Bukan Sekadar Tempat Belanja, Pasar Tradisional Malang Disiapkan Jadi Pusat Entrepreneur Mahasiswa

Pasar Klojen, salah satu pasar rakyat di Kota Malang. (agendakota)

INDONESIAONLINE – Pengembangan pasar rakyat di Kota Malang bakal dilakukan pemerintah daerah. Tidak hanya berpotensi menjadi pusat transaksi kebutuhan sehari-hari, Pemerintah Kota Malang juga membidik sejumlah pasar sebagai ruang pengembangan usaha mahasiswa sekaligus destinasi wisata kuliner.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Eko Sri Yuliadi menyebut pengembangan tersebut menyasar mahasiswa yang telah merintis usaha. Program ini sejalan dengan inisiatif Kampus Entrepreneur yang dikembangkan Kementerian Perdagangan.

Menurut Eko, potensi tersebut sudah terlihat di Pasar Klojen. Sejumlah mahasiswa diketahui menjalankan aktivitas bisnis di pasar tradisional tersebut. “Artinya, program dari Kementerian Perdagangan untuk di Kota Malang ini sudah diaplikasikan oleh pemerintah daerah, yaitu telah merangkul beberapa perguruan tinggi yang mahasiswanya mempunyai jiwa entrepreneur,” ujar Eko.

Keberadaan mahasiswa yang berbisnis di pasar rakyat menunjukkan bahwa aktivitas kewirausahaan di lingkungan kampus dapat berkembang di luar ruang perkuliahan. Pasar tradisional menjadi salah satu tempat mahasiswa menguji kemampuan usaha secara langsung.

Eko menjelaskan, perguruan tinggi telah memberikan bekal kewirausahaan melalui mata kuliah terkait. Potensi itu kemudian dapat dikembangkan dengan mendorong mahasiswa terlibat dalam aktivitas ekonomi di pasar rakyat.

“Di perguruan tinggi kan ada pelajaran wirausaha, pelajaran entrepreneur. Dan ini tadi kita lihat di lapangan bahwa kebanyakan di Pasar Klojen ini ada beberapa mahasiswa yang memang sudah mempunyai jiwa entrepreneur,” katanya.

Diskopindag juga menyiapkan pengembangan konsep serupa di sejumlah pasar lain. Pasar Sawojajar, Pasar Bunul, Pasar Sukun, dan Pasar Bareng masuk dalam proyeksi pengembangan pasar berbasis kunjungan kuliner dan aktivitas kewirausahaan.

Menurut Eko, pembenahan Pasar Bunul telah mulai berjalan. Sementara itu, pengembangan di pasar lainnya akan disiapkan melalui pelibatan perguruan tinggi yang memiliki program atau mata kuliah kewirausahaan.

Pemkot Malang berencana mempertemukan pengelola program dari perguruan tinggi dengan pihak terkait melalui forum diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD). Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membahas bentuk keterlibatan mahasiswa dalam pengembangan pasar.

“Bulan depan ini, nanti kita undang dari beberapa kampus untuk bisa kita arahkan ke sana,” ungkap Eko.

Meski demikian, pengembangan pasar menjadi destinasi kuliner dan ruang bisnis mahasiswa membutuhkan lebih dari sekadar pelibatan perguruan tinggi. Kesiapan fasilitas, kenyamanan pengunjung, serta keberlanjutan usaha pedagang tetap menjadi faktor penting agar konsep tersebut dapat berjalan.

Pengembangan ini juga tidak terbatas pada satu pasar. Eko menyebut, aktivitas mahasiswa yang menjalankan usaha turut ditemukan di Pasar Oro-Oro Dowo maupun sejumlah pasar lainnya di Kota Malang.

Dengan demikian, pasar rakyat berpeluang memainkan peran lebih luas dalam ekosistem ekonomi kota. Selain mempertahankan fungsi perdagangan tradisional, pasar dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan usaha sekaligus memperluas daya tarik kuliner lokal. (rw/hel)