baru (camaba) yang tidak melakukan daftar ulang karena terkendala biaya kuliah.
Tantangan itu disampaikan Virdian setelah Stella sebelumnya meluruskan isu viral soal 60 ribu calon mahasiswa yang disebut mengundurkan diri dan tidak melakukan daftar ulang di perguruan tinggi negeri (PTN).
Virdian meminta Stella tidak hanya membantah angka 60 ribu sebagai informasi yang keliru. Dia ingin pemerintah membeberkan angka sebenarnya mengenai calon mahasiswa yang gagal melanjutkan pendidikan karena tidak mampu membayar uang kuliah tunggal (UKT) maupun biaya hidup selama kuliah.
“Ayodong napak bumi @prof.stellachristie, lihat berapa banyak orang muda yang putus mimpinya masuk kampus impiannya karena keterbatasan biaya untuk UKT/biaya hidup saat kuliah. Apa kebijakan negara untuk memgembalikan mimpi mereka yang sudah kandas untuk menjadi sarjana?” kata Virdian.
Virdian bahkan secara khusus meminta Stella melakukan pendataan terhadap calon mahasiswa yang tidak dapat melakukan daftar ulang karena persoalan ekonomi. “Gue mau call out Stella Christy, wamendikti sekaligus komisaris Pertamina Hulu Energi, yang padahal putusan MK bilang gak boleh rangkap jabatan, tapi tetap dilakuin, untuk segera memberikan transparansi data berapa banyak mahasiswa yang gak bisa daftar ulang karena gak mampu bayar UKT atau gak punya biaya hidup atau kuliah,” ujarnya.
Dia mempertanyakan angka sebenarnya setelah Stella menyebut informasi mengenai 60 ribu calon mahasiswa tidak daftar ulang sebagai informasi yang keliru konteks. “Berapa datanya? Jangan cuma bikin klarifikasi, 60 ribu tuh hoaks, ya terus berapa? Angka riilnya berapa? Napak bumi dong,” kata Virdian.
Menurut Virdian, pemerintah dapat menggali informasi tersebut langsung dari organisasi mahasiswa di berbagai kampus. Dia menyebut Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), khususnya bidang advokasi dan kesejahteraan mahasiswa (adkesma), dapat menjadi salah satu sumber untuk melihat persoalan yang dialami mahasiswa.
“Kalau perlu tanya ke adkesma bem-bem tuh di kampus-kampus, Pasti banyak yang cerita ke mereka Gak bisa lanjut nih camaba-camabanya Karena gak bisa bayar UKT, cerita ke gue aja banyak gitu loh,” ucapnya. “Ayo dong kerahin timnya,” lanjut Virdian.
Tidak hanya meminta transparansi data. Virdian juga mempertanyakan langkah pemerintah terhadap calon mahasiswa yang tidak bisa melanjutkan pendidikan tinggi karena keterbatasan ekonomi.
“Kedua, apa pertanggungjawaban negara Kebijakan negara terhadap mereka Yang gak bisa kuliah karena gak punya uang,” ujarnya.
Virdian menilai akses pendidikan tinggi perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan upaya meningkatkan jumlah masyarakat Indonesia yang memiliki pendidikan sarjana.
“Konstitusi kita mengatakan kalau misalnya negara sebetulnya bersama pendidikan apalagi di tengah sarjana kita tertinggal jauh dengan negara-negara maju jumlahnya, ini kan upaya naikin alumni perguruan tinggi kita. Hal baik. Ayo dong, mana suaranya?” katanya.
Dia kemudian membandingkan respons pemerintah terhadap isu pendidikan dengan kebijakan lainnya. “Ini giliran soal URI (Universitas Republik Indonesia) aja, kampus yang gak jelas buat apa, anggarannya juga dibuang-buang, wah jadi enabler. Giliran kayak gini kok gak ada keberpihakan?” ujar Virdian.
“Kita tunggu jawabannya karena gak bisa kita menunggu orang-orang muda lagi jadi korban dari ketidakadilan anggaran,” sambungnya.
Stella Bantah 60 Ribu Camaba Mundur karena UKT
Sebelumnya, Stella Christie angkat bicara mengenai isu 60 ribu calon mahasiswa yang disebut tidak melakukan daftar ulang di PTN. Informasi tersebut sempat ramai dikaitkan dengan mahalnya biaya UKT.
Stella menyebut angka 60 ribu yang beredar di masyarakat merupakan disinformasi karena terjadi kekeliruan dalam memahami data.
“Akhir-akhir ini sedang viral bahwa 60.000 calon mahasiswa tidak daftar ulang. Benarkah ini? Sebelum kita termakan disinformasi, ayo kita cek dulu datanya,” ujar Stella dalam akun Instagram @prof.stellachristie.
Menurut Stella, angka 60 ribu yang beredar bukan data proses seleksi tahun 2026. Data tersebut merupakan angka pada tahun sebelumnya.
“Pertama, 60.000 itu data tahun lalu. Tahun ini pendaftaran jalur mandiri masih berjalan. Kita baru tahu data lengkapnya di pekan ketiga bulan Juli,” kata Stella.
Stella kemudian menjelaskan komposisi angka yang disebut 60 ribu tersebut. Dia menyebut angka itu tidak seluruhnya merupakan calon mahasiswa yang mengundurkan diri.
“Yang katanya 60.000 calon mahasiswa, ini sebenarnya terdiri dari 42.315 bangku kosong, bukan calon mahasiswa. Artinya, ada 42.315 kesempatan yang belum diambil,” ucapnya.
Menurut Stella, sebanyak 42.315 merupakan bangku yang belum terisi. Sementara angka calon mahasiswa yang tidak melakukan daftar ulang disebut sebanyak 17.816.
“PTN kita sudah bekerja keras menciptakan kesempatan, mudah-mudahan tahun ini lebih banyak bangku yang terisi. Sisanya, 17.816, ini baru calon mahasiswa yang tidak daftar ulang,” imbuh ilmuwan kognitif tersebut.
Stella juga meluruskan anggapan bahwa calon mahasiswa yang tidak melakukan daftar ulang disebabkan mahalnya biaya kuliah.
Berdasarkan pelacakan kementerian, terdapat sejumlah alasan lain. Di antaranya calon mahasiswa memilih perguruan tinggi kedinasan atau mendapatkan program studi yang tidak sesuai dengan minat mereka.
“Tapi apakah memang karena UKT mahal? Mereka diterima di perguruan tinggi kedinasan, memilih ke sana. Nomor dua, mereka diterima di prodi yang mereka tidak terlalu inginkan, sehingga memilih untuk mendaftar ke prodi di PTS, prodi yang mereka inginkan,” tuturnya.
Meski demikian, Stella mengakui masih ada mahasiswa yang menghadapi kendala pembiayaan. Salah satunya mereka yang telah mendaftar KIP Kuliah tetapi tidak mendapatkan bantuan tersebut.
“Memang ada mahasiswa kita yang mendaftar KIP Kuliah tetapi tidak mendapatkannya,” aku Stella.
Pemerintah, kata Stella, memiliki mekanisme UKT Level 1 dan Level 2 untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Untuk UKT Level 1, biaya kuliah ditetapkan maksimal Rp500 ribu per semester.
“Namun untuk para mahasiswa ini bisa mendapatkan UKT level satu yang dibatasi Rp500.000 per semester,” jelas Stella.
Stella kemudian memberikan ilustrasi mengenai besaran UKT tersebut jika dibagi selama satu semester.
“Rp500.000 untuk 15 minggu kuliah satu semester. Artinya, cukup menabung Rp33.000 per minggu. Ini sama dengan mengorbankan mungkin satu mangkok bubur ayam spesial atau satu paket rokok setiap minggunya,” kata Stella.
Dia juga mengingatkan calon mahasiswa yang telah dinyatakan lulus PTN agar tidak langsung menyerah ketika menghadapi persoalan ekonomi. Menurutnya, mahasiswa dapat menggunakan hak sanggah administratif untuk mengajukan keringanan sesuai kondisi ekonomi.
“Jadi yang penting untuk kalian yang lulus ke PTN tapi bermasalah ekonomi, jangan termakan disinformasi. Kalian berhak mendapatkan UKT level 1 atau level 2. Tetap semangat!” kata Stella.
Rangkap Jabatan Stella
Nama Stella Christie juga menjadi sorotan terkait posisinya sebagai Wamendiktisaintek sekaligus Komisaris PT Pertamina Hulu Energi (PHE), anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di sektor hulu minyak dan gas bumi.
Diketahui, Mahkamah Konstitusi (MK) secara resmi melarang menteri dan wakil menteri (wamen) untuk merangkap jabatan sebagai komisaris atau direksi di perusahaan BUMN. Melalui putusan nomor 128/PUU-XXIII/2025 yang dibacakan pada 28 Agustus 2025, MK menegaskan bahwa larangan rangkap jabatan ini bertujuan agar para pejabat negara bisa fokus mengurus kementeriannya. (bn/hel)







