Wapres AS JD Vance Bela Pernyataan Trump soal Rudal Pertahanan Iran

Wapres AS JD Vance bela pernyataan Trump izinkan Iran miliki rudal pertahanan sekaligus memberikan peringatan kepada Israel untuk tidak menyerang Trump dengan keputusan tersebut (Ist)

Wapres AS JD Vance bela pernyataan Trump izinkan Iran miliki rudal pertahanan, sikap ini bertolak belakang dari posisi awal AS yang ingin hancurkan program rudal Iran.

INDONESIAONLINE – Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat JD Vance secara terbuka membela pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut Iran diperbolehkan mempertahankan sebagian kemampuan rudalnya untuk tujuan pertahanan negara. Sikap ini berbanding terbalik dengan posisi awal pemerintahan AS yang sebelumnya menjadikan penghancuran total program rudal balistik Iran sebagai salah satu target utama perang.

Pernyataan Vance muncul di tengah kritik tajam dari Israel terkait perubahan sikap AS tersebut. Sebelumnya, Israel sempat dihujani hampir 30 rudal Iran yang memicu bunyi sirene di seluruh negeri, sehingga program rudal balistik Iran menjadi isu keamanan utama yang dikhawatirkan Israel dan sejumlah negara di Timur Tengah.

Vance menegaskan bahwa pernyataan Trump tidak serta merta berarti AS membiarkan Iran mengembangkan kemampuan rudal yang dapat mengancam keamanan global. Ia mengatakan setiap negara, termasuk Iran dan Israel, memiliki hak untuk memiliki alat pertahanan diri sesuai kedaulatan masing-masing.

“Anda tidak bisa mengatakan kepada sebuah negara, baik Israel maupun Iran, bahwa mereka tidak boleh memiliki pertahanan diri,” kata Vance, sebagaimana dikutip The Times of Israel.

Ia menambahkan, pernyataan Trump hanya menegaskan realitas bahwa negara-negara di kawasan Timur Tengah tidak akan melepaskan hak pertahanan mereka. “Yang dikatakan presiden kemarin hanyalah bahwa, tentu saja, negara-negara di kawasan ini tidak akan melepaskan haknya untuk membela diri,” lanjutnya.

Sebelumnya, pemerintahan AS di bawah Trump secara eksplisit menyebut penghancuran kemampuan rudal balistik Iran sebagai salah satu tujuan utama operasi militer di kawasan. Namun, dalam draf kesepakatan awal penghentian perang yang baru dirilis, pembatasan khusus terhadap program rudal Iran tidak disebutkan secara rinci, memicu kekhawatiran sejumlah pihak terkait konsesi berlebih yang diberikan kepada Teheran.

Vance Peringatkan Israel Jangan Serang Trump

Perubahan sikap AS tersebut memicu kritik dari sejumlah pejabat Israel yang menilai kesepakatan awal tersebut memberikan terlalu banyak keuntungan bagi Iran. Menanggapi hal itu, Vance justru memperingatkan Israel agar tidak melontarkan kritik terhadap Trump, yang menurutnya merupakan sekutu terkuat Israel saat ini.

“Donald J Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang bersimpati kepada bangsa Israel saat ini,” tegas Vance.

Ia bahkan menyarankan pejabat Israel untuk mempertimbangkan posisi strategis AS sebelum melontarkan serangan verbal. “Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang saya miliki di mana pun di dunia,” ujarnya.

Vance menegaskan bahwa AS tetap berkomitmen untuk membatasi kemampuan rudal Iran yang dapat mengancam seluruh dunia, meski mengizinkan negara tersebut mempertahankan rudal untuk pertahanan teritorial. Washington juga menuntut Iran untuk menghentikan pendanaan terhadap kelompok bersenjata yang memicu ketidakstabilan regional, serta tidak membangun kembali program senjata nuklirnya.

Kesepakatan Akhir Ditargetkan Dua Bulan Lagi

Vance mengungkapkan bahwa kesepakatan akhir antara AS dan Iran ditargetkan tercapai dalam dua bulan ke depan. Ia menegaskan bahwa seluruh manfaat ekonomi dari kesepakatan hanya akan diberikan jika Iran memenuhi seluruh janji yang telah dibuat.

The New York Times melaporkan bahwa Vance membela kesepakatan awal penghentian perang dengan Iran sebagai “kemenangan bagi rakyat Amerika”. Namun, media tersebut menilai sebagian argumen Vance masih bergantung pada rencana dan klaim yang belum sepenuhnya teruji.

Kesepakatan awal tersebut disebut memberikan sejumlah keuntungan bagi Iran, termasuk peluang pemulihan ekonomi melalui pencabutan sanksi minyak serta pembukaan kembali akses terhadap aset yang sebelumnya dibekukan. Kesepakatan tersebut juga membuka pembahasan mengenai program nuklir Iran, tetapi beberapa isu masih belum jelas, termasuk masa depan pengayaan uranium Iran yang menjadi poin krusial bagi keamanan global.

Vance menegaskan bahwa pemerintah AS akan terus memantau kepatuhan Iran terhadap seluruh ketentuan kesepakatan, dan siap mengambil tindakan tegas jika Teheran melanggar komitmen yang telah disepakati.