Lansia Jadi Petugas Upacara, Merah Putih Berkibar di Bumiayu

Warga lansia Perum Asabri Bumiayu Indah menjadi petugas upacara HUT ke-81 RI dengan pakaian adat, merawat nasionalisme lintas generasi (jtn/io)

Warga lansia Perum Asabri Bumiayu Indah menjadi petugas upacara HUT ke-81 RI dengan pakaian adat, merawat nasionalisme lintas generasi.

INDONESIAONLINE – Lapangan Perumahan Asabri Bumiayu Indah, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Senin (17/8/2026), menghadirkan pemandangan yang tidak biasa. Ketika sebagian warga memilih berdiri sebagai peserta, barisan petugas justru diisi wajah-wajah yang telah melewati usia muda.

Para lanjut usia (lansia) tampil sebagai pengibar semangat kemerdekaan. Usia mereka tidak disembunyikan, melainkan justru menjadi bagian dari pesan yang hendak disampaikan warga. Ada yang berusia 61 tahun, bahkan sejumlah petugas lainnya mencapai 63 tahun.

Pakaian adat Nusantara menambah warna dalam upacara memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut. Kain, aksesori, dan busana tradisional dari berbagai daerah berpadu dengan suasana khidmat pengibaran Merah Putih.

Ketua Panitia Upacara Bendera 17 Agustus 2026 Perum Asabri Bumiayu Indah, Drs Wahyudi, mengatakan persiapan warga dilakukan secara serius meskipun pelaksana upacara berasal dari lingkungan masyarakat.

“Alhamdulillah upacara di Perumahan Asabri Bumi Ayu Indah berjalan dengan lancar. Walaupun di sana-sini masih ada kekurangan. Tapi kalau dilihat dari evaluasinya sudah mendekati 90 persen,” ujar Wahyudi.

Bagi warga, upacara bukan sekadar kegiatan yang selesai setelah bendera mencapai puncak tiang. Ada pembagian peran yang membuat masyarakat menjadi bagian langsung dari prosesi peringatan kemerdekaan.

Konsepnya pun sengaja tidak sepenuhnya mengikuti satu pola. Tata upacara sipil dan militer dipadukan sehingga istilah seperti komandan dan peleton berdampingan dengan pembina dan pemimpin upacara.

“Jadi konsepnya ini antara tata upacara sipil dan militer. Jadi perpaduan, dipadukan. Artinya memberikan kesempatan masyarakat untuk punya andil, punya tanggung jawab sebagai peserta maupun sebagai petugas di lingkungan Perumahan Asabri ini,” kata Wahyudi.

“Nah, jadi perpaduan. Makanya ada kata-kata komandan, ada kata-kata pleton. Kalau yang sipil ini ada ada pembina, pemimpin, gitu. Jadi semua dipadukan,” imbuhnya.

Lansia Bukan Sekadar Peserta

Ada alasan mengapa warga senior ditempatkan di barisan depan sebagai petugas. Pilihan tersebut lahir dari kesadaran warga bahwa peringatan kemerdekaan dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa usia bukan alasan berhenti mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat.

“Saya 61 malah. Ada yang 63. Senior-senior semua, luar biasa. Intinya, petugas upacara semua lansia,” ungkap Wahyudi.

Untuk sampai pada pelaksanaan upacara, para petugas tidak mengandalkan pengalaman semata. Latihan dilakukan pada malam hari dan telah berlangsung sekitar lima kali.

“Latihannya ya tiap malam. Kurang lebih ini latihannya berjalan lima kali,” tegas Wahyudi.

Tradisi tersebut juga bukan kegiatan yang baru muncul pada peringatan kemerdekaan tahun ini. Upacara dengan konsep serupa telah dilaksanakan selama lima tahun berturut-turut di lingkungan Perum Asabri Bumiayu Indah.

“Setiap tahun ini dilakukan, dan sudah tahun kelima ini digelar,” ungkap Wahyudi.

Kehadiran lansia sebagai petugas menjadi semakin relevan jika dilihat dari perubahan struktur penduduk Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai 11,97 persen. Indonesia dengan demikian telah memasuki fase ageing population.

Jawa Timur bahkan berada pada tingkat yang lebih tinggi. BPS mencatat persentase penduduk lansia di provinsi tersebut mencapai 15,40 persen pada 2025. Angka itu menunjukkan Jawa Timur telah masuk kategori penduduk tua dan sekaligus menghadirkan kebutuhan baru dalam pembangunan, termasuk pemberdayaan kelompok lansia.

Di tingkat lokal, data Pemerintah Kota Malang juga menunjukkan perhatian terhadap kelompok usia tersebut. Satu Data Kota Malang menyediakan data jumlah penduduk lansia Kelurahan Bumiayu untuk periode 2022-2025 yang bersumber dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Dataset tersebut diperbarui pada Februari 2026.

Artinya, lansia bukan lagi kelompok kecil yang dapat ditempatkan hanya sebagai penerima layanan. Mereka merupakan bagian yang semakin besar dari struktur masyarakat dan memiliki potensi sosial yang dapat terus diberdayakan.

Dari Senior untuk Generasi Penerus

Menariknya, warga muda di Perum Asabri Bumiayu Indah justru tidak ditempatkan sebagai petugas utama. Anak-anak muda, termasuk unsur Karang Taruna, mengikuti upacara sebagai peserta.

Pola tersebut membuat lapangan upacara berubah menjadi ruang pembelajaran lintas generasi. Para senior menjalankan tugas di depan, sementara generasi lebih muda menyaksikan bagaimana sebuah prosesi kemerdekaan dipersiapkan, dilatih, dan dilaksanakan dengan disiplin.

Bagi Wahyudi, keterlibatan tersebut merupakan bentuk kesadaran warga yang tumbuh sejak awal. “Ini lahir karena motivasi mulai dari awal, artinya bentuk kesadarannya tinggi sekali di sini,” tuturnya.

Pesannya pun tidak berhenti pada nasionalisme dalam bentuk simbol. Ada karakter, tanggung jawab, dan kedisiplinan yang ingin ditanamkan melalui kegiatan tersebut.

“Harapannya ya agar punya rasa nasionalisme, terus punya tanggung jawab, disiplin. Terutama kepada karakter mental untuk mencintai bangsa dan negara,” harap Wahyudi.

Semangat pemberdayaan lansia juga sejalan dengan perhatian Pemerintah Kota Malang. Pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30, Juni 2026, Pemkot Malang mengusung tema “Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh” dan melibatkan 15 organisasi lansia. Pemerintah daerah menekankan pentingnya pemberdayaan lansia serta pembangunan kota yang semakin ramah terhadap kelompok usia tersebut.

Dari Bumiayu, pesan itu menemukan bentuk yang sederhana tetapi kuat. Para warga senior tidak meminta ruang khusus untuk dihormati. Mereka mengambil tanggung jawab, berlatih pada malam hari, mengenakan pakaian adat, kemudian berdiri menjalankan tugas ketika Sang Merah Putih dikibarkan.

Lima tahun tradisi itu berlangsung, dan setiap pelaksanaan membawa makna yang hampir sama: kemerdekaan bukan hanya milik generasi yang masih muda.

Di antara barisan peserta, generasi penerus belajar dari mereka yang lebih dahulu menjalani perjalanan bangsa. Sementara bagi para lansia, menjadi petugas upacara menjadi cara lain untuk mengatakan bahwa bertambahnya usia tidak berarti berakhirnya peran.

Di Perum Asabri Bumiayu Indah, kemerdekaan akhirnya tidak hanya dirayakan dengan lomba dan seremoni. Ia hadir melalui keberanian warga senior untuk tetap berdiri, mengambil tanggung jawab, dan memberi contoh kepada generasi setelahnya (hs/dnv).