Takjil Malang 2026: Antara Manisnya Kolak dan Ancaman Bakteri E.Coli

Takjil Malang 2026: Antara Manisnya Kolak dan Ancaman Bakteri E.Coli
Ilustrasi pasar takjil (io)

Dinkes Malang rilis hasil uji takjil 2026. Meski 98,8% aman, ancaman E.coli dan pewarna tekstil masih mengintai di balik sajian berbuka puasa.

INDONESIAONLINE – Aroma manis gula aren dan gurihnya santan menyeruak di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta hingga kawasan Sawojajar setiap sore menjelang waktu berbuka. Hiruk-pikuk warga yang berburu takjil menjadi pemandangan rutin yang menghidupkan ekonomi kerakyatan di Kota Malang selama bulan suci Ramadan.

Namun, di balik warna-warni es campur yang menggoda dan legitnya kue basah, tersimpan pertanyaan klasik yang selalu menghantui setiap tahun: seberapa aman makanan ini masuk ke dalam tubuh kita?

Tahun ini, jawaban dari pertanyaan tersebut membawa angin segar, meski menyisakan catatan kritis yang tak bisa diabaikan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang baru saja merilis hasil pengawasan intensif terhadap sentra-sentra kuliner Ramadan. Angka statistik menunjukkan tren positif, namun ada “musuh tak kasat mata” yang masih lolos dari pengawasan dapur para pedagang.

Mayoritas Aman, Tapi Jangan Lengah

Senin siang (2/3/2026), suasana di Kantor Dinas Kesehatan Kota Malang tampak sibuk. Kepala Dinkes, dr. Husnul Muarif, memaparkan hasil kerja timnya yang telah bergerilya selama tiga hari, mulai 23 hingga 26 Februari 2026.

Mereka tidak bekerja sendirian, melainkan menggandeng jejaring puskesmas dan kelurahan untuk menyisir 19 titik pasar takjil strategis di lima kecamatan: Klojen, Blimbing, Lowokwaru, Sukun, dan Kedungkandang.

“Laporan dari teman-teman yang ada di Google Spreadsheet, 98,8 persen sampel memenuhi syarat. Itu hasil pengambilan sampel dari pasar takjil di lima kecamatan,” ungkap Husnul dengan nada optimistis.

Angka 98,8 persen ini tentu melegakan. Ini berarti dari ribuan porsi makanan yang terjual, sebagian besar telah diproses dengan standar yang layak. Tidak ada temuan bahan kimia mengerikan seperti Boraks pada 73 sampel kerupuk dan bakso yang diuji. Begitu pula dengan Formalin (pengawet mayat) yang hasilnya nihil pada 72 sampel mie dan tahu, serta Methanil Yellow (pewarna tekstil kuning) yang negatif pada 25 sampel gorengan dan nasi kuning.

Capaian ini menunjukkan bahwa edukasi bertahun-tahun mengenai bahaya pengawet mayat dan bleng (boraks) mulai tertanam kuat di benak produsen makanan rumahan di Malang. Namun, rasa aman ini tidak boleh membuat konsumen terlena. Sebab, ancaman kesehatan kini bergeser dari bahan kimia keras ke masalah sanitasi dasar dan pewarna tekstil merah.

Jejak Kotor di Balik Kesegaran Es

Data yang disajikan Dinkes menyingkap fakta yang cukup mengkhawatirkan pada sektor minuman dan makanan basah. Dari total 101 sampel yang diuji mikrobiologi, ditemukan 9,9 persen positif mengandung bakteri Escherichia coli (E.coli). Artinya, sebanyak 10 sampel minuman atau makanan basah dinyatakan tidak layak konsumsi karena terkontaminasi tinja atau kotoran.

Bagi awam, angka 10 sampel mungkin terdengar kecil. Namun dalam perspektif kesehatan masyarakat, ini adalah sinyal merah. Bakteri E.coli bukanlah kontaminan sepele. Keberadaannya dalam makanan adalah indikator kuat buruknya sanitasi.

“Keberadaan E.coli menunjukkan adanya kontaminasi fekal. Ini bisa berasal dari air mentah yang digunakan untuk membuat es batu, tangan pedagang yang tidak dicuci bersih setelah dari toilet, atau pencucian peralatan makan yang menggunakan air kotor berulang kali,” jelas seorang pakar kesehatan masyarakat dari salah satu universitas di Malang yang enggan disebut namanya, menanggapi temuan ini.

Jika tertelan, bakteri ini dapat memicu diare hebat, kram perut, hingga gagal ginjal pada kasus ekstrem, terutama bagi anak-anak dan lansia yang daya tahan tubuhnya rentan. Bayangkan, niat hati ingin menyegarkan dahaga saat berbuka, justru berakhir di ruang unit gawat darurat.

Temuan ini menjadi ironi di tengah status Kota Malang yang terus berbenah menuju kota wisata sehat. Masih adanya pedagang yang mengabaikan higienitas air dan sanitasi pribadi menunjukkan bahwa pekerjaan rumah pemerintah belum selesai.

Warna Merah yang Membawa Petaka

Selain bakteri, mata elang petugas Dinkes juga menangkap kilau warna merah yang tidak wajar pada sejumlah kudapan. Dari 69 sampel makanan berwarna mencolok yang diuji, empat di antaranya (5,8 persen) positif mengandung Rhodamin B.

Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang lazim digunakan dalam industri tekstil dan kertas. Warnanya yang merah menyala dan berpendar memang memikat mata, apalagi bagi anak-anak yang gemar membeli gulali, kerupuk pasir, atau sirup es.

Harganya yang murah dan warnanya yang stabil membuat pedagang nakal atau yang kurang edukasi memilih jalan pintas ini ketimbang menggunakan pewarna makanan food grade yang lebih mahal.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara konsisten telah melarang penggunaan zat ini dalam pangan. Konsumsi Rhodamin B dalam jangka panjang dapat menyebabkan penumpukan racun di hati (liver), memicu iritasi saluran cerna, hingga bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.

“Kami sudah menindaklanjuti temuan ini karena di data terdapat jelas alamat dan nama pedagangnya. Kami menyampaikan secara persuasif kalau makanan dan minuman yang disajikan mengandung bahan tak direkomendasikan,” tegas Husnul.

Langkah Dinkes yang langsung menyasar by name by address patut diapresiasi. Pendekatan ini bukan untuk mematikan usaha rakyat kecil, melainkan menyelamatkan mereka dari potensi tuntutan hukum dan, yang lebih penting, menyelamatkan nyawa konsumen.

Dilema Pedagang Dadakan

Mengapa pelanggaran ini masih terjadi di tahun 2026? Jawabannya kompleks, namun salah satu faktor utamanya adalah fenomena “pedagang dadakan”.

Ramadan adalah momen di mana siapa saja bisa menjadi penjual makanan. Ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pekerja yang terkena PHK, semua tumpah ruah ke jalanan menjajakan takjil demi meraup rezeki tahunan. Sayangnya, semangat wirausaha ini seringkali tidak dibarengi dengan pengetahuan tentang Keamanan Pangan (Food Safety).

Husnul Muarif mengakui adanya celah ini. Pihaknya memang rutin menggelar pelatihan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi penjamah makanan (food handler). Namun, program ini biasanya menyasar katering, restoran, atau pedagang tetap. Pedagang yang hanya muncul sebulan dalam setahun seringkali luput dari radar pembinaan.

“Itu yang belum kami latih untuk pelatihan penjamah makanan, tapi sudah mendapatkan informasi dari teman-teman (di lapangan),” tutur Husnul mengakui keterbatasan jangkauan programnya.

Edukasi bagi pedagang musiman ini menjadi tantangan tersendiri. Mereka mungkin tidak berniat jahat meracuni pembeli. Seringkali, ketidaktahuanlah yang menjadi penyebabnya. Misalnya, mereka tidak tahu bahwa es balok yang dijual murah di pasaran seringkali dibuat dari air mentah yang hanya peruntukkan mendinginkan ikan, bukan untuk dikonsumsi langsung dalam es campur. Atau, mereka membeli kerupuk mentah di pasar grosir tanpa tahu produsennya menggunakan pewarna tekstil.

Di tengah keterbatasan pengawasan pemerintah yang tidak mungkin memantau setiap gerobak dagangan selama 24 jam, benteng pertahanan terakhir ada pada konsumen itu sendiri. Masyarakat Kota Malang dituntut untuk menjadi “Konsumen Cerdas”.

Slogan “Cek KLIK” (Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa) yang dikampanyekan BPOM tetap relevan, namun untuk jajanan pasar takjil yang tanpa kemasan pabrik, indera manusialah yang menjadi alat uji utama.

Untuk menghindari E.coli, hindari membeli minuman dengan es batu balok yang bentuknya tidak beraturan dan berwarna putih susu keruh (tanda banyak gas terperangkap dan pembekuan tidak higienis). Pilihlah es kristal yang bening dan berlubang tengah yang biasanya diproduksi pabrik dengan standar air matang/filtrasi.

Untuk menghindari Rhodamin B, waspadalah pada makanan berwarna merah yang terlalu mencolok dan berpendar (fluorescent). Jika warna tersebut membekas di kulit atau lidah dan sulit hilang dengan air, besar kemungkinan itu adalah pewarna tekstil. Pewarna makanan alami atau food grade biasanya warnanya lebih soft, mudah pudar, dan tidak meninggalkan noda membandel.

Membangun Ekosistem Kuliner Sehat

Hasil pengawasan takjil Ramadan 2026 di Malang ini memberikan gambaran ganda. Di satu sisi, ada keberhasilan dalam menekan penggunaan bahan kimia berbahaya seperti formalin dan boraks hingga titik nol. Ini adalah kemenangan besar bagi kesehatan publik.

Namun di sisi lain, “PR” masalah kebersihan dasar (hygiene sanitasi) masih menjadi pekerjaan rumah yang berat. Ditemukannya E.coli pada hampir 10 persen sampel adalah peringatan bahwa akses terhadap air bersih dan perilaku hidup bersih pedagang masih perlu ditingkatkan.

Ke depan, Pemerintah Kota Malang tidak bisa hanya mengandalkan sidak tahunan. Diperlukan sistem yang lebih berkelanjutan, misalnya dengan mewajibkan stiker “Laik Sehat Sementara” bagi lapak takjil yang telah lolos kurasi cepat sebelum Ramadan dimulai. Selain itu, peran paguyuban pasar takjil harus diperkuat untuk melakukan pengawasan internal (self-control) terhadap anggotanya.

Ramadan adalah bulan penuh berkah. Jangan sampai keberkahan itu ternoda oleh setitik bakteri atau pewarna tekstil yang merenggut kesehatan warga. Bagi warga Malang, nikmatilah ragam kuliner yang tersaji, namun tetaplah waspada. Karena kesehatan adalah aset paling berharga untuk dapat menjalankan ibadah puasa dengan sempurna (hs/dnv).