Menyingkap tabir silsilah Pangeran Diponegoro yang jarang terungkap. Bukan sekadar bangsawan Mataram, darahnya membawa bara api pemberontakan dari Panembahan Lemah Duwur di bukit kapur Arosbaya, Madura.
INDONESIAONLINE – Tanah Jawa pernah menangis darah. Antara tahun 1825 hingga 1830, langit di atas Kesultanan Yogyakarta dan sekitarnya tak pernah benar-benar biru; ia tertutup asap mesiu, debu reruntuhan desa, dan bau anyir kematian yang menyengat.
Perang Jawa (De Java Oorlog) bukan sekadar konflik militer. Ia adalah sebuah kiamat kecil yang menelan lebih dari 200.000 jiwa penduduk pribumi, menghabisi 8.000 serdadu Eropa, dan menyeret ribuan serdadu bayaran Afrika dan pribumi pro-Belanda ke liang lahat.
Hutan-hutan jati yang hening berubah menjadi pangkalan gerilya yang mematikan. Jalan setapak berlumpur menjadi kuburan massal bagi mereka yang tak sempat dimakamkan. Namun, di balik statistik mengerikan itu, tersimpan sebuah narasi yang jauh lebih purba daripada sekadar kemarahan soal patok tanah atau pajak gerbang.
Ketika Pangeran Diponegoro menghunus kerisnya di Tegalrejo, ia tidak sedang berdiri sendiri. Di dalam tubuhnya, berdenyut sebuah aliran sungai sejarah yang deras dan liar. Darah yang mengalir di nadinya bukan hanya darah priyayi keraton yang halus, melainkan darah para penakluk lautan dan pemberontak dari bukit kapur Madura.

Gema dari Bukit Kapur Arosbaya
Narasi sejarah konvensional seringkali membingkai Diponegoro semata-mata sebagai “ksatria Jawa”. Namun, jika kita menelusuri lorong waktu ke abad ke-17, kita akan menemukan bahwa keberanian sang Pangeran memiliki akar yang menancap kuat di seberang selat: Arosbaya, Madura Barat.
Jauh sebelum peluru pertama meletus di Tegalrejo, ada sosok Panembahan Lemah Duwur. Ia adalah penguasa visioner yang bertahta di atas bukit batu kapur—sesuai namanya, Lemah Duwur atau Tanah Tinggi.
Di sanalah, ia membangun imperium maritim yang memadukan sisa-sisa kejayaan Majapahit dengan nafas baru Islam. Panembahan ini bukan raja yang terkekang tembok istana; ia adalah pengendali jaringan dagang yang membentang dari Gresik hingga Sumenep, seorang diplomat ulung yang menjadi menantu Sultan Pajang, sekaligus pewaris spiritual Sunan Giri.
Lemah Duwur adalah antitesis dari kepatuhan buta. Ia mewariskan genetika “pembangkang” yang elegan—sebuah keberanian untuk berdiri tegak menjaga kedaulatan di tengah gempuran hegemoni luar. Meski putranya, Panembahan Tengah, akhirnya takluk oleh ekspansi agresif Sultan Agung dari Mataram pada 1624, nyala api Arosbaya tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya berpindah wadah.
Trunajaya: Cucu yang Menagih Janji
Sejarah kemudian mencatat nama Trunajaya, cicit dari Panembahan Lemah Duwur. Dalam buku-buku sejarah kolonial, ia dicap sebagai pemberontak. Namun, dalam perspektif genealogi perlawanan, Trunajaya adalah manifestasi dari dendam leluhur yang menuntut keadilan.
Pada tahun 1670-an, Trunajaya melakukan apa yang dianggap mustahil: seorang bangsawan pesisir meruntuhkan istana agraris Mataram di Plered. Ia memaksa Amangkurat I, raja yang dikenal tirani, melarikan diri hingga tewas di pelarian.
Trunajaya membuktikan bahwa hegemoni Mataram bukanlah sesuatu yang sakral dan tak tersentuh. Meski akhirnya Trunajaya dikalahkan dan dibunuh dengan keji oleh Amangkurat II pada 1680, roh perlawanannya meresap ke dalam tanah, menanti waktu untuk bangkit kembali.
Dan waktu itu datang, melompati beberapa generasi, bersemayam dalam rahim Ratu Kedaton.
Konvergensi Darah di Tegalrejo
Pangeran Diponegoro, yang terlahir dengan nama Bendara Raden Mas Antawirya, adalah simpul mati dari berbagai benang sejarah. Ibundanya, Ratu Kedaton, bukanlah wanita sembarangan. Ia adalah putri Adipati Purwodiningrat dari Magetan, yang silsilahnya tersambung langsung ke trah Cakraningrat dan Panembahan Lemah Duwur.
Seperti yang dicatat dalam Sadjarah Pangeran Dipanegara salinan Raden Tanoyo, garis keturunan ini begitu rumit namun agung. Ada jejak Arya Damar dari Palembang, ada wibawa Arya Pojok dari Sampang, dan ada kesalehan Giri. Ketika Sultan Hamengkubuwono III (ayah Diponegoro) menikahi Ratu Kedaton, terjadilah perkawinan politik dan spiritual yang dahsyat.
Di dalam tubuh Diponegoro, Mataram yang feodal bertemu dengan Madura yang egaliter dan keras. Kesabaran petani Jawa bertemu dengan keberanian pelaut Arosbaya. Inilah resep yang menciptakan karakter sang Pangeran: ia memiliki kehalusan budi untuk menulis Babad Diponegoro, namun memiliki kegarangan tempur untuk memimpin 70.000 pasukan rakyat melawan mesin perang Belanda.
Ledakan Genealogis 1825
Ketika Residen Smissaert dan Patih Danurejo IV memasang patok di atas tanah makam leluhur Diponegoro, mereka sejatinya sedang memantik sumbu dinamit yang telah dirakit selama berabad-abad. Penolakan Diponegoro bukan sekadar soal tanah warisan. Itu adalah manifestasi dari harga diri Arosbaya yang menolak diinjak, warisan Trunajaya yang menolak tunduk pada tirani asing, dan kesadaran Islam bahwa jihad fi sabilillah adalah jalan terakhir ketika kehormatan dinista.
Perang Jawa menjadi panggung di mana “Darah Lemah Duwur” kembali berbicara. Strategi gerilya Diponegoro yang memanfaatkan alam, kemampuannya memobilisasi santri dan petani, serta ketahanan mentalnya di hutan-hutan Selarong, mencerminkan ketangguhan leluhur Maduranya yang terbiasa hidup di alam keras bukit kapur dan lautan.
Sejarah mencatat Diponegoro kalah dan diasingkan ke Manado lalu Makassar. Namun, dalam kekalahan itu, ia berhasil membuat pemerintah kolonial bangkrut dan gemetar. Ia membuktikan bahwa Jawa—dengan sokongan semangat Arosbaya di dalamnya—bukanlah tanah yang pasrah.
Menengok kembali Perang Jawa dari lensa silsilah ini memberikan kita pemahaman baru. Bahwa perlawanan besar tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah akumulasi dari ingatan kolektif, luka masa lalu, dan darah para leluhur yang menolak untuk dilupakan.
Diponegoro adalah monumen hidup dari pertemuan dua kekuatan besar: Mataram dan Madura, gunung dan laut, petani dan pelaut. Dan di Tegalrejo, pada satu sore di bulan Juli 1825, warisan Panembahan Lemah Duwur itu meledak, menyisakan gema yang masih terdengar hingga hari ini.
Referensi:
Carey, Peter. (2012). Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). (Buku ini merupakan rujukan utama mengenai biografi Diponegoro dan silsilahnya).
De Graaf, H.J. & Pigeaud, T.G.Th. (1985). Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Jakarta: Grafiti Pers. (Untuk konteks sejarah Arosbaya, Mataram, dan Panembahan Lemah Duwur).
Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi. (Untuk konteks Perang Jawa dan Trunajaya).
Babad Diponegoro. (Naskah otobiografi yang ditulis oleh Pangeran Diponegoro selama pengasingan di Manado, diakui sebagai Memory of the World oleh UNESCO).
Tanoyo, Raden. Sadjarah Pangeran Dipanegara. (Naskah silsilah yang dirujuk dalam teks sumber untuk menarik garis keturunan ke Arosbaya).













