Lebih 110 juta kerikil lontar jumrah haji 2025 dikelola Saudi pakai teknologi konveyor canggih; simak nasib pebbles pasca-ritual & peran amal.
INDONESIAONLINE – Saat fajar menyingsing di Lembah Mina pada 10 Zulhijah 1446 H (16 Juni 2025), 1,83 juta jamaah haji dari 180 negara memulai puncak ritual lontar jumrah, melempar kerikil ke tiga pilar Jamarat sebagai simbol penolakan terhadap godaan iblis, meneladani kisah Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS yang gigih melawan rayuan setan saat hendak menaati perintah Allah SWT.
Di balik kekhusyukan ritual ini, muncul pertanyaan yang hampir selalu dilontarkan jamaah: ke mana perginya total 110 juta butir kerikil yang dilemparkan setelah Lembah Mina kembali sepi pasca-musim haji?
Pemerintah Arab Saudi telah menyiapkan sistem pengelolaan berbasis sains dan teknologi canggih yang diterapkan secara rapih sejak 2025, memastikan tidak ada satupun butir kerikil yang terbuang sia-sia. Sistem ini merupakan bagian dari inisiatif Smart Hajj dalam Visi Saudi 2030, yang mengintegrasikan inovasi ramah lingkungan ke dalam setiap aspek ibadah haji.
110 Juta Kerikil & 1,83 Juta Jamaah
Ritual lontar jumrah dimulai tepat pada Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijah), saat jamaah melempar 7 butir kerikil ke pilar Jumrah Aqaba. Pada dua hari berikutnya yang dikenal sebagai hari Tasyrik (11-12 Zulhijah), jamaah melempar masing-masing 7 butir kerikil ke tiga pilar: Jumrah Ula (pilar kecil), Jumrah Wusta (pilar sedang), dan Jumrah Aqaba.
Bagi jamaah yang memilih Nafar Awal (pulang lebih awal setelah 3 hari melontar), total kerikil yang dihabiskan adalah 49 butir. Sementara jamaah Nafar Tsani yang bertahan hingga 13 Zulhijah akan menghabiskan 70 butir kerikil.
Data resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi 2025 menunjukkan, 65% jamaah memilih opsi Nafar Awal, sementara 35% sisanya memilih Nafar Tsani, dengan rata-rata penggunaan 60 butir kerikil per jamaah.
Total keseluruhan mencapai 109,8 juta butir, yang dibulatkan menjadi 110 juta butir—angka yang jauh lebih besar dari perkiraan 100 juta butir pada musim haji 2024, seiring meningkatnya kuota jamaah global pasca-pandemi.
Berdasarkan data Badan Penyelenggara Keuangan Haji (BPKH) RI 2025, Indonesia mengirimkan 221.000 jamaah pada 2025, berkontribusi sekitar 13,26 juta butir kerikil dari total nasional.
Ibu Siti Aminah, 58 tahun, jamaah asal Bandung yang menunaikan haji perdana pada 2025, mengaku sempat khawatir dengan nasib kerikil yang ia lemparkan.
“Saat pertama kali melontar, saya berpikir jangan-jangan kerikil ini cuma numpuk jadi sampah. Tapi petugas di lokasi bilang Saudi sudah punya sistem canggih untuk mengelolanya. Lega rasanya tahu tidak ada yang terbuang sia-sia,” ujar Siti saat dihubungi setelah kembali ke Tanah Air.
Secara spiritual, ritual ini bukan sekadar lempar batu. Setiap butir kerikil yang dilempar adalah komitmen jamaah untuk menjauhi perbuatan buruk dan mengikuti teladan keluarga Nabi Ibrahim AS. “Kami tidak hanya melempar batu, tapi juga melempar niat buruk dalam diri kami. Jadi pengelolaannya pun harus bermartabat,” tambah Siti.
Sistem Konveyor 15 Meter Bawah Tanah: Teknologi Canggih Kelola Pebbles
Tidak seperti dekade lalu di mana kerikil lontar jumrah dibiarkan menumpuk di sekitar pilar, fasilitas Jamarat kini memiliki basement sedalam 15 meter persis di bawah area lempar, yang dibangun pasca-tragedi stampede 2006.
Seluruh kerikil jatuh secara vertikal ke basement tersebut, lalu diangkut menggunakan 14 jalur sabuk konveyor (conveyor belt) masing-masing sepanjang 220 meter, dengan total kapasitas 7.000 ton per jam.
Sistem ini mendapatkan upgrade signifikan pada 2025 dengan investasi $150 juta, sebagaimana dilansir Saudi Press Agency (SPA) 2025. Seluruh konveyor kini menggunakan tenaga surya penuh, menjadikannya ramah lingkungan.
Setelah terkumpul di sabuk konveyor, kerikil melewati proses penyaringan (sieving) berbantuan AI untuk memisahkan debu, pasir, dan kotoran organik. Selanjutnya, kerikil disemprot air bertekanan tinggi 120 bar (naik dari 100 bar pada 2024) untuk membersihkan sisa kotoran, lalu di-sterilisasi menggunakan sinar UV sesuai standar kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Basement 15 meter ini dirancang khusus agar tidak mengganggu arus jamaah di atas. Sabuk konveyor bekerja 24 jam selama musim haji, sehingga tidak ada tumpukan kerikil yang menghambat pergerakan jamaah. Sistem 2025 sudah 100% otomatis, tidak ada intervensi manusia hingga tahap penyimpanan,” kata Juru Bicara Kementerian Haji Saudi, Hisham Al-Saeed, dalam keterangan resmi Juni 2025.
Kerikil yang sudah bersih lalu disimpan di gudang beriklim terkendali di Mina dengan kapasitas 250.000 ton, menunggu pengolahan lebih lanjut setelah musim haji berakhir.
Dari Daur Ulang hingga Souvenir: Nasib Kerikil Pasca-Haji
Setelah musim haji 2025 usai, kerikil yang sudah dibersihkan dikelola dalam tiga jalur utama. Sebanyak 75% di antaranya disimpan untuk digunakan kembali pada musim haji 2026, memastikan siklus daur ulang yang berkelanjutan.
Sebanyak 20% digunakan sebagai material konstruksi untuk fasilitas publik di Mina, seperti toilet jamaah, area istirahat, dan jalur pejalan kaki. Sisa 5% di kemas menjadi suvenir “Haji Mabrur” dalam kantong katun ramah lingkungan bertuliskan “Lontar Jumrah 1446H”.
Data Asosiasi Hadiah Amal Jamaah Haji & Umrah Makkah 2025 menunjukkan, 15.000 paket suvenir dijual di Bandara King Abdulaziz Makkah pada 2025, menghasilkan $300.000 (sekitar Rp 4,8 miliar). Seluruh hasil penjualan disumbangkan untuk membiayai haji jamaah kurang mampu dari negara berkembang di Afrika dan Asia Tenggara.
“Setiap pebbles memiliki nilai ibadah, jadi kami pastikan tidak ada yang terbuang sia-sia. Hasil souvenir langsung disalurkan ke jamaah yang butuh bantuan biaya haji,” ujar Ketua Asosiasi Hadiah Amal, Ahmad Al-Makki.
Sebelum sistem modern diterapkan pada 2015, 90% kerikil lontar jumrah dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mina, menyebabkan penumpukan limbah hingga 40% dari total sampah haji. Kini, Saudi Ministry of Environment 2025 melaporkan, efisiensi daur ulang kerikil mencapai 99%, mengurangi limbah TPA Mina secara drastis.
Visi 2030 untuk Ibadah Berkelanjutan
Pengelolaan kerikil tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga melibatkan lembaga sosial seperti Asosiasi Hadiah Amal Jamaah Haji & Umrah yang bekerja sama dengan Perusahaan Kedana. Pada musim haji 2025, organisasi ini menyediakan 85.000 kantong kerikil siap pakai yang didistribusikan di 350 titik layanan di Muzdalifah dan fasilitas Jembatan Jamarat, naik dari 80.000 kantong dan 300 titik pada 2024. Ini memudahkan jamaah yang kesulitan mengumpulkan kerikil sendiri di Muzdalifah.
Sebagai bagian dari inisiatif Smart Hajj 2025, setiap kantong kerikil kini dilengkapi kode QR yang terintegrasi dengan gelang pintar jamaah, memungkinkan pelacakan real-time distribusi kerikil.
Menteri Haji dan Umrah Saudi, Tawfiq Al-Rabiah, menegaskan bahwa pengelolaan kerikil mencerminkan komitmen Saudi untuk menjaga kesucian ritual sekaligus melindungi lingkungan. “Visi 2030 mewajibkan kami mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan dalam setiap aspek haji. Pengelolaan pebbles adalah contoh kecil bagaimana kami menjaga kesucian ritual sekaligus melindungi bumi untuk generasi mendatang,” katanya.
Bagi jamaah seperti Siti Aminah, sistem ini menghilangkan kekhawatiran akan limbah ritual. “Saya pulang haji dengan tenang, tahu bahwa kerikil yang saya lempar tidak mencemari lingkungan, malah bisa membantu jamaah lain di masa depan. Ini bukti Saudi sangat serius melayani tamu Allah,” tutup Siti.
Lebih dari sekadar jawaban atas rasa penasaran jamaah, pengelolaan 110 juta kerikil lontar jumrah adalah perpaduan sempurna antara tradisi spiritual dan inovasi teknologi, yang memastikan setiap tetes keringat jamaah haji dihargai dengan pengelolaan yang bermartabat dan berkelanjutan.













