Wamenhan Donny ungkap 3 penyebab kematian 5 calon manajer kopdes di latsarmil SPPI. Bentuk tim investigasi, ganti latsarmil jadi bela negara.
INDONESIAONLINE – Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Marsekal TNI Donny Ermawan Taufanto membeberkan tiga penyebab kematian lima calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) yang mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Penjelasan disampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026) kemarin.
Lima korban yang meninggal adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang (25), Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari. Program SPPI sendiri merupakan kolaborasi Kemenhan dengan beberapa kementerian untuk melatih 1.200 calon manajer koperasi desa di empat sentra pelatihan: Satdik Halim Perdanakusuma (Jakarta), Baturaja (Sumatera Selatan), Balikpapan (Kalimantan Timur), dan Singkawang (Kalimantan Barat).
Donny menegaskan penyebab kematian kelima korban berbeda-beda, namun dapat ditarik ke tiga faktor utama. Pertama, kelelahan akibat perubahan drastis pola hidup dari sipil ke militer.
“Memang penyebabnya berbeda-beda. Tapi kalau bisa kita tarik kesimpulan, pertama adalah karena kelelahan. Kemudian juga perubahan pola hidup, yang tadinya mungkin kehidupan sipil, masuk kehidupan ya di barak dan sebagainya yang mana semuanya harus disiplin nah itu mungkin juga mengagetkan juga,” ujar Donny.
Kedua, penyakit bawaan yang sudah terdeteksi saat seleksi namun masih dalam batas aman. Donny menjelaskan tiga korban meninggal akibat penyakit jantung, sementara dua lainnya akibat infeksi saluran pernapasan di Sentra Pendidikan Halim Perdanakusuma.
“Nah ini yang menyebabkan beberapa dari mereka tidak semuanya, sebetulnya banyak juga yang kondisi kesehatannya tidak baik-baik semuanya, tapi hanya beberapa ini saja. Termasuk juga yang kejadian di Halim terkait dengan paru-paru, ini juga karena ada penularan di sana, ini juga kami lakukan tindakan pencegahan bersama dengan Kementerian Kesehatan. Yang paru-paru semuanya ada di Jakarta, di Satdik di Halim, tapi yang lainnya yang di Baturaja, yang di Balikpapan dan yang di Singkawang itu terkait dengan penyakit jantung. Itu penyebab itu yang kami sampaikan kepada anggota Komisi I DPR,” imbuhnya.
Ketiga, faktor cuaca yang memperburuk kondisi fisik peserta yang sudah terbatas. “Karena mungkin ada kasus-kasus tertentu ya kejadian yang tadi itu mungkin cuaca dan sebagainya sehingga menyebabkan dari kondisi yang sudah terbatas tersebut, akhirnya yang bersangkutan meninggal dunia,” sambung Donny.
Data dari Kementerian Kesehatan per 25 Juni 2026 menunjukkan, selain lima korban meninggal, 12 peserta lain di Sentra Halim dirawat akibat infeksi saluran pernapasan akut, sementara enam peserta di sentra lainnya dirawat untuk masalah jantung.
Komnas Perempuan juga mencatat 32 peserta perempuan yang sedang hamil tetap dipaksa mengikuti latsarmil. Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman pun melakukan takziah ke makam Rifki Renaldi di Sumedang, Jawa Barat, pada 30 Juni 2026.
Latsarmil Dihapus, Diganti Pendidikan Bela Negara
Menyusul peristiwa tersebut, Kemenhan menghapus program latsarmil untuk calon manajer koperasi desa. Program diganti dengan pendidikan Bela Negara yang tidak lagi melibatkan pelatihan senjata atau taktik militer, serta memastikan peserta tidak lagi menjadi Komponen Cadangan (Komcad).
“Kami juga sudah menyampaikan kepada anggota Komisi I bahwa kami sudah merevisi program ini. Yang semula mereka juga akan menjadi Komponen Cadangan, kami sudah tetapkan bahwa mereka hanya diberikan pembinaan pendidikan pelatihan bela negara. Yang tadinya Komponen Cadangan selama satu bulan, ini Bela Negara juga kami perpendek menjadi dua minggu,” tegas Donny.
Kemenhan bersama Kementerian Kesehatan telah membentuk tim investigasi gabungan untuk menyelidiki penyebab pasti kematian kelima korban. “Terkait dengan meninggalnya lima ini kami juga sudah melaksanakan atau kami sudah membentuk tim investigasi. Ini adalah gabungan antara Kementerian Pertahanan dan Kementerian Kesehatan,” kata Donny.
Pemerintah juga menyiapkan santunan bagi keluarga korban. Kemenhan memberikan Rp50 juta per korban, sementara BPJS Ketenagakerjaan menyalurkan santunan sekitar Rp42 juta tergantung penyebab kematian.
“Santunan tadi yang dari Kementerian Pertahanan kita berikan Rp 50 juta, kemudian untuk yang dari BPJS itu kemungkinan sekitar Rp 42 juta. Kami belum tahu angka pastinya, karena ini sudah kami proses ya terkait yang dari BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Donny.
Jenazah Novia Rahmadhani Sihotang tiba di kediaman keluarganya di Padangsidimpuan, Sumatera Utara, pada 24 Juni 2026. Komisi I DPR memastikan akan memantau proses investigasi dan memastikan program pelatihan koperasi desa ke depan tidak lagi memakan korban jiwa.













