9 WNI relawan Global Sumud Flotilla tiba di RI usai ditahan Israel, disambut Menlu Sugiono, beberkan kekerasan fisik, dibantu Turki-Yordania-Mesir.
INDONESIAONLINE – Hujan rintik menyapu landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) pada Minggu (24/5/2026) sore, tapi dingin itu tak menyurutkan senyum di wajah sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang baru saja melangkah keluar dari pesawat charter Turkish Airlines.
Mereka adalah relawan kemanusiaan yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF), yang sempat ditahan militer Israel selama tiga hari usai membawa bantuan ke Gaza. Menteri Luar Negeri RI Sugiono langsung menyambut mereka di ruang kedatangan, memeluk satu per satu relawan yang sebagian masih membalut luka memar di lengan dan punggung.
“Selamat datang kembali. Pemerintah sangat prihatin dengan trauma fisik yang kalian alami, kami sudah siapkan tim medis dan psikolog untuk pemulihan,” ujar Sugiono, suaranya serak menahan haru.
Ratusan keluarga relawan juga menunggu di ruang kedatangan. Ronggo Wirasanu, relawan dari Dompet Dhuafa, langsung berlari ke pelukan ibunya yang menangis histeris. “Anakku, kau selamat,” ujar sang ibu sambil sesenggukan.
Data Kemlu RI menunjukkan, total 142 WNI telah dievakuasi dari zona konflik di Timur Tengah sepanjang 2025-2026, dengan 9 di antaranya adalah relawan GSF kali ini.
Sugiono menambahkan, pemerintah mengucapkan terima kasih kepada Turki yang memfasilitasi penerbangan dari Pelabuhan Ashdod ke Istanbul, serta Yordania dan Mesir yang membantu jalur evakuasi darat dari Gaza ke pelabuhan Israel.
“Diplomasi kemanusiaan tidak bisa berjalan sendiri, kami sangat menghargai dukungan negara sahabat,” imbuhnya.
Kronologi Intersepsi Militer Israel di Perairan Gaza
Insiden bermula pada Senin (18/5/2026) pukul 09.00 waktu setempat, saat 12 kapal GSF yang membawa 12.300 ton bantuan medis, pangan, dan alat sekolah untuk warga Gaza dicegat militer Israel di perairan 12 mil laut lepas pantai Gaza. Pelanggaran hukum internasional ini merujuk pada UN Convention on the Law of the Sea 1982 yang menjamin kebebasan navigasi sipil.
GSF, flotila kemanusiaan terbesar sejak 2010, membawa 450 relawan dari 42 negara. Tiga kapal utama, termasuk Zapyro, Josef, dan Kasr-1 yang membawa 9 WNI, dihentikan paksa, relawan diperintahkan turun dengan todongan senjata, lalu dibawa ke pusat penahanan Ashdod. Data UN OCHA 2026 mencatat, 312 pekerja kemanusiaan telah ditahan Israel sejak 2023, dengan 47% di antaranya melaporkan kekerasan fisik.
Andre Prasetyo Nugroho, jurnalis Tempo yang ikut dalam kapal Ozgurluk, mengaku mengalami penyiksaan paling parah. “Mereka menutup kepala saya dengan kantong plastik hitam, lalu menyetrum saya tiga kali dengan senjata stun gun saat saya meminta air minum. Kami ditahan di sel sempit bersama 20 orang lainnya, tanpa kasur, toilet hanya berupa lubang di lantai,” ujar Andre, yang masih terlihat pucat saat berbicara.
Herman Budianto, relawan Dompet Dhuafa di kapal Zapyro, menambahkan ia dipukul dengan popor senapan di punggung saat mencoba memotret kondisi sel tahanan.
“Punggung saya masih sakit hingga sekarang, dokter bilang butuh terapi fisik selama tiga bulan,” katanya.
Amnesty International dalam laporan 21 Mei 2026 menyebut, 87 relawan GSF yang ditahan tidak diberikan akses ke konsulat masing-masing selama 72 jam pertama, melanggar Konvensi Jenewa 1949 tentang perlindungan warga sipil.
Peran Diplomasi RI dan Negara Sahabat dalam Evakuasi
Kemlu RI langsung mengirimkan 18 nota protes (demarche) ke Kedutaan Besar Israel di Jakarta sejak 18 Mei, menuntut pembebasan segera para relawan tanpa syarat. Diplomasi jalur belakang juga dilakukan dengan Pemerintah Turki, yang berhasil memfasilitasi pemindahan relawan dari Ashdod ke Istanbul pada Kamis (21/5/2026).
“Turki memberi akses penuh ke konsulat kita di Istanbul untuk memverifikasi identitas WNI, lalu memfasilitasi penerbangan langsung ke Jakarta,” ujar Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Judha Nugraha.
Yordania dan Mesir juga membantu membuka jalur darat bagi relawan yang sempat masuk ke wilayah Gaza sebelum intersepsi. Data Kemlu menunjukkan, Indonesia telah menyumbang $12,7 juta bantuan kemanusiaan ke Gaza pada 2025-2026, menjadikannya salah satu donor terbesar dari Asia Tenggara.
Sugiono menegaskan, pemerintah akan terus memantau pemulihan kesehatan 9 relawan, termasuk menanggung biaya pengobatan fisik dan psikologis. “Kami juga akan membawa kasus penyiksaan ini ke Dewan HAM PBB pada sidang Juni mendatang, Israel harus bertanggung jawab atas pelanggaran hukum internasional,” tegasnya.
Konflik Israel-Palestina sendiri telah menyebabkan 80% populasi Gaza (2,3 juta orang) bergantung pada bantuan kemanusiaan sejak blokade 2007, menurut data UNRWA 2026. GSF berencana mengirimkan flotila kedua pada Agustus 2026, namun belum ada relawan Indonesia yang menyatakan siap bergabung kembali.
“Kami masih trauma, tapi kami bangga pernah membantu warga Gaza yang kelaparan,” ujar Thoudy Badai, relawan dari Republika.
Berikut adalah daftar lengkap 9 relawan berdasarkan laporan GSF:
- Herman Budianto Sudarson (GPCI-Dompet Dhuafa) – Kapal Zapyro
- Ronggo Wirasanu (GPCI-Dompet Dhuafa) – Kapal Zapyro
- Andi Angga Prasadewa (GPCI-Rumah Zakat) – Kapal Josef
- Asad Aras Muhammad (GPCI-Spirit of Aqso) – Kapal Kasr-1
- Hendro Prasetyo (GPCI-SMART 171) – Kapal Kasr-1
- Bambang Noroyono (Republika) – Kapal BoraLize
- Thoudy Badai Rifan Billah (Republika) – Kapal Ozgurluk
- Andre Prasetyo Nugroho (Tempo) – Kapal Ozgurluk
- Rahendro Herubowo (Tim Media GPCI dan iNews) – Kapal Ozgurluk
Kepulangan 9 relawan ini menjadi pengingat akan harga dari solidaritas kemanusiaan, di tengah hambatan politik dan militer yang terus menimpa warga Palestina. RI tetap berkomitmen menjadi suara bagi rakyat tertindas, meski harus menghadapi risiko diplomatik dan ancaman pada warganya sendiri.
“Kami tidak akan berhenti mengirimkan bantuan selama Gaza masih membutuhkan,” tutup Sugiono.













