Niken Salindri Ungkap Ritual Tak Biasa sebelum Manggung di Pujon Malang, Menari 30 Menit di Depan Makam

Momen Niken Salindri diduga menari di makam saat akan tampil di kawasan Pujon, Kabupaten Malang. (@RJL 5)

INDONESIAONLINE –  Penyanyi sekaligus sinden muda Niken Salindri membagikan pengalaman tidak biasa yang dialaminya sebelum tampil di kawasan Pujon, Kabupaten Malang. Ia mengaku harus menjalani sebuah ritual dengan menari di depan makam selama sekitar 30 menit sebelum naik ke panggung.

Pengalaman tersebut diceritakan Niken saat berbincang dalam video di kanal YouTube RJL 5. Ia menjelaskan, ada tradisi yang harus dijalani sebelum pertunjukan di daerah tersebut, yakni meminta izin kepada pedanyangan atau tempat yang berkaitan dengan leluhur desa.

Menurut Niken, bentuk ritual yang biasa dilakukan di tempat lain umumnya berupa doa bersama hingga selamatan. Namun, pengalaman yang ia jalani saat berada di Pujon berbeda dari kebiasaan yang selama ini ia ketahui.

“Biasanya kalau izin di pedanyangan itu mungkin seperti dupa, berdoa bareng-bareng, selamatan, nanti ada ingkung, tumpeng. Intinya tumpengan, terus bersama RT, RW, dan orang-orang yang ada di desa situ,” ungkap Niken dalam video tersebut.

Niken kemudian menceritakan ritual yang harus dijalaninya sebelum tampil di Pujon. Ia mengaku diminta menari di depan makam pada malam hari.

“Tapi kemarin waktu di Malang, di Pujon itu sebelum naik ke atas panggung, ritualnya harus menari dulu di makam situ,” ujarnya.

Ritual tersebut berlangsung sekitar pukul 21.00 WIB. Durasi menarinya pun tidak sebentar, yakni kurang lebih setengah jam.

Saat ditanya mengenai waktu dan lamanya ritual, Niken membenarkan bahwa ia menari di depan makam selama sekitar 30 menit.

Pengalaman itu menjadi hal yang cukup berbeda dari persiapan pertunjukan yang biasa ia jalani sebelum naik panggung.

Selain lokasi dan durasinya, Niken juga mengungkapkan bahwa ritual tersebut mengharuskannya menari dengan iringan musik campursari lengkap.

Ia mengatakan, biasanya dirinya membawa band dengan format musik yang tidak selalu menggunakan perangkat gamelan. Namun, saat menjalani ritual di Pujon, iringan gamelan menjadi bagian yang harus disiapkan.

“Iya, itu harus campursari full. Biasanya kan aku bawa band, musik-musik yang enggak ada gamelannya. Tapi di situ harus ada gamelannya,” kata Niken.

Ia kemudian menyebut sejumlah instrumen gamelan yang digunakan untuk mengiringi tarian tersebut, mulai dari kendang, saron, gong, hingga kempul. Niken juga menyebut dirinya diminta menari tayub dalam ritual tersebut.

Unggahan itu pun viral menuai beragam respons dari berbagai warganet. Namun hingga saat ini belum terkonfirmasi pasti, desa apa di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, yang memiliki ritual seperti yang diceritakan Niken Salindri. (bn/hel)