SMAN 2 Kota Malang Punya Cara Keren Asah Kemampuan Siswa: Riset, Presentasi, hingga Kuasai 3 Bahasa

Siswa SMAN 2 Kota Malang saat mempresentasikan karya ilmiah dengan tiga bahasa. (saputra/io)

INDONESIAONLINE – Kemampuan meneliti tidak cukup hanya dibuktikan melalui karya tulis. SMAN 2 Kota Malang kini mendorong para siswanya untuk berani membawa hasil penelitian ke ruang publik dan mempresentasikannya secara langsung.

Langkah tersebut diwujudkan melalui Seminar Karya Tulis Ilmiah Murid Trigatra Bangun Bahasa yang digelar di Aula Sabhayatama SMAN 2 Kota Malang, Selasa (29/9/2026).

Kegiatan ini menjadi salah satu program unggulan sekolah yang dirancang untuk mengasah kemampuan akademik sekaligus keterampilan berbahasa para peserta didik.

Kepala SMAN 2 Kota Malang Eny Retno Diwati MPd menjelaskan, program tersebut telah disiapkan sejak awal dirinya mendapat amanah memimpin SMAN 2 Kota Malang. “Ini salah satu program unggulan yang kami bawa di saat saya awal diberikan amanah memimpin SMA Negeri 2 Kota Malang,” kata Eny, Selasa (29/9/2026).

Menurut dia, program Trigatra Bangun Bahasa juga memiliki keterkaitan dengan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang dikembangkan di lingkungan SMAN 2 Kota Malang. Konsep trigatra dalam program tersebut diwujudkan melalui penguasaan tiga bahasa. Bahasa Indonesia ditempatkan sebagai bahasa utama, kemudian bahasa asing, serta bahasa daerah.

“Trigatra kan berarti tiga bahasa yang digunakan. Tetap yang utama adalah bahasa Indonesia. Kemudian, kuasai bahasa asing, karena di sini ada bahasa Jepang, ada bahasa Jerman, ada bahasa Mandarin. Yang ketiga, tetap melestarikan bahasa daerah. Bahasa daerahnya adalah bahasa Jawa yang kita gunakan,” jelas Eny.

Ia menilai kemampuan menyusun karya ilmiah perlu dibarengi dengan keberanian menyampaikan hasil pemikiran di hadapan orang lain. Karena itu, siswa tidak hanya diarahkan menjadi peserta seminar, tetapi juga diberi kesempatan tampil sebagai pemakalah.

Sebelum karya mereka dihimpun dalam buku prosiding, para siswa terlebih dahulu harus mempresentasikan dan mendiseminasikan hasil penelitian yang telah dibuat.

“Nah, karya ilmiahnya ini sebelum disusun dalam sebuah buku prosiding. Anak-anak harus bisa menampilkan, diseminarkan. Nah, selama ini saya mengamati seminar karya ilmiah itu biasanya yang jadi pemakalah kan guru. Nah, ini saya mencoba anak-anak harus berani tampil karena sudah kami bekali dasarnya dari mengikuti UKBI dan ada program Trigatra tadi,” ungkap Eny.

Dalam seminar perdana tersebut, sekolah juga melibatkan perguruan tinggi untuk memberikan pendampingan akademik. SMAN 2 Kota Malang menghadirkan dosen Universitas Brawijaya sebagai pemakalah utama yang turut membedah karya ilmiah siswa.

“Sehingga ini anak-anak menjadi pemakalah pendamping yang utamanya tetap saya harus menghadirkan ahlinya dari Universitas Brawijaya. Jadi, ada kolaborasi antara sekolah dengan perguruan tinggi untuk memfasilitasi anak-anak dalam membuat karya ilmiah,” lanjutnya.

Menariknya, konsep Trigatra Bangun Bahasa juga diterapkan dalam sesi presentasi. Siswa mendapat kesempatan menyampaikan karya ilmiah menggunakan tiga bahasa.

“Nah, makanya ini anak-anak menyajikannya di tiga bahasa. Jadi, pemakalah menyajikan dalam bahasa Indonesia, ada yang menyajikan dalam bahasa Inggris, dan ada yang menyajikan dalam bahasa Jawa,” kata Eny.

Tidak berhenti pada kegiatan seminar, sekolah juga menyiapkan luaran berupa buku prosiding. Karya-karya siswa yang telah melalui proses diseminasi akan dihimpun dan diterbitkan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

“Nanti setelah ini selesai seminar ini, produk atau luaran yang harus dihasilkan adalah karya anak-anak nanti akan kami dibukukan dalam buku prosiding. Jadi, nanti juga menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Nanti sampai buku ini terbit dan dananya kami ambilkan dari dana BOS,” beber Eny.

Program tersebut, lanjut Eny, sekaligus menjadi sarana bagi sekolah untuk menggali potensi akademik siswa tanpa menambah beban pembiayaan bagi orang tua. Seluruh proses, mulai dari penelitian, seminar, pendampingan hingga penerbitan karya, diarahkan agar menjadi pengalaman akademik yang utuh bagi siswa.

“Jadi, sudah tidak membebani orang tua, tapi potensi anak-anak tergali semuanya. Dan ini adalah program perdana yang sebelumnya belum pernah ada,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan siswa yang sesuai, sekolah terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap peserta didik yang memiliki ketertarikan dan potensi di bidang penelitian. Salah satu jalurnya dilakukan melalui ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR).

“Ada seleksi. Jadi, kita memetakan ini adalah masuk pada anak-anak yang berpotensi akademis. Artinya, di kegiatan ekstra itu, kami membuka pendaftaran bagi mereka yang ingin masuk, mengambil ekstrakurikuler yang berhubungan dengan KIR (Karya Ilmiah Remaja),” ujar Eny.

Sekolah kemudian bekerja sama dengan pembimbing dari luar untuk mengidentifikasi potensi para siswa. Peserta didik yang memiliki minat terhadap penelitian maupun aktif mengikuti kompetisi mendapat pendampingan lebih lanjut.

Pendampingan tersebut juga mencakup dukungan terhadap kebutuhan penelitian, termasuk penyediaan alat maupun biaya uji laboratorium yang dialokasikan dari dana BOS.

“Dan itu biasanya anak yang sudah punya basic suka penelitian ini. Setiap ada event-event lomba biasanya selalu “Bu, saya pengin ikut”. Nah, sekolah kan nggak boleh tinggal diam. Jadi, harus mendampingi, harus melatih, kemudian harus memfasilitasi, mungkin butuh alat dan lain-lainnya. Nah, butuh uji lab ini juga kami anggarkan dari dana BOS,” beber Eny.

Pada pelaksanaan seminar perdana ini, terdapat enam tim siswa yang dinyatakan lolos untuk mempresentasikan karya ilmiah mereka. “Sekarang ini yang yang makalahnya lolos untuk diseminarkan ada 6 tim,” kata Eny.

Selain enam tim yang menjadi pemakalah, sekolah juga melibatkan perwakilan siswa dari 20 kelas. Jumlah tersebut terdiri dari 10 kelas X dan 10 kelas XI, dengan masing-masing kelas mengirimkan dua perwakilan.

Para perwakilan kelas tersebut nantinya memiliki tugas untuk menyampaikan kembali materi dan pengetahuan yang diperoleh selama seminar kepada teman-teman mereka di kelas masing-masing.

“Mereka ini adalah mewakili kelasnya yang nanti harus bisa mendesiminasikan hasil yang didengarkan hari ini ke teman-temannya di satu kelas,” jelas Eny.

Sekolah juga memberikan tugas kepada para peserta sebagai bagian dari evaluasi kegiatan. Siswa diminta mencatat dan mengumpulkan hasil pemahaman mereka menggunakan format yang telah disiapkan sekolah. Sertifikat keikutsertaan baru akan diberikan setelah tugas tersebut dikumpulkan.

“Nanti luarannya anak-anak yang sebagai peserta perwakilan dari kelas ini nanti harus mengumpulkan tugas yang sudah dibuatkan template apa yang didapatkan dari mengikuti kegiatan seminar ini. Nanti kalau sudah dikumpulkan baru saya berikan sertifikat,” bebernya.

Keterlibatan alumni juga menjadi bagian dari pelaksanaan program tersebut. Pemakalah utama yang hadir dalam seminar diketahui merupakan alumni SMAN 2 Kota Malang yang kini berkarier sebagai dosen di Universitas Brawijaya.

Bagi Eny, hubungan antara sekolah, perguruan tinggi dan alumni dapat menjadi modal untuk memperluas pengalaman akademik siswa.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan karya tulis. Lebih jauh, siswa diharapkan terbiasa melakukan penelitian, menyampaikan gagasan, menerima masukan dan kritik, hingga menghasilkan karya yang dapat didokumentasikan dalam bentuk buku prosiding. (hsa/hel)