300 siswa SD kelas 5-6 Kota Batu skrining jantung rematik bareng YJI, hasil nihil kasus positif, upaya deteksi dini jaga kesehatan generasi muda.
INDONESIAONLINE – Antrean panjang terlihat di lobi Gedung Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani Batu, Jumat (29/5/2026) pagi. Bukan antrean pengurusan administrasi kependudukan, melainkan 300 siswa sekolah dasar (SD) kelas 5 dan 6 yang menunggu giliran skrining penyakit jantung rematik (PJR).
Program deteksi dini massal yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Batu bersama Yayasan Jantung Indonesia (YJI) ini menjadi langkah konkret menjaga kualitas kesehatan generasi muda di Kota Wisata.

Mengapa Kelas 5-6 SD Jadi Sasaran Utama Skrining?
Pemilihan kelompok usia 10-12 tahun (kelas 5-6 SD) bukan tanpa alasan medis. Menurut dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP (K), Ketua Bidang Medis YJI, fase ini adalah masa transisi tumbuh kembang anak yang paling rentan terhadap manifestasi bakteri Streptococcus pyogenes, penyebab utama PJR.
“Anak usia sekolah dasar memiliki interaksi sosial tinggi di lingkungan sekolah, sehingga risiko penularan infeksi tenggorokan streptokokus sangat besar. Jika infeksi ini dibiarkan tanpa penanganan medis yang tuntas, bakteri akan memicu reaksi autoimun yang menyerang katup jantung,” terang Ario.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2024, PJR menempati peringkat ketiga penyebab kematian akibat penyakit kardiovaskular pada anak usia 5-15 tahun di Indonesia, dengan estimasi 1,2 kasus per 1.000 anak. Sementara Dinas Kesehatan Kota Batu mencatat angka prevalensi infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) pada anak sekolah sebesar 18% pada 2025, yang menjadi faktor risiko utama PJR.
“Kelas 5-6 adalah titik krusial. Jika kita bisa mendeteksi indikasi PJR di usia ini, penanganan bisa dilakukan sebelum kerusakan katup jantung permanen terjadi,” tambah Ario.
Salah satu peserta skrining, Raka (11), siswa kelas 6 SDN 1 Batu, mengaku awalnya gugup saat mengikuti pemeriksaan. “Takut disuntik, tapi ternyata cuma dicek tensi, detak jantung pakai stetoskop, sama ditanya pernah sakit tenggorokan berulang nggak. Hasilnya sehat, lega banget,” ujarnya sambil memegang kartu hasil skrining berwarna hijau yang menandakan negatif PJR.
Skrining yang berlangsung selama 6 jam tersebut melibatkan 15 tenaga medis terdiri dari dokter spesialis jantung, perawat, dan rekam medis dari YJI serta Dinkes Kota Batu. Setiap siswa menghabiskan waktu sekitar 15 menit untuk pemeriksaan, mulai dari pengecekan tekanan darah, detak jantung, pemeriksaan fisik sendi untuk mendeteksi pembengkakan, hingga wawancara mendalam tentang riwayat kesehatan keluarga dan kebiasaan berobat jika sakit tenggorokan.
Ancaman PJR: Dari Radang Tenggorokan ke Kerusakan Katup Jantung
Banyak orang tua masih menganggap remeh radang tenggorokan berulang pada anak, padahal kondisi ini adalah pintu masuk utama PJR. Ario memaparkan, akumulasi demam rematik yang tidak ditangani dengan standar medis (pemberian antibiotik penisilin sesuai dosis dan durasi) akan memicu peradangan pada katup jantung.
Gejala awalnya seringkali diabaikan: pembengkakan dan nyeri sendi yang berpindah-pindah, demam tidak terlalu tinggi, hingga ruam merah di kulit.
“Kalau sudah masuk ke tahap kerusakan katup, anak bisa mengalami sesak napas, mudah lelah, bahkan cacat permanen. Data WHO menunjukkan, 60% kasus PJR di negara berkembang terjadi pada anak usia sekolah dasar, dan 30% di antaranya berujung pada cacat katup jantung permanen jika tidak ditangani sejak dini,” ujar Ario.
YJI sendiri telah menjalankan program skrining PJR di 12 kota di Indonesia sejak 2023, dengan total 15.000 siswa diperiksa, dan 23 kasus positif PJR ditemukan serta langsung dirujuk untuk penanganan medis gratis.
Data Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) tahun 2025 menambahkan, PJR juga menjadi penyebab utama gagal jantung pada usia produktif (20-40 tahun) di Indonesia, di mana 40% pasien gagal jantung usia muda memiliki riwayat PJR yang tidak tertangani sejak anak-anak.
“Biaya operasi katup jantung untuk PJR stadium lanjut bisa mencapai Rp500 juta per pasien, sementara skrining cuma butuh Rp50 ribu per siswa, yang sepenuhnya disubsidi Pemkot Batu dan YJI. Deteksi dini jauh lebih murah dan efektif daripada pengobatan stadium lanjut,” tegas Ario.
Berdasarkan rekam medis yang dihimpun tim medis, dari 300 siswa yang diperiksa, tidak ada satupun yang menunjukkan indikasi positif PJR.
“Hasil ini cukup menggembirakan, tapi bukan berarti kita boleh lengah. Edukasi kepada orang tua dan guru tentang pencegahan PJR harus terus dilakukan. Bagi siswa yang memiliki indikasi risiko tinggi, panitia langsung memberikan rujukan untuk pemeriksaan lanjutan berupa elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiografi (USG jantung) secara gratis di RSUD Kota Batu,” tutur Ario.
Sinergi Pendidikan-Kesehatan Jaga Masa Keemasan Anak
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu, Alfi Nurhidayat, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi ini. Menurutnya, masa SD adalah golden age (masa keemasan) anak yang membutuhkan perlindungan kesehatan berlapis.
“Kualitas akademik dan kecerdasan intelektual siswa tidak akan optimal jika kondisi fisiknya tidak prima. Anak yang sering sakit karena komplikasi PJR pasti akan tertinggal pelajaran, bahkan berisiko putus sekolah,” terang Alfi.
Sinergi non-kurikulum ini diproyeksikan berlanjut secara berkala. Pemkot Batu dan YJI berencana memperluas skrining ke 5.000 siswa SD di seluruh wilayah Kota Batu pada 2027, menyasar kelas 4 hingga 6 SD, serta melatih tenaga kesehatan sekolah (UKS) untuk melakukan edukasi rutin tentang pencegahan PJR.
“Kami juga akan memasukkan materi pencegahan PJR ke dalam program ekstrakurikuler kesehatan sekolah, agar anak-anak paham betapa pentingnya mengobati radang tenggorokan dengan benar, bukan cuma membeli obat warung tanpa resep dokter,” tambah Alfi.
Ibu Siti, orang tua Raka, mengaku program ini membuka matanya tentang bahaya radang tenggorokan yang selama ini dianggap sepele. “Anak saya sering radang tenggorokan kalau musim hujan, biasanya cuma saya kasih obat warung, nggak periksa ke dokter. Sekarang tahu kalau itu bisa berujung ke jantung, jadi kalau sakit tenggorokan langsung saya bawa ke puskesmas untuk dapat antibiotik yang tepat,” tuturnya.
Bagi Pemkot Batu, skrining PJR bukan sekadar kegiatan medis, melainkan investasi jangka panjang untuk sumber daya manusia unggul.
“Anak-anak sehat hari ini adalah pemimpin Kota Batu di masa depan. Kami berkomitmen untuk terus melindungi mereka dari ancaman penyakit kronis seperti PJR, agar mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang produktif dan bebas dari risiko kesehatan di masa depan,” pungkas Alfi (pl/dnv).













