Indonesia Super Fight 4 Jadi Ujian Atlet Taekwondo Jelang Popda

Pembukaan Indonesia Super Fight 4 di Malang menjadi ajang evaluasi atlet taekwondo menuju Popda 2026 dan Porprov Jatim 2027 di Surabaya (jtn/io)

Indonesia Super Fight 4 di Malang menjadi ajang evaluasi atlet taekwondo menuju Popda 2026 dan Porprov Jatim 2027 di Surabaya.

INDONESIAONLINE – Ribuan atlet taekwondo memenuhi GOR Ken Arok, Kota Malang, dalam Kejuaraan Indonesia Super Fight 4 yang berlangsung Jumat (2/10/2026) hingga Minggu (4/10/2026). Di balik perebutan medali dan gelar juara, pertandingan ini menyimpan kepentingan yang lebih panjang: membaca kesiapan atlet menghadapi kompetisi berikutnya.

Sekitar 2.054 atlet dari 94 kontingen ambil bagian dalam kejuaraan tersebut. Mereka datang dari sejumlah daerah, antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.

Kompetisi juga mempertemukan atlet dari sejumlah pusat pembinaan, seperti Puslatda Jawa Timur, Puslatda DIY, Puslatda Jawa Tengah, serta PPLM. Keragaman peserta membuat arena pertandingan bukan sekadar tempat mengumpulkan kemenangan, melainkan ruang untuk menguji kemampuan atlet ketika menghadapi lawan dengan karakter permainan berbeda.

Wakil Ketua Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Jawa Timur, Hendra Prastiyawan, mengatakan Indonesia Super Fight merupakan agenda rutin Pengprov TI Jawa Timur. Kejuaraan tersebut masuk dalam program bidang pertandingan yang diselenggarakan setiap tahun.

Menurut Hendra, keberadaan kompetisi dengan peserta lintas daerah diperlukan agar atlet tidak hanya terbiasa menjalani latihan, tetapi juga memiliki pengalaman menghadapi tekanan pertandingan sebenarnya.

“Ini untuk meningkatkan para atlet-atlet kita dalam rangka menuju prestasi yang gemilang. Tingkat nasional maupun tingkat internasional,” kata Hendra usai opening ceremony Indonesia Super Fight 4, Sabtu (3/10/2026).

Pola pembinaan semacam itu sejalan dengan arah kebijakan olahraga prestasi nasional. Kementerian Pemuda dan Olahraga menerbitkan Permenpora Nomor 8 Tahun 2026 tentang Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Prestasi. Regulasi tersebut menekankan pembinaan atlet secara sistematis, peningkatan kapasitas pelatih, penguatan kelembagaan, serta pembangunan ekosistem kompetitif yang sehat dan berkelanjutan.

Dengan demikian, hasil pertandingan di GOR Ken Arok tidak berhenti pada siapa yang naik podium. Bagi tim pembinaan, performa selama kejuaraan dapat menjadi bahan untuk melihat aspek yang masih harus diperbaiki sebelum atlet memasuki kalender pertandingan berikutnya.

Dari GOR Ken Arok Menuju Popda dan Porprov

Agenda terdekat yang menjadi perhatian Jawa Timur adalah Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2026. Berdasarkan dokumen penetapan cabang olahraga Popda XV Jawa Timur 2026 yang beredar dalam proses persiapan penyelenggaraan, taekwondo termasuk cabang olahraga yang dipertandingkan. Pelaksanaan Popda dijadwalkan pada 6–11 November 2026.

Jarak waktu yang relatif dekat membuat Indonesia Super Fight 4 memiliki arti penting bagi atlet pelajar. Pertandingan di Malang menjadi salah satu kesempatan untuk menguji kesiapan sebelum memasuki kompetisi antarpelajar tingkat provinsi.

Hendra menyebut agenda tersebut dalam konteks persiapan atlet Jawa Timur.

“Ini untuk menghadapi Porprov di tahun 2027 dan juga di Popda tahun 2026 di bulan November besok,” ujar Hendra.

Sementara itu, Kota Malang juga tengah membangun persiapan menuju Porprov Jawa Timur 2027. Pemerintah Kota Malang menyebut Porprov X Jawa Timur akan berlangsung di Surabaya pada 2027. Pada Porprov IX Jatim 2025, Kota Malang menempati posisi kedua dengan raihan 136 medali emas, 127 perak, dan 117 perunggu. Pemerintah kota kemudian menetapkan target 222 medali emas untuk Porprov 2027.

Dalam konteks taekwondo, target tersebut membuat proses seleksi dan evaluasi atlet menjadi semakin penting. Sebab, keputusan memilih atlet tidak hanya berkaitan dengan hasil satu pertandingan, tetapi juga kemampuan mempertahankan performa ketika menghadapi lawan berbeda dan tekanan kompetisi yang lebih tinggi.

Ketua Pengkot TI Kota Malang, Thomas Tri Budi Dharma, mengatakan Indonesia Super Fight 4 diikuti peserta dari berbagai latar belakang. Selain klub, terdapat atlet yang mewakili instansi, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.

Format pertandingan juga mencakup kelas prestasi dan semi prestasi. Kelompok usia yang tampil meliputi pra-kadet, kadet, junior, senior hingga master.

Bagi pengurus Kota Malang, keragaman tersebut memberi ruang lebih luas untuk melakukan pemetaan. Sejumlah atlet telah diproyeksikan masuk tim untuk Popda dan Porprov, sedangkan beberapa kelas masih mempertemukan dua kandidat yang harus dibandingkan lebih lanjut.

Karena itu, performa di Indonesia Super Fight 4 menjadi salah satu bahan pertimbangan sebelum komposisi tim ditetapkan.

“Yang pasti kita akan mengevaluasi lebih detail. Kekurangan-kekurangan, baik teknik, fisik, dan lainnya,” kata Thomas.

Evaluasi itu menunjukkan bahwa pembinaan atlet tidak selesai ketika pertandingan berakhir. Hasil pertandingan justru menjadi pintu masuk untuk mengidentifikasi kelemahan: apakah persoalan berada pada teknik serangan dan pertahanan, kondisi fisik, konsistensi, atau kemampuan mengambil keputusan ketika pertandingan berlangsung.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan sistem pembinaan atlet muda yang dikembangkan Kemenpora. Program Sentra Latihan Olahragawan Muda Potensial Nasional (SLOMPN), misalnya, menempatkan kompetisi dan try out sebagai bagian dari proses mengukur kesiapan atlet, disertai pemantauan performa, latihan, nutrisi, dan pengembangan aspek pendukung lainnya.

Pada level nasional, taekwondo juga tetap menjadi bagian dari pembinaan atlet elite. Data Kemenpora untuk Pelatnas Asian Games 2026 mencatat 10 atlet taekwondo dalam pemusatan latihan nasional.

Artinya, jalur prestasi atlet taekwondo terbentuk secara berjenjang, mulai dari kompetisi daerah, kejuaraan pelajar dan provinsi, hingga level nasional dan internasional. Indonesia Super Fight 4 berada di salah satu mata rantai tersebut.

Bagi atlet, pertandingan di GOR Ken Arok pada akhirnya bukan hanya soal menang atau kalah. Ada catatan performa yang harus dibawa pulang, kemudian diterjemahkan menjadi program latihan sebelum memasuki pertandingan berikutnya.

Hendra pun mengingatkan atlet agar tidak menjadikan hasil satu kejuaraan sebagai ukuran akhir perjalanan.

“Jangan bangga dalam pencapaian prestasi dan jangan putus asa bagi yang belum pencapaian prestasi. Ini adalah proses perjalanan panjang untuk menuju prestasi yang gemilang,” pungkasnya.

Dengan Popda 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada November dan Porprov X Jawa Timur 2027 di Surabaya, waktu bagi para atlet untuk memperbaiki kekurangan tidak panjang. Dari GOR Ken Arok, evaluasi menjadi bagian yang tak kalah penting dibanding medali yang dibawa pulang.