Komik Legenda SawungKampret karya Dwi Koendoro terbit di Belanda, jadi medium jembatan sejarah kolonial Indonesia-Belanda disambut positif warga Belanda.
INDONESIAONLINE – Masih ingat saat sekolah dulu, bundel majalah HumOr sering disembunyikan di balik buku paket IPS agar tidak ketahuan guru. Komik dianggap sampah hiburan, setara dengan pelanggaran tata tertib sekolah.
Padahal, data Perpustakaan Nasional RI 2025 menunjukkan komik Indonesia hanya menyumbang 3,2% dari total terbitan buku nasional, turun dari 5,1% pada 2020. Stigma ini perlahan luntur ketika salah satu komik legendaris Indonesia, Legenda Sawung Kampret karya Dwi Koendoro, berhasil menembus pasar Belanda dalam empat edisi bahasa Belanda sejak 2023.
Komik Sawung Kampret bercerita tokoh pemuda Madura keturunan Panji Koming yang membawa nuansa satir sejarah yang berbeda dari komik pahlawan super biasa. Dwi Koendoro, atau yang akrab disapa Dwi Koen (1941-2019), meramu kejenakaan dengan kritik sosial di latar zaman Majapahit dan kolonial abad ke-17, sesuatu yang jarang ditemukan di komik sejarah Indonesia kala itu.
Kini, 27 tahun setelah edisi pertamanya terbit, komik tersebut hadir di negeri jajahan mantan kolonial lewat tangan Tom van der Geugten, seorang sejarawan Indo-Belanda yang menemukan karya Dwi Koen saat meneliti komik Indonesia di internet.
“Saat meneliti berbagai komik Indonesia di internet, saya menemukan karya Dwi Koendoro,” kata Tom van der Geugten membuka percakapannya.
“Saya semakin tertarik karena melihat sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Dalam banyak komik sejarah Indonesia biasanya terdapat terlalu banyak pahlawan yang digambarkan secara ideal. Komik ini berbeda,” lanjutnya.
Dari Majalah HumOr ke Penerbitan Bahasa Belanda
Tom, yang lahir di Bandung 74 tahun lalu dan kini mengajar sejarah Indonesia di Vrije Universiteit Amsterdam, mengaku terkesan dengan cara Dwi Koen menggambarkan masyarakat kolonial.
“Saya melihat bagaimana komik ini menggambarkan masyarakat kolonial dengan tiga kelompok sosial: orang Eropa, pribumi, dan orang Tionghoa sebagai Timur Asing,” ujarnya. “Itu adalah bentuk diskriminasi resmi pada masa kolonial.”
Bersama putrinya, Jolien van der Geugten, Tom menginisiasi penerbitan serial tersebut dalam bahasa Belanda lewat lembaga WYS Onderzoek & Educatie. Jilid pertama De legende van Vleermuisvechter (Legenda Pendekar Kelelawar) terbit pada 2023, disusul tiga jilid lainnya hingga 2026.
Rencananya, jilid kelima Marietje van der Bloemkool akan terbit November 2026, memuat naskah De kanonnen van Onrust yang ditemukan di komputer Dwi Koen setelah wafatnya dan belum pernah diterbitkan di Indonesia sekalipun.
Data Erasmushuis 2026 menunjukkan 1.200 eksemplar edisi Belanda telah terjual sejak 2023, dengan 35% pembeli adalah keturunan Indo-Belanda. Angka ini melampaui rata-rata penjualan buku sejarah khusus di Belanda yang hanya 600 eksemplar per terbitan.
“Kami berusaha mempertahankan desain sampulnya semirip mungkin dengan aslinya,” ujar Jolien yang berpengalaman menerbitkan buku di Belanda.
“Namun, pada bagian hijau ditambahkan dengan judul terjemahan Belanda De legende van Vleermuisvechter,” tegasnya.
Wahyu Ichwandono, putra mendiang Dwi Koen yang hadir dalam diskusi di Erasmushuis 11 Juni lalu, menuturkan evolusi kreatif ayahnya.
“Ketika saya masih kecil, saya sering menemani ayah bekerja, dan saya melihat perubahan itu terjadi secara bertahap,” ujarnya.
“Menurut ayah saya, komik ini pada akhirnya tidak lagi hanya menjadi miliknya sendiri. Komik ini juga menjadi milik para pembacanya. Banyak penggemar menginginkan karakter yang lebih heroik, lebih emosional, dan lebih manusiawi,” kenangnya.
Dono, sapaan akrabnya, menambahkan ayahnya mulai menggunakan komputer untuk menambahkan dimensi visual pada karakter. “Teknologi itu kemudian ia eksplorasi lebih jauh,” ungkapnya, “sehingga karakter-karakternya menjadi lebih hidup dan lebih manusiawi, meskipun unsur kartunnya tetap dipertahankan.”
Tantangan Menerjemahkan Humor dan Sejarah Kolonial
Menerjemahkan komik beralur sejarah dengan paduan bahasa Indonesia, Betawi, Jepang, dan Tionghoa bukan tugas mudah. Tom mengakui proses ini penuh tantangan. “Menerjemahkan komik ini tidaklah mudah, tetapi sangat menarik,” kata Tom. “Di dalamnya terdapat bahasa Indonesia, Betawi, Jepang, bahkan kadang-kadang unsur bahasa Tionghoa.”
Arjan Onderdenwijngaard, penerjemah komik tersebut, mengalihbahasakan nama tokoh dan lelucon lokal agar relevan dengan konteks Belanda. SawungKampret, yang berarti “suka menolong” (sawung) dan “umpatan negatif” (kampret), diterjemahkan menjadi Vleermuisvechter (Pendekar Kelelawar).
“Jika ada yang bertanya apa artinya,” kata Toms, “saya biasanya menjawab, Anda tahu Batman? Kira-kira seperti itu!”
Nama tokoh lainnya juga diadaptasi: Na’ip menjadi Na’ief, Niworo Sendang menjadi Ietje Kracht Bron, dan Tan Pin San menjadi Tan Val Flauw. Arjan menilai adaptasi ini wajar demi mendekatkan konteks ke pembaca Belanda. “Tintin juga diterjemahkan sebagai Kuifje dalam edisi bahasa Belanda,” ujarnya selepas diskusi.
Data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) 2025 menunjukkan terdapat 127 istilah Betawi dalam serial SawungKampret yang belum terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi VI, menjadikan komik tersebut sumber kosa kata lokal yang berharga.
Tom menambahkan ada tiga tingkat penerjemahan yang digunakan. “Pengalaman-pengalaman seperti ini membuat kami menyadari bahwa ada beberapa tingkat penerjemahan,” ujar Tom. “Terjemahan harfiah, terjemahan berdasarkan semangat atau makna, dan terjemahan yang lebih bebas.”
Agar pembaca memahami konteks sejarah, Tom dan Jolien menambahkan dossier berisi perspektif Belanda dan Indonesia, serta biografi tokoh seperti Jan Pieterszoon Coen dan Souw Beng Kong.
“Sejarah hampir selalu memiliki lebih dari satu sisi,” ujarnya. “Karena itulah kami menyusun dossier atau lampiran sejarah yang memuat perspektif Belanda maupun perspektif Indonesia, serta biografi singkat tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita.”
Komik Sebagai Medium Multi-Perspektif Sejarah Bersama
Penerimaan masyarakat Belanda terhadap komik ini cukup positif. Tom mengatakan 1.000 eksemplar jilid pertama habis terjual dalam enam bulan. “Kami memulai dengan jumlah sekitar seribu eksemplar dan semuanya habis terjual,” ujarnya. “Untuk ukuran Belanda yang merupakan negara kecil, hasil itu sangat baik bagi sebuah buku yang menyasar pasar khusus.”
Mereka juga menyediakan materi pembelajaran gratis untuk guru sejarah, yang kini digunakan oleh 42% mahasiswa sejarah di Vrije Universiteit Amsterdam sebagai sumber belajar tambahan, naik 15% dari 2023 menurut data universitas tersebut.
Mikke Susanto, kurator seni ISI Yogyakarta, menilai karya Dwi Koen sebagai social commentary yang relevan lintas generasi. “Karya-karya Dwi Koendoro menarik, jika dipahami sebagai produk estetika,” kata Mikke. “Seni kini menempatkan diri sebagai praktik budaya yang berinteraksi langsung dengan realitas sosial, politik, dan kehidupan sehari-hari.”
Mikke menambahkan komik tersebut mampu menghubungkan masa lalu dan masa kini. “Yang membuatnya makin istimewa adalah kemampuannya menggunakan latar sejarah dan budaya lokal sebagai perangkat kritik terhadap situasi kekinian,” ungkap Mikke.
“Dengan demikian, karya-karyanya memperlihatkan salah satu karakter utama seni kontemporer, yakni kemampuannya menghubungkan masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan dalam satu ruang refleksi yang kritis.”
“Kami sering mengatakan bahwa ini bukan semata-mata soal komiknya,” kata Jolien. “Saya rasa Dwi Koendoro juga ingin menyampaikan kisah yang lebih besar melalui karya-karyanya. Tentang perjumpaan budaya, tentang beragam manusia yang hidup dalam satu dunia, dan tentang bagaimana berbagai sudut pandang dapat saling bertemu. Kami ingin membantu masyarakat Belanda memahami perspektif yang berbeda mengenai sejarah dan kolonialisme.”
Di Jakarta pekan lalu, Tom dan Jolien mengunjungi makam Souw Beng Kong, Kapitan Tionghoa pertama Batavia yang menjadi tokoh dalam jilid ketiga komik tersebut. Makam tersebut merupakan makam tertua di Jakarta berdasarkan prasasti nisan yang ada.
“Inilah sebabnya karikatur Dwi Koendoro melampaui nilai artistik,” ungkap Mikke. “Membuka jaring nilai intelektual dan kebangsaan yang menjadikannya relevan sebagai cermin sosial Indonesia lintas generasi.”
Jolien menegaskan proyek ini bertujuan menghadirkan multi-perspektif sejarah. “Pada akhirnya, inilah inti dari seluruh proyek kami adalah multi-perspectivity,” kata Jolien.
Menurutnya, Indonesia dan Belanda dapat memandang sejarah dari berbagai sudut yang berbeda, tetapi perspektif-perspektif itu harus terlebih dahulu dihadirkan. Jika tidak tersedia, kita tidak akan pernah mengetahui bahwa ada cara pandang lain terhadap sejarah.
“Itulah alasan kami membawa serial ini ke Belanda,” imbuhnya. “Agar masyarakat Belanda dapat mengenal para tokoh dan pahlawan Indonesia ini. Seperti yang dikatakan ayah saya, ada orang Indonesia yang baik dan ada yang buruk; ada orang Belanda yang baik dan ada pula yang buruk.”
Kini, bundel majalah HumOr yang dulu disembunyikan di balik buku paket sudah menjadi barang langka. Tapi SawungKampret, tokoh yang dulu hanya dikenal di strip koran Kompas, kini menjadi jembatan antara dua bangsa yang pernah terikat sejarah kelam, membuktikan bahwa komik bukan sekadar hiburan, melainkan arsip budaya yang hidup.













