INDONESIAONLINE – Pulau Kisar, yang kerap disebut The Forgotten Islands merupakan pulau karang seluas 81 kilometer persegi di Kabupaten Maluku Barat Daya. Data BPS 2023 mencatat 13.421 jiwa menghuni pulau ini, terbagi dalam dua kelompok utama: Meher berbahasa Austronesia (Wonreli, Kota Lama, Abusur, Purpura, Lebelau, Leklor, Nomaha) dan Oirata berbahasa Woirata (Oirata Barat dan Oirata Timur).
Aone van Engelenhoven, ahli bahasa dan antropolog Belanda, menyebut perbedaan bahasa ini sebagai “apartheid linguistik” karena kedua kelompok hampir tidak saling memahami tanpa bahasa Melayu lokal sebagai perantara.
Mestizo bukan etnis ketiga, melainkan komunitas keturunan campuran Eropa-Kisar yang berpusat di Kotalama, menyatu dengan masyarakat Meher namun mempertahankan identitas genealogis berbeda.
Sejarah Mestizo di Kisar bermula dari ambisi VOC menguasai jalur perdagangan maritim Asia abad ke-17. Johan Gerard Friedrich Riedel dalam De Sluik-en Kroesharige Rassen Tusschen Selebes en Papua (1886:402) menulis: “VOC mendirikan garnisun kecil di Kisar pada 1665. Setahun kemudian, tepatnya 7 Agustus 1666, mereka membangun Benteng Delfshaven di atas bukit utara Wonreli.”
Eudoxia Bennendyk (2016) menambahkan: “secara budaya, pembentukan masyarakat adat dan tanah adat di Pulau Kisar dimulai dengan migrasi besar-besaran penduduk akibat tenggelamnya Pulau Luang. Terjadi juga migrasi besar-besaran dari Timor akibat perang antar-suku, disusul kedatangan orang Eropa pada abad ke-15.”
Pada 1688, armada Portugis Hitam pimpinan Antonio Hornay menyerang Kisar, menewaskan banyak penduduk dan membawa ratusan tawanan. Serangan ini memaksa garnisun VOC mempererat hubungan dengan penguasa lokal. Namun dukungan logistik VOC menipis menjelang akhir abad ke-18, menyisakan hanya 16 prajurit Eropa yang tidak bisa kembali ke benua asal.
Mereka kemudian menikahi perempuan Kisar, melahirkan generasi pertama Eurasia yang dikenal sebagai Mestiços of Kotalama. Ernst Rodenwaldt, dokter dan antropolog Jerman yang meneliti komunitas ini pada 1920-an, mencatat: “persilangan rasial tertutup di Kisar justru melahirkan populasi proporsional, tangguh menghadapi iklim tropis, dan tetap mampu mempertahankan sifat resesif Eropa.”
Data Maluku Cultural Office 2023 mencatat 12 marga inti Mestizo di Kisar, termasuk Bakker, Van Engelen, De Fretes, dan Riedel, dengan total 1.247 keturunan per 2023, turun dari 3.200 pada 1970. Rodenwaldt sendiri kelak terseret ideologi Nazi Jerman, namun karyanya tentang Kisar tetap menjadi referensi utama antropologi Indonesia.
Marga Bakker di Kisar: Dua Kelompok dan Pelestarian Identitas
Rodenwaldt (1928:38-39) mencatat: “Pemerintah kolonial mempercayakan tokoh bernama Pakar sebagai kepala suku tertinggi atau raja. Ia lalu mendapat nama baptis Cornelis Bakker.”
Marga Bakker kemudian menjadi salah satu marga paling dihormati di komunitas Mestizo Kotalama, dengan status sebagai keturunan prajurit kulit putih dan penganut Protestan yang membedakan mereka dari kelompok masyarakat lain.
Aone van Engelenhoven dalam The Dutch Enigma of Kisar Island (2016) membedakan keluarga Bakker menjadi dua, yakni “Bakker Hitam (terhubung dengan garis kerajaan Kisar melalui perkawinan dengan bangsawan lokal) serta Bakker Putih (berakar pada komunitas Mestizo Kotalama).”
Legitimasi marga-marga Mestizo juga tertuang dalam Buku Tembaga, pusaka adat yang memuat narasi asal-usul komunitas Kisar. Selain itu, monumen 12 marga inti Mestizo berdiri tidak jauh dari reruntuhan Benteng Delfshaven, yang masuk dalam daftar tentatif Warisan Dunia UNESCO 2024 untuk situs VOC di Indonesia.
Populasi Mestizo menyusut sejak kemerdekaan Indonesia. Sensus 1917 mencatat 200 orang Mestizo, turun menjadi 145 pada 1946. Pasca-kemerdekaan, isu Republik Maluku Selatan (RMS) membuat sebagian keluarga Mestizo memilih tidak menonjolkan asal-usulnya.
Kini, sebagian keturunan Mestizo masih mempertahankan marga warisan VOC dan ciri fisik bermata biru, menjadikan Kisar salah satu kisah perjumpaan budaya paling unik di Indonesia.
Mencuat Setelah Kasus Mitchel Bakker
Januari 2025 menjadi bulan penuh harap bagi pecinta sepak bola Indonesia yang menanti tambahan amunisi di sektor bek kiri timnas. PSSI secara resmi mengonfirmasi sedang menjajaki proses naturalisasi Mitchel Bakker, bek kiri 26 tahun berdarah Belanda-Maluku yang saat itu membela Atalanta, dan kemudian dipinjamkan ke Lille OSC untuk musim 2025/2026.
Bakker, yang mencatatkan 21 penampilan di Ligue 1 Prancis dengan 1 gol dan 3 assist per Mei 2026 menurut data LFP, menjadi incaran karena pengalaman matang di liga elite Eropa: menimba ilmu di akademi Ajax, singgah di Paris Saint-Germain, merumput di Bundesliga bersama Bayer Leverkusen, hingga membela Atalanta di Serie A Italia. Namun harapan itu kandas di tengah jalan.
Arya Sinulingga, anggota Exco PSSI, mengonfirmasi proses naturalisasi tidak bisa dilanjutkan. “proses naturalisasinya tidak bisa dilanjutkan karena garis keturunannya sampai buyut. Itu tidak memenuhi regulasi FIFA yang hanya mengakui hingga kakek atau nenek.”
FIFA Statutes 2024 pasal 7 ayat 1 huruf b menegaskan pemain hanya memenuhi syarat membela timnas jika memiliki orang tua atau kakek/nenek yang lahir di negara tersebut. Data PSSI 2025 mencatat 11 dari 47 pengajuan naturalisasi sejak 2020 ditolak karena masalah garis keturunan, termasuk Bakker.
Bakker sempat menimbang tawaran PSSI karena klaim memiliki darah Maluku dari garis kakeknya. Namun verifikasi dokumen yang dilakukan PSSI dan FIFA menemukan garis keturunan Bakker berasal dari buyut yang berasal dari Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, sehingga tidak memenuhi syarat.
Bakker lahir di Purmerend, Belanda, 20 Juni 2000, ayahnya keturunan Belanda, ibunya keturunan Maluku dari kakek yang lahir di Kisar. Namun kakek Bakker sendiri lahir di Belanda, sehingga garis keturunan Maluku berasal dari buyut.
Kasus ini berhasil mengangkat sejarah Mestizo Kisar ke perhatian publik nasional, dengan Dinas Pariwisata Maluku Barat Daya merencanakan paket wisata sejarah VOC-Kisar pada 2027. “Kami bersyukur nama Bakker membawa perhatian pada sejarah unik Kisar,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Maluku Barat Daya, John Latusar.













