Pengabdi Setan 3: Origin Buka Teror dari Strasbourg ke Jawa

Joko Anwar membagikan poster Pengabdi Setan 3: Origin melalui akun Threads pribadinya (Ist)

Pengabdi Setan 3: Origin membawa teror ke Strasbourg 1518 dan Jawa abad ke-17. Joko Anwar menyiapkan prekuel yang tayang 2027.

INDONESIAONLINE – Joko Anwar kembali membuka pintu menuju dunia gelap yang selama ini menjadi ciri khas waralaba Pengabdi Setan. Kali ini, bukan keluarga Rini yang menjadi titik awal cerita. Sutradara sekaligus penulis tersebut justru membawa penonton mundur jauh ke masa lalu untuk mencari akar dari sekte, kutukan, dan perjanjian dengan kekuatan jahat yang menjadi benang merah dua film sebelumnya.

Kabar terbaru datang pada Selasa (1/9/2026), ketika Joko Anwar membagikan poster Pengabdi Setan 3: Origin melalui akun Threads pribadinya. Visual tersebut tampil muram: tebing di tepian laut, langit gelap, serta judul film yang berdiri di tengah gambar.

Tidak banyak informasi diberikan, tetapi lanskap tersebut memberi petunjuk bahwa film ketiga akan membawa atmosfer berbeda dari dua instalmen sebelumnya.

Poster itu muncul bersamaan dengan kabar bahwa proyek produksi Pengabdi Setan 3: Origin telah memasuki tahap produksi. Rapi Films dan Come and See Pictures menggarap film tersebut bersama Sky Media dan Legacy Pictures. Film ini dijadwalkan hadir di bioskop Indonesia pada 2027, meski tanggal penayangan belum diumumkan.

Joko Anwar kembali menjadi penulis sekaligus sutradara. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa semesta Pengabdi Setan sejak awal memang disiapkan untuk berkembang melampaui satu film.

“Sejak ‘Pengabdi Setan’ pertama, cerita ini memang tidak pernah dirancang untuk selesai dalam satu film. Sekarang waktunya kita mulai mencari tahu dari mana semuanya bermula,” ujar Joko Anwar.

Pernyataan itu menjadi kunci untuk membaca arah film ketiga. Jika Pengabdi Setan (2017) memperkenalkan teror melalui keluarga Rini dan Pengabdi Setan 2: Communion (2022) memperlebar misteri melalui lingkungan rumah susun serta kelompok yang lebih besar, Origin bergerak ke wilayah yang jauh lebih tua.

Film ini dirancang sebagai prekuel yang dapat berdiri sendiri. Ceritanya akan menelusuri asal-usul sekte dan perjanjian dengan iblis yang menjadi sumber berbagai misteri dalam dua film terdahulu. Dengan demikian, penonton tidak sekadar memperoleh kelanjutan cerita, tetapi diajak memahami bagaimana dunia Pengabdi Setan terbentuk sejak awal.

Dari Histeria Strasbourg 1518 hingga Mercusuar di Jawa

Salah satu aspek paling menarik dari Pengabdi Setan 3: Origin adalah bentang waktu dan tempat yang digunakan. Cerita akan bergerak dari Strasbourg pada abad ke-16 menuju Jawa pada abad ke-17. Produksinya bahkan menggunakan tujuh bahasa, yakni Indonesia, Alsatian, Portugis, Jawa, Belanda, Turki, dan Latin.

Pemilihan Strasbourg bukan sekadar latar Eropa. Film ini mengambil inspirasi dari fenomena historis yang dikenal sebagai Dancing Plague of 1518, sebuah peristiwa aneh ketika sejumlah besar warga Strasbourg mengalami dorongan menari tanpa terkendali.

Catatan sejarah menyebut fenomena tersebut bermula pada Juli 1518. Dalam beberapa pekan, jumlah orang yang terlibat berkembang hingga ratusan. Penyebabnya sampai sekarang belum memiliki kesimpulan tunggal. Sejumlah teori pernah diajukan, mulai dari keracunan ergot hingga gangguan psikogenik massal yang dipicu tekanan sosial dan kondisi kehidupan masyarakat saat itu.

Britannica mencatat fenomena tersebut berlangsung sekitar dua bulan dan melibatkan hingga ratusan warga Strasbourg. Peristiwa itu juga menjadi salah satu contoh paling terdokumentasi dari fenomena dancing mania di Eropa.

Dalam konteks film Joko Anwar, peristiwa tersebut menjadi pijakan dramatik untuk membuka cerita yang kemudian bergerak menuju Jawa. Setelah bagian Strasbourg pada abad ke-16, kisah berlanjut menuju sebuah mercusuar berhantu di pesisir selatan Jawa pada abad ke-17.

Perpindahan dua benua tersebut membuat skala cerita Pengabdi Setan berkembang secara signifikan. Laut, mercusuar, tebing, dan lanskap pesisir yang tampak pada materi promosi terbaru bukan sekadar ornamen visual. Elemen tersebut berpotensi menjadi bagian penting dari ruang cerita yang menghubungkan masa lalu Eropa dengan sejarah gelap di Jawa.

Skala internasional film ini juga terlihat dari keterlibatan Barunson E&A, perusahaan perfilman Korea Selatan yang memperoleh hak penjualan internasional Pengabdi Setan 3: Origin. Film tersebut akan dibawa ke pasar film internasional, termasuk melalui rangkaian pasar film Toronto International Film Festival pada September 2026.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa waralaba Pengabdi Setan tidak lagi diposisikan hanya sebagai produk horor domestik. Cerita yang melintasi abad dan benua sekaligus penggunaan tujuh bahasa membuat proyek ini memiliki cakupan produksi yang lebih besar dibanding dua film sebelumnya.

Namun, semakin banyak petunjuk yang dibuka, semakin sedikit pula bagian cerita yang benar-benar diketahui publik. Detail karakter, hubungan antara peristiwa Strasbourg dan Jawa, serta bentuk perjanjian yang menjadi sumber teror masih dirahasiakan.

Di titik inilah poster terbaru menjadi penting. Gambar sederhana berupa laut, tebing, dan kegelapan tidak menjelaskan cerita secara langsung, tetapi berhasil mengembalikan satu hal yang sejak awal menjadi kekuatan waralaba ini: rasa penasaran.

Pengabdi Setan pertama dirilis pada 2017 dan menjadi salah satu tonggak penting kebangkitan film horor Indonesia modern. Lima tahun kemudian, Pengabdi Setan 2: Communion memperluas semesta tersebut pada 2022. Kini, film ketiga mengambil risiko yang lebih besar dengan meninggalkan alur keluarga Rini dan menggali akar sejarah dari dunia yang telah dibangun Joko Anwar.

Jika dua film terdahulu membuat penonton bertanya tentang apa yang sedang terjadi, Pengabdi Setan 3: Origin tampaknya ingin membawa pertanyaan itu lebih jauh: dari mana semuanya bermula?

Jawabannya baru akan hadir ketika film tersebut memasuki bioskop pada 2027. Untuk saat ini, Joko Anwar baru membuka satu celah kecil menuju dunia yang lebih tua, lebih luas, dan kemungkinan jauh lebih gelap.