Sinyal Kuat Gus Yahya Kembali Pimpin NU di Muktamar Jombang

Gus Yahya sowan ke dzuriyah KH Wahab Hasbullah di Ponpdok Pesantren Tambakberas. Kunjungan ini menjadi sinyal kuat pencalonan ketum PBNU di Muktamar NU ke-35 (jtn/io)

Gus Yahya sowan ke dzuriyah KH Wahab Hasbullah di Tambakberas. Kunjungan ini menjadi sinyal kuat pencalonan ketum PBNU di Muktamar ke-35.

INDONESIAONLINE – Langkah kaki KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memasuki halaman Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada Minggu (12/06/2026) pagi, bukan sekadar rutinitas silaturahmi keagamaan biasa. Di balik senyum dan sapaan hangat dengan dzuriyah Pendiri NU KH Wahab Hasbullah, tersirat manuver politik organisasi terbesar di Indonesia yang sedang memanas jelang agenda lima tahunan.

Gus Yahya tiba sekitar pukul 09.00 WIB dan langsung diarahkan ke Ndalem Kasepuhan. Penyambutan oleh KH Hasib Wahab Chasbullah dan KH Abdurrozaq Sholeh dalam suasana khidmat itu berlangsung tertutup selama satu jam. Pertemuan ini menguatkan posisi Tambakberas sebagai episentrum spiritual sekaligus arena keputusan politik NU.

“Saya ingin sampaikan, saya sowan ke Ponpes Tambakberas ini secara pribadi meskipun status quo saya kira tak terlepaskan. Saya bahagia pada akhirnya tercapai keputusan Muktamar di Tambakberas ini,” ujarnya usai melakukan pertemuan di Ndalem Kasepuhan Ponpes Tambakberas, Jombang, Minggu (12/6/2026).

Bagi NU, memilih Jombang sebagai lokasi Muktamar ke-35 pada 27-31 Agustus 2026 adalah sebuah kembalinya ruh ke asal usul. Data dari Kementerian Agama RI mencatat Jombang sebagai “Kota Santri” dengan densitas pesantren tertinggi di Jawa Timur, yakni mencapai 1.200 lebih lembaga.

Kehadiran Gus Yahya di tanah kelahiran KH Wahab Hasbullah—tokoh yang merumuskan tradisi NU—adalah upaya mengambil legitimasi keulamaan yang tak tergantikan.

Berkah Ulama dan Janji yang Belum Tuntas

Gus Yahya menilai bahwa Muktamar di tanah pesantren pendiri akan membawa maslahah bagi jamiyah. Ia menekankan bahwa kehadiran ulama adalah payung keberkahan bagi keputusan organisasi yang kini membawahi lebih dari 40 juta warga nahdliyin berdasarkan data Survei Kemenag 2025.

“Tambakberas ini adalah pesantren tempat salah seorang pendiri NU yaitu KH Wahab Hasbullah. Jadi Insyallah harapan Muktamar akan dinaungi berkah ulama maupun Muasis NU, Alhamdulillah ini membesarkan hati kita semua dan bisa menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa maslahah bagi NU, jamiyahnya dan jamaahnya,” ucapnya.

Namun, di balik narasi keberkahan, Gus Yahya melempar sinyal eksplisit terkait ambisinya untuk kembali memimpin. Ia tak memungkiri bahwa masih ada pekerjaan rumah dari periode pertamanya. Dalam catatan pengamat organisasi keagamaan, era kepemimpinan Gus Yahya diwarnai transformasi digital NU dan diplomasi internasional yang masif, namun masih menyisakan tuntasnya struktur kepengurusan di tingkat ranting pasca-Pemilu 2024.

“Dulu saya menyatakan maju sebagai ketua umum dengan janji-janji untuk melakukam sejumlah hal. Tapi kemudian karena keadaan ada beberapa hal yang saya janjikan belum terlaksana, otomatis saya berutang. Nah secara syariat sebagai orang yang berutang, saya harus minta waktu untuk melunasi utang,” kata Gus Yahya.

Pernyataan “utang janji” ini menjadi jurus politik halus yang familiar di kalangan NU. Alih-alih terkesan memaksakan kehendak, Gus Yahya membungkus pencalonannya dengan terminologi syariat tentang tanggung jawab. Menurut catatan redaksi, sejumlah Pengurus Wilayah NU seperti Jatim dan Jateng telah mengeluarkan rekomendasi dukungan sejak awal 2026, menguatkan posisinya sebagai petahana yang sulit digoyang.

Muktamar ke-35 diprediksi akan menjadi ajang konsolidasi pasca-gelombang politik nasional. Dengan mayoritas suara dari delegasi wilayah timur yang solid, peluang Gus Yahya untuk melunasi “hutang” kepemimpinannya sangat besar. Pertemuan di Tambakberas ini menjadi semacam “restu” final sebelum mesin politik PBNU bergerak lebih cepat menuju Agustus 2026.

Bagi kalangan santri, sowan Gus Yahya adalah penguatan ikatan emosional antara pemimpin nasional dan akar pesantren. Di saat organisasi modern rentan terkikis oleh individualisme, NU di bawah bayang-bayang Tambakberas mencoba meneguhkan bahwa kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan mereka yang menghormati sejarah (ar/dnv).