INDONESIAONLINE – Siapa tak kenal Sylvia Saartje. Wanita yang dijuluki Lady Rocker pertama Indonesia itu kini sudah berusia 70 tahun.
Namun, usia 70 tahun bukan menjadi garis akhir bagi Sylvia Saartje untuk berhenti berkarya. Lebih dari lima dekade berada di panggung musik Indonesia, Sylvia kembali membawa kabar baru dari Kota Malang.
Sylvia Saartje akan merayakan usia ke-70 sekaligus lebih dari 50 tahun kiprahnya di dunia musik Indonesia melalui Intimate Concert 70th Anniversary Sylvia Saartje yang digelar di Kota Malang, Sabtu (19/9/2026). Konser tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pukul 18.30 WIB hingga selesai di Dewa 19 Lounge, Alana Hotel, Kota Malang.
Bukan hanya menjadi panggung perayaan perjalanan panjang Sylvia. Konser tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan karya terbarunya yang berjudul ‘I Remember’.
Panitia penyelenggara menyebut konser ini menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan Sylvia Saartje yang selama puluhan tahun ikut mewarnai perkembangan musik Indonesia.
Kehadiran I Remember menjadi salah satu hal yang menarik dari konser tersebut. Di saat banyak musisi memilih mengandalkan katalog lama ketika memasuki usia senior, Sylvia justru masih menunjukkan produktivitas dengan memperkenalkan karya baru.
Nama Sylvia Saartje memiliki tempat tersendiri dalam sejarah musik rock Indonesia. Perjalanannya sudah dimulai sejak usia muda dan berlangsung lebih dari lima dekade.
Jauh sebelum teknologi digital memudahkan seseorang membuat musik, Sylvia telah tumbuh melalui panggung dan proses bermusik yang menuntut keberanian serta karakter vokal kuat.
Sejak masih berstatus pelajar, ia disebut sudah berani membawakan musikalitas dengan tingkat kesulitan tinggi, termasuk The Great Gig in the Sky. Keberanian tersebut menjadi salah satu gambaran karakter Sylvia yang sejak awal tidak ragu mengambil jalur musik yang keras dan penuh tantangan.
Namanya semakin dikenal pada era 1970-an. Salah satu karya yang sangat lekat dengan perjalanan kariernya adalah Biarawati, disusul Jakarta Blue Jeansku serta sejumlah karya lainnya.
Biarawati sendiri merupakan lagu ciptaan Ian Antono yang kemudian menjadi salah satu nomor yang sangat identik dengan Sylvia. Sementara Jakarta Blue Jeansku merupakan karya Farid Harja.
Perjalanan panjang tersebut turut mengantarkan Sylvia memperoleh julukan The First Lady Rocker Indonesia dari Majalah Aktuil. Predikat itu menjadi penanda penting dalam sejarah ketika panggung musik rock masih sangat didominasi penyanyi laki-laki.
Namun, Sylvia tidak berhenti sebagai penyanyi yang hanya mengandalkan lagu-lagu lama. Ia juga pernah menunjukkan kiprahnya sebagai pencipta lagu. Dalam perjalanan kariernya, sejumlah karya personal lahir dari pengalaman hidup dan pandangannya terhadap kehidupan
Salah satunya adalah Kepada Siapa Aku Mengadu, yang memiliki arti emosional bagi Sylvia. Ia juga pernah membawakan karya seperti Manusia dan Love Is The Answer.
Kini, setelah lebih dari 50 tahun berkarya, Sylvia kembali menambah daftar perjalanan tersebut melalui I Remember.
Inisiator konser, Satrya Paramanandana mengatakan, konsep pertunjukan kali ini tidak semata-mata dibuat untuk bernostalgia. Ada upaya lebih besar untuk kembali memperkenalkan tokoh seniman Malang kepada masyarakat, khususnya generasi yang mungkin tidak mengalami langsung masa kejayaan musik rock Sylvia. “Dari kami, ingin mengangkat tokoh seni Malang supaya lebih diingat lagi oleh masyarakat,” ujar Satrya.
Konsep intimate dipilih agar interaksi antara Sylvia, musisi dan penonton terasa lebih dekat. Panitia juga menyiapkan invitation package yang dilengkapi merchandise melalui sejumlah pilihan bundling dari Soendari Batik.
Tidak hanya mengandalkan penampilan Sylvia seorang diri, konser ini juga mempertemukan sejumlah musisi lintas generasi. Sylvia akan tampil bersama Iksan Skuter, Elizabeth Natalia, dan Kidnep Flanella.
Pertunjukan tersebut juga melibatkan Norman Duarte sebagai music composer. Kehadiran musisi dari generasi berbeda itu menjadi bagian dari konsep untuk menghubungkan warisan musik rock Sylvia dengan perkembangan musik saat ini.
“Kami ingin kolaborasi kan musisi saat ini, dan terutama yang relate dengan musik rock,” kata Satrya.
Sekitar sembilan hingga 10 lagu dipersiapkan untuk konser tersebut. Beberapa lagu juga akan mendapatkan aransemen ulang sehingga menghadirkan warna berbeda tanpa menghilangkan karakter musik Sylvia.
Puluhan tahun berada di industri musik membuat Sylvia melihat langsung perubahan besar dalam cara musik diciptakan dan dinikmati.
Menurut dia, musik pada masa ketika dirinya memulai karier belum memiliki warna sebanyak sekarang. Kala itu, musik rock memiliki karakter yang lebih kuat dengan hard rock menjadi salah satu arus utama.
“Banyak perubahan pada musik. Zaman saya belum banyak warna. Dulu hanya hard rock, sekarang sudah banyak sekali macam musik,” ujar Sylvia.
Meski perkembangan musik semakin luas, ia mengaku tidak meninggalkan akar yang telah menjadi identitasnya. “Tapi aku tetap classic rock,” lanjutnya.
Perubahan paling besar juga datang dari teknologi. Kehadiran perangkat digital hingga kecerdasan buatan atau AI membuat siapa pun kini dapat menciptakan musik dengan proses yang jauh lebih cepat.
“Apalagi dengan mesin saat ini, terutama AI, lebih mudah lagi semua bikin lagu,” katanya.
Sylvia merasakan sendiri perbedaan tersebut dengan era ketika dirinya mulai berkarya. “Zaman saya nulis (lirik lagu, red) dengan musik langsung,” imbuhnya.
Namun, ia tidak mempersoalkan kehadiran teknologi. Baginya, semua perkembangan tersebut sah digunakan selama karya tetap memiliki proses kreatif. “Tapi semua sah-sah saja, tapi sebuah karya, menurut saya ditulis,” tegas Sylvia.
Menariknya, justru di tengah kemajuan teknologi tersebut, Sylvia berhasil menciptakan lagu barunya dengan proses yang sangat cepat. Ia menyebut I Remember menjadi salah satu lagu yang paling cepat selesai sepanjang perjalanan kariernya. “Buat lagu baru ini tercepat selama saya berkarir,” ungkapnya.
“Karena dengan total 3 jam dengan nongkrong dan ngobrol, mungkin 3 hingga 5 menit, lagu itu sudah jadi. Jadi saya nulis lirik, dibantu petikan gitar dan jadi” sambung Sylvia.
Karya-karya terbaru Sylvia juga tidak hanya berbicara mengenai musik rock. Ia menyebut terdapat lagu yang ditujukan untuk penyandang disabilitas serta karya yang menyasar kalangan remaja.
Energi Sylvia di atas panggung juga menjadi bagian yang membuat perjalanan kariernya tetap menarik. Memasuki usia 70 tahun, ia masih menjaga rutinitas yang diyakininya membuat tubuh dan pikirannya tetap bugar.
Latar belakang keluarga turut membentuk kebiasaan tersebut. “Aku terbiasa melakukan hal baik, mamiku orang Jawa, bapak aku orang Ambon,” kata Sylvia.
Ia mendapatkan didikan Jawa yang kuat sejak kecil. Berbagai aturan, pantangan hingga kebiasaan hidup kemudian membentuk kedisiplinan yang terus dibawanya hingga dewasa. Sylvia bahkan menyebut dirinya sebagai anak pingitan. Dunia panggung dan musik rock yang kemudian dijalaninya seolah menjadi ruang bagi dirinya untuk mengekspresikan energi yang dahulu tidak banyak tersalurkan.
“Didikan terbiasa Jawa, puasa dan larangan macam-macam ada banyak. Bahkan aku melabelkan diri anak pingitan,” ujarnya. “Nyanyi teriak-teriak, mungkin ini pemberontakan dari diri,” lanjut Sylvia sembari tertawa.
Salah satu rutinitas yang masih dijaganya adalah bangun pagi. Sekitar pukul 04.00, ia terbiasa bangun, minum air putih, berdoa dan menikmati suara alam hingga matahari terbit.
“Aku jam 4 itu selalu bangun , aku minum dan berdoa. Dan aku selalu mendengarkan suara alam sampai matahari terbit,” ungkapnya.
Bagi Sylvia, energi untuk menjalani kehidupan tidak hanya datang dari rutinitas fisik. Ada sikap batin yang terus dijaga, yakni rasa syukur dan penerimaan terhadap kehidupan. “Bersyukur, ikhlas dan menerimanya apa adanya,” pungkas Sylvia.
Intimate Concert 70th Anniversary Sylvia Saartje dipersembahkan oleh Soendari Batik & Art Konser ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap dedikasi, kiprah, karya dan pengaruh Sylvia dalam perjalanan musik Indonesia.
Keberadaan Sylvia bukan sekadar penting bagi sejarah musik rock, tetapi juga memiliki nilai inspiratif bagi perempuan lintas generasi.
Konser tersebut diarahkan menjadi ruang apresiasi terhadap sosok Sylvia Saartje yang dinilai memberikan inspirasi perjuangan hidup untuk menjadi legenda, terutama bagi perempuan dari generasi masa lalu, masa kini hingga generasi mendatang. (hsa/hel)







