Vocalista Angels Klaten Ukir Gelar Juara Dunia di Swedia

Vocalista Angels Klaten meraih gelar juara dunia di World Choir Games 2026 Swedia, membawa lagu Nusantara ke panggung internasional (dok. vocalita angels)

Vocalista Angels Klaten meraih gelar juara dunia di World Choir Games 2026 Swedia, membawa lagu Nusantara ke panggung internasional.

INDONESIAONLINE – Dari Klaten, Jawa Tengah, suara anak-anak Indonesia kembali menembus panggung tertinggi kompetisi paduan suara dunia. Vocalista Angels membawa pulang gelar World Choir Games Champion 2026 dari Helsingborg, Swedia, setelah mencatat nilai 94,60 poin pada kategori Folklore with Accompaniment.

Prestasi tersebut bukan sekadar kemenangan sebuah kelompok paduan suara. Di tengah kompetisi yang mempertemukan ribuan penyanyi dari berbagai negara, Vocalista Angels tampil membawa identitas budaya Indonesia melalui repertoar Nusantara.

Helsingborg sendiri menjadi tuan rumah World Choir Games 2026 pada 6-16 Agustus, dengan ribuan penyanyi dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk kompetisi, konser, dan pertukaran budaya. Ajang itu merupakan kali pertama Swedia menjadi tuan rumah World Choir Games.

Vocalista Angels tampil dengan 28 penyanyi anak. Mereka berkompetisi dalam dua kategori, yakni Children’s Choir dan Folklore with Accompaniment. Pada kategori Children’s Choir, kelompok asal Klaten itu memperoleh medali emas dengan nilai 88,88 poin dan berada di posisi keempat.

Sementara itu, capaian tertinggi datang melalui kategori Folklore with Accompaniment. Nilai 94,60 poin mengantarkan Vocalista Angels menjadi juara dunia.

Capaian tersebut sekaligus menegaskan bahwa kekuatan kelompok ini bukan sekadar kemampuan teknik vokal. Lagu-lagu tradisional Indonesia menjadi bagian dari cara mereka memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara di depan juri dan peserta dari negara lain.

Perjalanan menuju Helsingborg pun tidak berlangsung singkat. Pendiri sekaligus pembina Vocalista Angels, Catharina Advenita Tersierra Rosa, mengatakan para penyanyi menjalani latihan intensif selama tujuh bulan sebelum berangkat ke Swedia.

“Selama tujuh bulan mereka berlatih, belajar, dan bertumbuh bersama. Hari ini, mereka tidak sekadar mengulang cerita yang pernah ada, tetapi telah menuliskan halaman baru mereka sendiri di panggung dunia,” kata Catharina, Jumat (14/8/2026) malam.

Kalimat tersebut menggambarkan satu sisi penting dari kemenangan Vocalista Angels: regenerasi.

Sebagian besar anggota kontingen 2026 merupakan generasi baru yang belum pernah merasakan atmosfer World Choir Games. Mereka datang menggantikan generasi sebelumnya yang telah lebih dahulu mengukir sejarah di kompetisi tersebut.

Sebelum tampil di Swedia, kelompok ini menjalani proses seleksi dan persiapan panjang. Laporan mengenai keberangkatan mereka juga mencatat bahwa Vocalista Angels telah melalui masa regenerasi setelah penampilan sebelumnya di World Choir Games.

“Ini adalah kemenangan generasi baru Vocalista Angels,” ujar Catharina.

Dua Medali dan Sejarah yang Berulang

Gelar di Helsingborg sekaligus membuat Vocalista Angels mencatat tiga gelar juara dunia sepanjang sejarah keikutsertaannya di World Choir Games.

Sebelumnya, kelompok ini merebut gelar juara dunia kategori Folklore with Choreography pada World Choir Games 2010 di Shaoxing, China. Dua tahun kemudian, mereka kembali menjadi juara dunia, kali ini pada kategori Children’s Choir dalam World Choir Games 2012 di Cincinnati, Amerika Serikat. Setelah itu, Vocalista Angels menjalani jeda panjang sebelum kembali tampil di kompetisi dunia.

Karena itu, keberhasilan 2026 memiliki makna lebih dari sekadar menambah satu piala. Gelar tersebut memperlihatkan bahwa tradisi kompetitif yang dibangun sejak generasi sebelumnya mampu diteruskan oleh anak-anak yang sebagian besar baru pertama kali menginjak panggung World Choir Games.

Menariknya, prestasi Vocalista Angels juga memperlihatkan bagaimana kompetisi paduan suara internasional tidak hanya ditentukan oleh kualitas bunyi. World Choir Games memiliki kategori dan format yang memungkinkan kelompok paduan suara menampilkan beragam tradisi musikal, termasuk repertoar berbasis budaya.

Champions Competition, tempat Vocalista Angels berlaga, memang dirancang bagi kelompok-kelompok yang telah memiliki pengalaman dan prestasi kompetisi sebelumnya.

Dalam konteks itu, pilihan membawa lagu Nusantara menjadi penting. Kelompok anak-anak dari Klaten tidak datang dengan identitas yang disamarkan agar seragam dengan selera panggung dunia. Mereka justru membawa warna Indonesia sebagai bagian dari kekuatan artistiknya.

Capaian Vocalista Angels juga tidak lahir dari kerja 28 penyanyi saja. Di belakang mereka terdapat pelatih, manajemen, pianis, serta tim yang mengurus kebutuhan kontingen selama persiapan dan kompetisi.

Pelatih Yason Christy Pranowo memegang peran dalam membangun musikalitas, kekompakan, teknik vokal, interpretasi, hingga kesiapan mental peserta. Manajemen yang dijalankan Yohanes Mahardiko dan Dianingtyas Widhiastuti mendukung kebutuhan kontingen selama berada di Swedia. Penampilan juga diperkuat pianis Devan Allegreza.

Catharina menyebut keberhasilan tersebut sebagai hasil sinergi banyak pihak. “Keberhasilan Vocalista Angels di Helsingborg menjadi bukti bahwa prestasi besar dapat lahir dari daerah,” ujar Catharina.

Pesan itu terasa penting ketika pusat perhatian prestasi internasional kerap terkonsentrasi di kota-kota besar. Klaten, yang berada di antara Yogyakarta dan Surakarta, justru mengirim kelompok anak-anak yang mampu menempatkan nama Indonesia di papan atas kompetisi paduan suara dunia.

World Choir Games 2026 sendiri menjadi panggung yang sangat besar. Penyelenggara menyebut ribuan penyanyi dari seluruh dunia hadir di Helsingborg untuk mengikuti kompetisi dan rangkaian kegiatan selama sepuluh hari. Ajang tersebut tidak hanya menjadi perlombaan, tetapi juga ruang pertemuan budaya melalui konser persahabatan, lokakarya, dan berbagai pertunjukan.

Di tengah panggung global itu, Vocalista Angels membawa sesuatu yang tidak bisa diukur hanya dengan angka 94,60. Mereka membawa cerita tentang latihan tujuh bulan, regenerasi, kedisiplinan, kerja tim, dan keberanian anak-anak daerah untuk bernyanyi dengan identitas budayanya sendiri.

Tiga gelar juara dunia akhirnya menjadi penanda perjalanan. Tetapi kemenangan di Helsingborg menyimpan pesan yang lebih panjang: suara anak-anak dari Klaten mampu berdiri sejajar dengan dunia, sepanjang mereka diberi ruang untuk berlatih, bertumbuh, dan membawa cerita mereka sendiri.