Gunung Ile Lewotolok di NTT erupsi 19 kali pada 28 Mei 2026, status Waspada. Masyarakat jauhi radius 2 km, gunakan masker cegah gangguan pernapasan.
INDONESIAONLINE – Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencatatkan 19 kali erupsi dalam periode pengamatan 24 jam penuh pada Kamis (28/5/2026), pukul 00.00 hingga 24.00 Wita. Erupsi yang terjadi secara berturut-turut sepanjang hari itu menghasilkan kolom abu setinggi 100 hingga 200 meter dengan warna asap putih dan kelabu.
“Erupsi disertai lontaran material pijar dan gemuruh lemah,” ujar Yeremias Kristianto Pugel, petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026) pagi.
Yeremias menjelaskan, berdasarkan data seismogram letusan tersebut memiliki amplitudo 11.1-59.7 mm, dan durasi sekitar 31-71 detik. Pada periode yang sama, alat pencatat seismik di pos pengamatan juga mendeteksi dua kali gempa tremor harmonik, satu kali gempa fase banyak, empat kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa tektonik lokal, dan tiga kali gempa tektonik jauh.
Secara visual, area puncak gunung terlihat jelas hingga kabut 0-II. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal dan tinggi 20-50 meter di atas puncak kawah.
Lembata sendiri merupakan kabupaten di NTT yang dikenal dengan budaya perburuan paus tradisional yang unik, serta keindahan alam gunung berapi Ile Lewotolok yang menjulang setinggi 1.623 meter di atas permukaan laut. Gunung ini menjadi daya tarik wisata utama bagi pendaki dan pecinta alam, namun aktivitas vulkaniknya yang fluktuatif sering kali mengganggu sektor pariwisata daerah tersebut.
Dari Erupsi Freatik ke Status Waspada
Ile Lewotolok merupakan salah satu dari tiga gunung berapi aktif di NTT yang masuk dalam pengawasan ketat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Menurut laporan tahunan PVMBG 2025, gunung ini menunjukkan aktivitas vulkanik konsisten sejak erupsi freatik besar pada November 2023, yang saat itu memuntahkan kolom abu setinggi 1,5 kilometer dan memaksa pengungsian 2.300 warga di desa-desa sekitar.
Status Gunung Ile Lewotolok saat ini berada pada Level II atau Waspada, sebagaimana ditegaskan Yeremias. PVMBG menetapkan Level II bagi gunung berapi yang menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik di atas level normal, namun belum menunjukkan ancaman letusan besar dalam waktu dekat.
Hingga Mei 2026, PVMBG mencatat total 12 gunung berapi di Indonesia berstatus Level II, tiga gunung berstatus Level III (Siaga), dan tidak ada gunung berstatus Level IV (Awas).
Data BMKG Stasiun Lembata menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan aktivitas tektonik signifikan di wilayah tersebut sebelum rangkaian erupsi 28 Mei 2026, sehingga pemicu utama aktivitas vulkanik dipastikan berasal dari pergerakan magma internal di bawah kawah gunung.
Tremor harmonik yang terdeteksi sebanyak dua kali merupakan indikator pergerakan fluida magma di tubuh gunung, namun amplitudo yang relatif rendah menunjukkan bahwa tekanan magma belum mencapai tingkat kritis untuk letusan eksplosif besar.
Jauhi Radius 2 Km, Waspadai Sektor Selatan
Yeremias menegaskan sejumlah imbauan bagi masyarakat sekitar maupun wisatawan yang hendak berkunjung ke kawasan Lembata. Pertama, masyarakat dilarang memasuki dan melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 2 kilometer dari pusat gunung. Kedua, warga diminta mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran atau longsoran lava dan awan panas pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut.
Ia menambahkan bahwa masyarakat yang berada di sekitar lokasi diimbau menggunakan masker atau alat pelindung untuk menghindari gangguan pernapasan maupun gangguan kesehatan lainnya yang disebabkan oleh abu vulkanik.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata 2024 menunjukkan bahwa paparan abu vulkanik selama erupsi 2023 menyebabkan kenaikan 40 persen kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah dalam radius 5 kilometer dari gunung. Abu vulkanik mengandung partikel silika halus yang dapat merusak jaringan paru-paru jika terhirup dalam waktu lama, sehingga penggunaan masker N95 atau masker bedah sangat disarankan bagi warga yang harus beraktivitas di luar ruangan.
Pos PGA Ile Lewotolok kini beroperasi 24 jam penuh untuk memantau perkembangan aktivitas vulkanik secara real-time. Masyarakat dapat mengakses informasi terbaru melalui kanal resmi PVMBG atau grup WhatsApp desa yang terhubung langsung dengan petugas pos pengamatan.
Wisata dan Pertanian Terancam
Rangkaian erupsi 19 kali dalam sehari ini dipastikan berdampak pada sektor ekonomi utama Kabupaten Lembata, yakni pariwisata dan pertanian. Data Dinas Pariwisata Lembata 2024 menunjukkan bahwa sektor pariwisata daerah tersebut mengalami penurunan kunjungan hingga 60 persen selama erupsi 2023, karena penutupan jalur pendakian Ile Lewotolok dan penerbangan ke Bandara Wonopito Lembata yang sempat tertunda akibat abu vulkanik.
Sektor pertanian juga menjadi salah satu yang paling terdampak. Warga di desa-desa sekitar gunung, seperti Desa Lamaau dan Desa Jontona, mayoritas menanam jagung, cassava, dan sayur-mayur yang sangat rentan terhadap paparan abu vulkanik. Data BPBD Lembata 2023 mencatat bahwa abu vulkanik yang menutupi tanaman menyebabkan penurunan hasil panen hingga 70 persen, karena gangguan pada proses fotosintesis tanaman.
Yohanes, seorang petani jagung di Desa Lamaau yang berjarak 3 kilometer dari puncak gunung, mengatakan bahwa abu vulkanik sudah mulai menutupi tanaman jagungnya sejak Kamis malam.
“Kami sudah membagikan masker gratis di desa, tapi belum ada rencana mengungsi karena status masih Waspada. Semoga erupsi segera berhenti agar tanaman kami tidak mati,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Lembata melalui BPBD setempat sudah menyiapkan sejumlah titik pengungsian di GOR Lembata dan balai desa terdekat, meski belum ada perintah evakuasi wajib. Stok masker dan obat-obatan untuk ISPA juga sudah didistribusikan ke puskesmas di desa-desa sekitar gunung, untuk mengantisipasi lonjakan kasus kesehatan akibat abu vulkanik.
Meski demikian, Yeremias memastikan bahwa status Level II masih aman bagi warga di luar radius 2 kilometer, asalkan mengikuti protokol mitigasi yang telah ditetapkan. Ia juga mengimbau warga untuk tidak menyebarkan informasi hoaks terkait aktivitas gunung, dan selalu merujuk pada informasi resmi dari PVMBG atau Pos PGA Ile Lewotolok.













