Opini  

LAN Tidak Kekurangan Data

M. Fahrurozi, kepala Pusat Data dan Informasi LAN RI (berdasi/reformer)

Oleh: Mochammad Fahrurozi Nasution SPsi MAP

Di tengah percepatan transformasi digital, muncul masalah mengenai bagaimana membuat data, pengetahuan, dan teknologi bekerja bersama untuk menghasilkan keputusan yang lebih cepat dan layanan yang lebih baik. Melalui LAN SEIRAMA, Lembaga Administrasi Negara mengembangkan ekosistem yang menghubungkan data, pengetahuan, pembelajaran, analitik, dan kecerdasan buatan untuk mendukung keputusan yang lebih cepat, tepat, dan berdampak.

Pemerintah hari ini tidak kekurangan data. Data kepegawaian, anggaran, kinerja, layanan, pembelajaran, hasil kajian hingga regulasi terus bertambah dari waktu ke waktu. Bersamaan dengan itu, berbagai aplikasi dan sistem digital tumbuh untuk mendukung proses pemerintahan. Namun banyaknya data belum otomatis membuat organisasi menjadi lebih cerdas.

Ketika pimpinan membutuhkan jawaban atas pertanyaan sederhana, seperti program mana yang membutuhkan perhatian, mengapa target tertentu belum tercapai, di mana masalah berada, sejauh apa organisasi bertumbuh, atau tindakan apa yang perlu segera dilakukan, informasi yang diperlukan belum tentu tersedia dalam satu gambaran yang utuh. Seringkali, pimpinan harus mengadakan rapat dadakan, setiap pimpinan unit kerja kelabakan menyusun progress report, hanya untuk mengetahui di mana posisi organisasi saat ini.

Di sinilah tantangan transformasi digital berubah. Persoalannya tidak lagi hanya bagaimana mendigitalkan proses, melainkan bagaimana membuat data yang tersebar dapat diubah menjadi pengetahuan, insight, keputusan, dan dampak.

Dari Digitalisasi Menuju Pemerintah Digital

Saat ini, transformasi digital pemerintahan Indonesia bergerak menuju fase Pemerintahan Digital. Pemerintah tidak lagi fokus pada pembangunan aplikasi secara individual, tetapi fokus pada integrasi layanan, interoperabilitas data, penyederhanaan proses, keamanan digital, serta pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pengambilan keputusan.

Kerangka digital government OECD juga menempatkan data-driven public sector dan government as a platform sebagai bagian penting pemerintahan digital. Artinya, data dan informasi tidak seharusnya berhenti sebagai output administrasi dan teronggok begitu saja pada file penyimpanan komputer ataupun dalam lemari kabinet, melainkan dikelola sebagai aset strategis untuk mendukung pelayanan, kebijakan dan pengambilan keputusan. Selain itu, organisasi perlu memastikan bahwa data dapat dipercaya, pengetahuan dapat ditemukan kembali, analitik dapat menjelaskan kondisi organisasi, dan hasilnya benar-benar digunakan dalam pengambilan keputusan.

Dalam praktiknya saat ini, banyaknya data belum benar-benar dapat dimanfaatkan. Sumber-sumber  data tersebut belum sepenuhnya terhubung dan belum dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan organisasi maupun pengambilan keputusan secara simultan.

Ketika Data Tersedia,  Gambaran Organisasi belum Utuh

Kondisi di atas, juga relevan dengan apa yang terjadi di lingkungan Lembaga Administrasi Negara (LAN). LAN telah memiliki banyak sumber data dan pengetahuan yang tumbuh mengikuti kebutuhan organisasi. Berbagai unit kerja memiliki layanan, aplikasi, sistem informasi, hasil kajian, regulasi, repository, sistem pembelajaran, dokumentasi hingga pengetahuan yang lahir dari pengalaman pegawai. Namun saat ini, sebagian besar masih disimpan, dikelola, dan dimanfaatkan secara parsial.

Kalimat kuncinya adalah “data telah tersedia, tetapi tersebar di berbagai aplikasi, unit kerja dan bahkan sumber eksternal sehingga belum selalu mudah menghasilkan gambaran organisasi secara utuh”.

Persoalannya bukan semata jumlah sistem. Lebih dari itu, karena banyaknya sumber justru menciptakan persoalan baru karena tidak ditemukannya proses keterhubungan. Satu pertanyaan pimpinan bisa membutuhkan data dari lebih dari satu unit. Sebuah persoalan kebijakan dapat membutuhkan hasil kajian, regulasi, data kinerja dan pengalaman sebelumnya sekaligus. Pengetahuan yang relevan mungkin sudah dimiliki organisasi, tetapi belum tentu mudah ditemukan saat diperlukan.

Dengan kata lain, “LAN tidak kekurangan informasi. Tantangannya adalah membuat informasi tersebut bekerja sebagai sebuah ekosistem”.

Kepala LAN Muhammad Taufik menyampaikan bahwa “Kita tidak sekadar membangun aplikasi. Yang perlu dibangun adalah cara kerja yang lebih cerdas, terukur, dan berdampak. Data harus dapat dibaca pimpinan, pengetahuan harus mudah diakses, dan teknologi harus membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih baik.”

Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang pengembangan LAN SEIRAMA, proyek perubahan yang dikembangkan melalui Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) LAN sebagai upaya membangun ekosistem kecerdasan organisasi. Dalam proses penajamannya, Kepala LAN memberikan arah agar pengembangan LAN SEIRAMA tidak berhenti pada integrasi teknologi atau pembangunan dashboard. Perubahan harus menyentuh cara organisasi bekerja dan memberikan dampak nyata terhadap kinerja.

LAN SEIRAMA tidak dirancang sebagai satu super-app yang menggantikan seluruh sistem yang sudah ada. Yang dibangun adalah lapisan keterhubungan yang memungkinkan data dan pengetahuan tersebut diintegrasikan, dikelola, dan digunakan untuk mendukung analitik serta keputusan. Pendekatan tersebut penting karena setiap sistem memiliki fungsi dan pemilik prosesnya sendiri.

Tidak semua aplikasi harus dilebur. Tidak semua data harus ditempatkan dalam satu aplikasi. Yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan membuat data tersebut dapat berbicara satu sama lain. Maka LAN SEIRAMA lebih tepat dipahami sebagai ekosistem, bukan aplikasi.

Empat Syarat agar Data Dapat Digunakan dalam Ekosistem LAN SEIRAMA

Satu fakta yang sering dilupakan, “memiliki akses terhadap banyak data belum cukup”. LAN SEIRAMA menetapkan sejumlah prinsip terhadap sumber pengetahuan organisasi: terintegrasi, mudah diakses, akurat dan terpercaya, serta berkelanjutan. Sumber internal juga tidak dipandang berdiri sendiri, tetapi dapat dilengkapi melalui kolaborasi internal dan eksternal, baik dengan kementerian/lembaga, akademisi, media/publik maupun mitra strategis LAN lainnya.

Tentunya, empat prinsip tersebut penting. Terintegrasi, karena data yang terpisah akan sulit menghasilkan gambaran yang menyeluruh. Mudah diakses, karena pengetahuan yang tersedia tetapi sulit ditemukan memiliki nilai yang terbatas. Akurat dan terpercaya, karena keputusan hanya akan sebaik data yang menjadi dasarnya. Dan berkelanjutan, karena informasi harus terus diperbarui mengikuti perubahan organisasi dan kebutuhan strategis. Dengan demikian, transformasi digital bukan semata pekerjaan teknologi. Ia juga merupakan pekerjaan tata kelola.

Salah satu fondasi yang dirancang dalam LAN SEIRAMA adalah penguatan pengelolaan data. Pengelolaan ini fokus ke dalam tiga komponen yang saling berkaitan: “Data Warehouse, Satu Data LAN, dan Manajemen Pengetahuan”.

LAN SEIRAMA juga fokus pada hak dan wewenang data owner. Pusdatin dapat membangun teknologi dan integrasi, tetapi kebenaran substansi data tetap membutuhkan pemilik yang jelas. Sebab sistem yang terintegrasi tetapi berisi data yang tidak dapat dipercaya hanya akan mempercepat penyebaran kesalahan. Prinsipnya sederhana: data tetap mempunyai owner, pengetahuan tetap mempunyai sumber, dan LAN SEIRAMA menghubungkan serta mengubahnya menjadi intelligence.

Setelah data terhubung, tantangan berikutnya adalah mengubahnya menjadi sesuatu yang bermakna. LAN SEIRAMA membangun analitik secara bertahap. Pada level pertama terdapat analitik deskriptif, untuk memahami apa yang terjadi. Kemudian analitik diagnostik, untuk mencari tahu mengapa sesuatu terjadi. Lalu analitik prediktif, untuk memperkirakan apa yang mungkin terjadi. Dan akhirnya analitik preskriptif, untuk membantu menentukan tindakan yang dapat dipertimbangkan.

Seperti yang diungkap Kepala Pusat Data dan Informasi LAN/Project Leader LAN SEIRAMA Mochammad Fahrurozi Ramdhan Nasution bahwa: “Yang ingin kami bangun bukan sekadar aplikasi baru. LAN SEIRAMA berupaya menghubungkan data, pengetahuan, pembelajaran, pengalaman, dan’ teknologi agar dapat diolah menjadi actionable intelligence yang membantu pimpinan dan organisasi mengambil keputusan yang lebih baik.”

Urutan tersebut membuat fungsi dashboard berubah. Dashboard tidak lagi hanya menjadi tempat menampilkan angka. LAN SEIRAMA menempatkan Executive Dashboard dan AI LAN sebagai bagian dari lapisan analitik, bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai instrumen untuk membantu organisasi membaca kondisi dan mendukung keputusan.

Ada persoalan lain yang bahkan lebih rumit daripada data. Pengetahuan tidak seluruhnya berada dalam angka. Sebagiannya tersimpan pada dokumen, hasil kajian, policy brief, modul dan video pembelajaran, regulasi, proyek perubahan, dan repository. Sebagian lainnya berada pada pengalaman pegawai, praktik kerja, pembelajaran, coaching, mentoring, pengalaman proyek perubahan, hingga pengetahuan para subject matter expert.

LAN SEIRAMA menempatkan sumber pengetahuan sebagai satu ekosistem yang dapat berasal dari sistem pembelajaran, KMS, PPID, JDIH, repository/perpustakaan, policy brief dan sumber pengetahuan lainnya. Artinya, membangun manajemen pengetahuan bukan berarti mengumpulkan semua file ke dalam satu folder besar. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk: “menemukan, memvalidasi, menghubungkan, menggunakan kembali, dan memperbarui pengetahuan”.

Bayangkan seorang ASN sedang menyiapkan policy brief. Ia membutuhkan metode analisis, regulasi, kajian terdahulu, contoh policy brief, serta proyek perubahan yang pernah membahas persoalan serupa. Jika semua itu berada di tempat yang berbeda, sebagian besar waktunya habis untuk mencari. Jika pengetahuan tersebut terhubung, waktunya dapat digunakan untuk pekerjaan yang lebih bernilai: menganalisis.

Karena itu LAN SEIRAMA tidak berupaya memindahkan seluruh pengetahuan ke satu tempat. Yang dibangun adalah ekosistem yang memungkinkan pengetahuan tersebut ditemukan, dipercaya, dihubungkan, digunakan kembali, dan dikembangkan.

Melalui pengaturan akses yang tepat, ekosistem pembelajaran LAN dapat dimanfaatkan ASN kementerian/lembaga, mitra, dan bahkan pada layanan tertentu terbuka bagi mahasiswa atau masyarakat. Layanan Sibangkom LAN tetap menjadi bagian penting sebagai platform pembelajaran. Materinya juga dapat diperluas. Tidak hanya pelatihan formal, tetapi pengetahuan dasar yang diperlukan ASN dalam menjalankan tugas.

Dengan begitu, LAN tidak hanya menyediakan pelatihan, tetapi semakin berkembang menjadi learning and knowledge ecosystem bagi ASN. Oleh karena itu, pada lapisan berikutnya, LAN SEIRAMA memasukkan pemanfaatan AI. Namun AI bukan ditempatkan sebagai pengganti manusia. Perannya adalah memperkuat kemampuan organisasi untuk mengakses, memahami dan menganalisis informasi.

AI pada LAN SEIRAMA digambarkan sebagai pendukung analitik, pencarian informasi dan pengetahuan, pemrosesan bahasa alami serta kemampuan lain yang dapat memperkuat pengambilan keputusan berbasis data. AI difokuskan untuk dapat mengarahkan pengguna menuju sumber pengetahuan organisasi yang relevan dan dapat dipercaya.

“Seorang ASN kelak dapat bertanya mengenai pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan kompetensinya, persyaratan mengikuti PKN, cara melakukan analisis kebijakan, metode penyusunan policy brief, hingga proyek perubahan sebelumnya yang membahas masalah serupa.”

Dengan demikian, AI tidak berdiri sendiri. Ia bergantung pada kualitas data, kualitas pengetahuan, metadata, tata kelola dan akses yang berada di bawahnya. AI yang cerdas membutuhkan fondasi data yang sehat. Bagian penting dari LAN SEIRAMA bukan pada pemanfaatan teknologi semata, tapi mengenai transformasi data dan informasi menjadi insight yang menghasilkan keputusan dan dampak.

Ekosistem ini tidak berhenti pada dashboard atau AI. Setiap insight harus terhubung dengan keputusan, tindakan, pembelajaran dan pengukuran dampak. LAN SEIRAMA juga tidak dirancang sebagai proses yang selesai setelah satu keputusan dibuat. Setelah keputusan diterapkan, hasilnya kembali menjadi bahan evaluasi. Inilah yang membedakan ekosistem kecerdasan organisasi dari sekadar sistem informasi. Sistem menyimpan informasi. Ekosistem yang matang belajar dari informasi tersebut.

Inovasi Internal yang Dapat Menghasilkan Manfaat Lebih Luas

Pada tahap awal, LAN SEIRAMA menyasar kebutuhan organisasi LAN. Namun inovasi internal bukan berarti manfaatnya kecil. Justru banyak kualitas pelayanan publik ditentukan oleh proses yang tidak terlihat oleh masyarakat. Kecepatan pimpinan memperoleh informasi. Kemampuan organisasi mendeteksi masalah lebih dini. Ketersediaan pengetahuan bagi pegawai. Kualitas data yang digunakan dalam kebijakan. Koordinasi antarunit. Dan kemampuan organisasi belajar dari pengalaman.

Semua terjadi di belakang layar, tetapi menentukan kualitas layanan yang dihasilkan. Karena itu, LAN SEIRAMA dapat ditempatkan sebagai inovasi tata kelola dan layanan pemerintahan internal yang berupaya membangun hubungan lebih kuat antara data, pengetahuan dan keputusan. Model ini pada akhirnya juga memiliki potensi untuk dipelajari atau diadaptasi oleh organisasi lain, bukan dengan menyalin aplikasinya, tetapi dengan menerapkan prinsip dan kerangka kerjanya sesuai kebutuhan masing-masing.

“LAN SEIRAMA juga tidak diarahkan berhenti sebagai inovasi internal. Model ekosistemnya diharapkan dapat diadopsi dan diadaptasi kementerian/lembaga lain sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing.”

Yang direplikasi bukan aplikasi LAN. Yang dapat diadopsi adalah kerangkanya: bagaimana sebuah organisasi mengidentifikasi sumber data, menetapkan akuntabilitas, mengelola pengetahuan, mengembangkan pembelajaran, menggunakan analitik dan AI, kemudian mengubah seluruhnya menjadi dukungan bagi keputusan.

Pada akhirnya, arah LAN SEIRAMA dirangkum melalui tiga gagasan, yaitu bigger berarti memperluas jangkauan dan keterhubungan ekosistem data, pengetahuan dan layanan. Smarter berarti mengubah data dan pengetahuan menjadi intelligence untuk mendukung keputusan yang lebih tepat. Better berarti memastikan kecerdasan tersebut menghasilkan cara kerja yang lebih berkinerja, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi organisasi.

Ketiganya saling berkaitan. Tidak cukup menjadi bigger apabila keterhubungan hanya menghasilkan lebih banyak data. Tidak cukup menjadi Smarter apabila analitik tidak digunakan dalam keputusan. Dan belum menjadi better apabila keputusan tersebut tidak menghasilkan perubahan nyata. Karena pada akhirnya keberhasilan LAN SEIRAMA bukan diukur dari berapa banyak aplikasi yang berhasil diintegrasikan. Bukan pula dari berapa banyak grafik yang tampil dalam dashboard atau seberapa canggih AI yang digunakan.

Dari data menjadi informasi. Dari informasi menjadi pengetahuan. Dari pengetahuan menjadi insight. Dari insight menjadi keputusan. Dari keputusan menjadi tindakan. Dan dari tindakan menjadi dampak. Itulah perjalanan yang ingin dibangun melalui LAN SEIRAMA.

Ukuran yang lebih relevan adalah “apakah pimpinan memperoleh informasi lebih cepat? apakah data menjadi lebih dapat dipercaya? apakah pegawai lebih mudah menemukan pengetahuan? apakah keputusan semakin berbasis bukti? apakah pekerjaan menjadi lebih efisien? dan apakah seluruh perubahan tersebut menghasilkan kinerja dan layanan yang lebih baik?”

Karena transformasi digital sesungguhnya bukan tentang membuat organisasi terlihat semakin digital.

“Transformasi digital adalah tentang membuat organisasi semakin mampu memahami dirinya, belajar, mengambil keputusan, dan menghasilkan dampak.”

Penulis: Kepala Pusat Data dan Informasi, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia