Giant Sea Wall 535 Km Disiapkan Lindungi Pesisir Pantura Jawa

Giant Sea Wall 535 Km Disiapkan Lindungi Pesisir Pantura Jawa
Peta Pulau Jawa. Nanti di Pantai Utata Jawa, akan dibangun proyek tanggul laut dari Provinsi Banten hingga Jatim. (ist)

INDONESIAONLINE – Pemerintah merencanakan pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall (GSW) di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa sebagai upaya melindungi kawasan Pantai Utara (Pantura) dari berbagai ancaman lingkungan.

Infrastruktur perlindungan pesisir ini diproyeksikan membentang sekitar 535 kilometer, mencakup lima provinsi mulai dari Banten hingga Jawa Timur.
Secara terperinci, panjang tanggul yang akan dibangun meliputi 42,5 kilometer di Banten, 42,8 kilometer di DKI Jakarta, 104 kilometer di Jawa Barat, 274,7 kilometer di Jawa Tengah, serta 71,6 kilometer di Jawa Timur. Proyek tersebut akan melintasi lima wilayah kota dan 25 kabupaten di sepanjang Pantura.

Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ)nDidit Herdiawan Ashaf menjelaskan bahwa pembangunan GSW menjadi bagian dari strategi nasional untuk menjaga keberlanjutan kehidupan dan aktivitas di kawasan pesisir utara Jawa. Menurut dia, perlindungan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada garis pantai, tetapi juga pada ruang hidup masyarakat pesisir, pusat-pusat ekonomi, dan kelangsungan generasi mendatang. Pendekatan pembangunan dirancang bertahap, terukur, dan berbasis kajian ilmiah.

Didit menambahkan, konsep perlindungan pesisir Pantura tidak semata berupa tanggul laut, melainkan sistem terpadu yang menggabungkan tanggul lepas pantai (offshore dike), tanggul darat (onshore dike), serta solusi berbasis alam seperti rehabilitasi dan penguatan ekosistem mangrove.

Kawasan Pantura Jawa saat ini menghadapi berbagai tekanan serius. Antara lain penurunan muka tanah, kenaikan permukaan laut, banjir akibat curah hujan tinggi, dan banjir rob. Dampaknya dirasakan pada permukiman warga, kawasan industri, pelabuhan, bandara, lahan pertanian, hingga penyusutan garis pantai serta daratan, termasuk infrastruktur strategis nasional.

Diperkirakan sekitar 17 juta penduduk tinggal di wilayah yang terdampak risiko tersebut, padahal kawasan Pantura memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Karena itu, GSW dirancang bukan sebagai satu bangunan tunggal yang dikerjakan sekaligus, melainkan sistem perlindungan yang dibangun bertahap sesuai tingkat risiko, kondisi teknis, dan kebutuhan masing-masing wilayah.

Selain berfungsi sebagai pelindung pesisir, pembangunan tanggul laut juga diharapkan memberi manfaat tambahan bagi masyarakat, termasuk nelayan. Struktur tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan fasilitas strategis seperti jalan tol, pembangkit listrik tenaga bayu dan surya, serta pembentukan danau retensi guna mendukung penyediaan air baku.

Didit menegaskan, upaya perlindungan pesisir Pantura Jawa merupakan investasi jangka panjang agar wilayah pesisir tetap aman, produktif, dan berkelanjutan bagi generasi kini maupun mendatang. (rds/hel)