Empat dekade berkarya mengantarkan Muchlis Arif menjadi maestro keramik Indonesia. Jejaknya kini diarsipkan melalui buku dan pameran di Batu.
INDONESIAONLINE – Empat puluh tahun bukan waktu yang pendek untuk bertahan di dunia seni. Terlebih ketika bidang yang dipilih tidak selalu berada di pusat perhatian publik. Bagi Muchlis Arif, perjalanan panjang itu justru dimulai dari kesunyian.
Lempung, tungku, studio dan waktu menjadi bagian dari kesehariannya sejak 1986. Kini, setelah empat dekade berlalu, perjalanan tersebut berujung pada pengakuan negara. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Muchlis Arif sebagai maestro seni keramik Indonesia.
Pengakuan itu tidak berhenti pada seremoni. Rekam jejak, karya, pemikiran dan pengetahuan yang dibangun Muchlis selama puluhan tahun kini mulai dipindahkan ke dalam arsip yang dapat dipelajari generasi berikutnya.
Dokumentasi tersebut diwujudkan melalui buku dan pameran bertajuk Jatuh Cinta, Totalitas Sebuah Pengabdian. Kegiatan dibuka di Studio Matahati Ceramics, Kota Batu, Sabtu (5/9/2026), dan menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan seorang perupa yang selama ini bekerja dari balik studio.
Program dokumentasi ini sejalan dengan informasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang menyebut pameran Muchlis berlangsung 5 September hingga 5 Oktober 2026. Kampus tersebut juga mencatat kiprahnya tidak hanya sebagai perupa, tetapi sebagai pengajar seni yang aktif sejak 2001.
Empat Dekade yang Bermula Dari Kesunyian
Muchlis mengenang fase awal kariernya sebagai masa ketika seni keramik belum memiliki banyak peminat. Tidak ada kerumunan yang datang ke studio. Tidak banyak teman seperjalanan. Namun justru dalam situasi tersebut ia menemukan alasan untuk terus bertahan.
“Awalnya jalan sunyi, tidak punya teman. Tapi ajaran dari kakak saya, kalau sendiri berarti kamu yang pertama (the first). Itu yang membuat saya betah bertahan berjam-jam di studio,” ungkapnya.
Kalimat itu menjadi gambaran penting dari perjalanan Muchlis. Ia tidak sekadar mempertahankan profesi sebagai pembuat keramik, tetapi membangun pengetahuan dari proses yang berulang: mencoba, gagal, mengolah material, memahami karakter tanah liat dan kembali menciptakan bentuk baru.
Penerbit AE Publishing mencatat Muchlis lahir di Kota Batu pada Februari 1969. Ia menempuh pendidikan Desain Keramik di Universitas Sebelas Maret dan kemudian melanjutkan pendidikan magister dengan minat penciptaan seni keramik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sejak 1986, ia aktif mengikuti pameran seni rupa pada tingkat lokal, nasional hingga internasional.
Jejak akademiknya juga terus berjalan beriringan dengan praktik kesenian. Basis data penelitian UNESA mencatat Muchlis sebagai akademisi sekaligus peneliti dengan sejumlah publikasi mengenai seni rupa dan keramik pada 2025-2026, termasuk riset tentang tanah liat dan limbah kertas untuk pembuatan paper clay.
Dengan demikian, predikat maestro tidak berdiri hanya di atas jumlah karya. Ada perjalanan akademis, eksperimen material, aktivitas pendidikan serta keterlibatan dalam pengembangan ekosistem seni yang ikut membentuk rekam jejaknya.
Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Joko Susilo, melihat pengakuan tersebut dari perspektif yang lebih luas.
“Dalam tradisi Jawa, maestro itu bisa diibaratkan sebagai empu. Beliau memiliki kepakaran dan keahlian konkret yang diakui publik secara objektif,” ujar Joko Susilo saat ditemui di lokasi acara.
Menurut Joko, empat dekade perjalanan Muchlis juga memperlihatkan konsistensi dan integritas. Karya yang lahir dari studio tidak berhenti sebagai objek estetis, tetapi berkembang menjadi sarana pendidikan dan pemberdayaan.
“Karya beliau tidak berhenti pada ‘seni untuk seni’, tetapi juga memberikan kemaslahatan dan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat luas,” tambahnya.
Ketika Karya Berubah Jadi Pengetahuan
Di titik inilah pameran Jatuh Cinta, Totalitas Sebuah Pengabdian memiliki makna lebih luas daripada sekadar pameran retrospektif.
Muchlis menjelaskan, predikat maestro menjadi bagian dari program Dokumentasi Karya dan Pengetahuan Maestro yang membuat perjalanan berkesenian perlu direkam secara lebih sistematis.
“Semua jejak karya dan arsip sejak 40 tahun lalu kita dokumentasikan. Pengetahuannya dituangkan dalam buku Jatuh Cinta, Totalitas Sebuah Pengabdian,” tutur Muchlis Arif.
Buku tersebut menjadi salah satu instrumen untuk menyimpan pengalaman yang selama ini berada di kepala dan tangan seorang seniman. Informasi penerbit menyebut buku tersebut mendokumentasikan perjalanan Muchlis sejak aktif berkarya pada 1986 hingga perkembangan kariernya dalam berbagai ruang seni dan pemberdayaan masyarakat.
Pameran juga tidak berdiri sendiri. UNESA mencatat kegiatan tersebut menjadi ruang apresiasi atas perjalanan Muchlis dalam seni keramik sekaligus memperlihatkan keterkaitannya dengan pendidikan dan pengembangan kreativitas.
Dari studio, gagasan Muchlis kemudian berkembang ke kelas-kelas edukasi, creativity training, pottery class hingga terapi keramik atau clay therapy. Lempung tidak lagi sekadar bahan baku untuk menghasilkan benda. Material tersebut digunakan sebagai medium belajar, berekspresi dan membangun kreativitas.
Rangkaian pameran hingga 5 Oktober 2026 juga diperkuat kegiatan paralel berupa pameran keramik internasional Ada Rasa di Sukahati. Program tersebut melibatkan residensi seniman dari lima negara, memperluas ruang perjumpaan antara seniman lokal dengan komunitas seni dari luar Indonesia.
Bagi Muchlis, ukuran keberhasilan berkesenian pada akhirnya bukan semata-mata penghargaan.
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak. Lewat media lempung ini, kita ingin terus menghadirkan karya yang tidak hanya fisik, tapi juga memberi edukasi dan dampak sosial,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan predikat maestro sebagai awal dari tanggung jawab baru. Setelah puluhan tahun menciptakan karya, tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan yang lahir dari perjalanan itu tidak berhenti bersama sang pencipta.
Di Kota Batu, perjalanan tersebut kini mendapatkan bentuk baru: buku, arsip, pameran, ruang belajar dan jejaring seniman. Dari sebuah studio yang pernah menjadi tempat seorang seniman menjalani “jalan sunyi”, Muchlis Arif kini meninggalkan sesuatu yang lebih panjang dari sekadar benda keramik.
Ia meninggalkan pengetahuan tentang bagaimana sebuah karya ditempa oleh waktu, ketekunan dan keberanian untuk tetap berkarya ketika belum banyak orang melihat.







