Kisah dokter muda UIN Malang kawal kesehatan pemudik di Batu. Mengungkap data bahaya kelelahan fisik dan pentingnya mitigasi medis di jalur mudik.
INDONESIAONLINE – Di balik eforia perayaan hari kemenangan, ada sebuah realitas yang sering kali luput dari kalkulasi: mudik adalah sebuah ujian ketahanan fisik yang ekstrem. Jutaan orang bergerak secara serentak melintasi batas-batas provinsi, menembus kemacetan berjam-jam, dan menahan penat demi satu tujuan, yakni ruang tamu di kampung halaman. Namun, ketika mesin kendaraan terus dipacu, tubuh manusia justru memiliki batas toleransinya sendiri.
Berdasarkan data resmi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia, pergerakan masyarakat pada masa mudik Lebaran 2024 diproyeksikan mencapai angka fantastis, yakni 193,6 juta orang, atau setara dengan 71,7% dari total populasi Indonesia.
Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Mobilitas raksasa ini sayangnya selalu membawa bayang-bayang kelam. Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mencatat bahwa faktor penyumbang kecelakaan lalu lintas tertinggi selama masa mudik bukanlah kerusakan mesin, melainkan human error, di mana kelelahan ekstrem dan microsleep (tertidur sejenak) mendominasi klasemen penyebab kecelakaan maut.
Menyadari besarnya pertaruhan nyawa di jalan raya, sekelompok dokter muda dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menolak untuk sekadar berdiam diri dan menikmati libur Lebaran. Mereka memilih turun gelanggang, menukar kenyamanan kamar dengan debu dan hiruk-pikuk jalan raya. Mengambil titik strategis di sekitar RSUD Karsa Husada, Kota Batu—salah satu jalur arteri dan destinasi wisata yang selalu mengalami anomali kepadatan luar biasa—para calon dokter ini mendirikan posko layanan kesehatan respons cepat.

Membaca Tubuh di Tengah Jalan Raya
Jika Anda singgah di posko tersebut, pemandangan yang tersaji bukanlah seperti ruang tunggu rumah sakit yang sunyi dan steril. Di sini, aroma keringat bercampur dengan bau bensin dan aspal panas. Pasien-pasien yang datang bukanlah mereka yang mendaftar melalui resepsionis, melainkan para pemudik dengan mata merah, wajah kuyu, dan napas yang sesekali tersengal.
Fenomena di lapangan mengonfirmasi bahwa perjalanan jauh adalah “pembunuh senyap” bagi kondisi fisiologis manusia. Para dokter muda ini mendapati fakta mencemaskan: puluhan pemudik datang mengeluhkan sakit kepala berdenyut, rasa lelah yang melumpuhkan (fatigue), hingga tekanan darah yang melonjak drastis secara tiba-tiba.
Duduk diam di jok motor atau mobil selama lebih dari empat jam tanpa peregangan memicu penumpukan asam laktat di otot dan menghambat sirkulasi darah. Menurut panduan resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, pengemudi wajib beristirahat setidaknya 15 menit setiap 4 jam perjalanan untuk mobil, dan setiap 2 jam untuk pengendara sepeda motor.
Sayangnya, dogma “yang penting cepat sampai” membuat anjuran medis ini sering kali diabaikan. Akibatnya, pemudik memaksakan diri melawan kantuk dengan konsumsi kafein berlebih, yang justru memicu takikardia (jantung berdebar cepat) dan dehidrasi akut.
Di sinilah peran para dokter muda FKIK UIN Maliki Malang menjadi sangat esensial. Mereka tidak hanya duduk di balik meja memeriksa tekanan darah menggunakan tensimeter atau mengukur denyut nadi. Pendekatan yang mereka lakukan jauh melampaui standar klinis dasar. Mereka melakukan intervensi psikososial.
Sebuah percakapan singkat tentang “Bapak dari mana mau ke mana?”, “Sudah habis berapa botol air putih hari ini?”, atau “Tadi sempat tidur di rest area atau bablas terus?” menjadi pintu masuk yang sangat efektif.
Melalui obrolan yang cair dan tidak menghakimi, para dokter muda ini membedah rekam medis tersembunyi para pemudik. Mereka menelisik pola istirahat, diet selama perjalanan, hingga riwayat penyakit bawaan (komorbid) seperti hipertensi atau diabetes yang rawan meledak saat tubuh mengalami stres fisik akibat perjalanan.
Ruang Kelas Bernama Jalan Raya
Gaya komunikasi yang luwes ini sengaja dibangun. Dalam kondisi kelelahan parah, emosi seseorang cenderung tidak stabil. Layanan medis yang terlalu kaku dan birokratis justru akan membuat pemudik enggan memeriksakan diri. Senda gurau ringan yang dilontarkan para mahasiswa kedokteran ini secara psikologis mampu menurunkan hormon kortisol (hormon stres) pada pemudik, membuat mereka merasa didengarkan dan dirawat selayaknya oleh keluarga sendiri.
Dr. Abdul Malik Setiawan, M.Infect.Dis., PhD., selaku koordinator kegiatan ini, memandang bahwa jalan raya saat musim mudik adalah laboratorium kehidupan yang paling jujur bagi para calon tenaga medis. Menurutnya, ada jurang pemisah antara teori di dalam buku teks tebal kedokteran dengan realitas sosiologis masyarakat Indonesia.
“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan murni untuk menjaga kesehatan pemudik. Di balik itu, ini adalah sarana pembelajaran kontekstual tingkat tinggi bagi para dokter muda. Mereka belajar menangani kasus-kasus lapangan secara langsung dalam situasi tekanan tinggi dengan mobilitas massa yang masif,” papar Dr. Abdul Malik.
Lebih jauh ia menjelaskan, kondisi di lapangan sering kali menuntut improvisasi dan pengambilan keputusan klinis dalam hitungan menit. Di rumah sakit, dokter didukung oleh fasilitas rontgen, laboratorium darah, dan perawat. Di tenda pinggir jalan, senjata utama mereka hanyalah stetoskop, alat cek tanda-tanda vital dasar, dan insting medis yang dipertajam.
Bagaimana membedakan antara pusing akibat dehidrasi biasa dengan gejala awal stroke ringan akibat kelelahan? Keputusan harus diambil cepat. Jika dinilai berbahaya, mereka harus segera merujuk pemudik ke RSUD Karsa Husada yang berada di dekat mereka. Keterbatasan ini justru melatih nalar kritis dan empati para dokter muda.
Kesenjangan Kesadaran Perjalanan Modern
Lebih dalam dari sekadar aksi sosial, kehadiran posko kesehatan ini memotret sebuah ironi besar dalam budaya mudik kita: adanya kesenjangan literasi kesehatan sebelum melakukan perjalanan.
Coba perhatikan kebiasaan masyarakat kita. Seminggu sebelum mudik, bengkel-bengkel mobil dan motor penuh sesak. Kampas rem diganti, oli mesin diperbarui, ban diseimbangkan. Kendaraan dipersiapkan hingga mencapai kondisi 100 persen. Namun, bagaimana dengan pengemudinya? Sangat jarang, atau bahkan hampir tidak ada, pemudik yang sengaja datang ke klinik untuk melakukan general medical check-up guna memastikan tubuh mereka siap menyetir menembus lintas provinsi.
Banyak pemudik di Kota Batu yang mengaku kepada para dokter muda ini bahwa mereka baru menyadari tubuhnya “rusak” ketika pandangan mulai berkunang-kunang di atas aspal. Gangguan seperti kram kaki, asam lambung naik karena telat makan, hingga dehidrasi dianggap sebagai “bumbu perjalanan” yang biasa.
Padahal, mengacu pada studi keselamatan jalan raya global, kelelahan ekstrem memiliki efek yang ekuivalen dengan mabuk alkohol. Mengemudi setelah terjaga selama 18 jam penuh membuat refleks dan fungsi kognitif otak menurun drastis, setara dengan seseorang yang memiliki kadar alkohol dalam darah (Blood Alcohol Content/BAC) sebesar 0,05%. Jika dibiarkan, “bumbu perjalanan” itu bisa berubah menjadi tragedi yang merenggut nyawa satu keluarga.
Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh para dokter muda FKIK UIN Maliki Malang bukanlah sekadar rutinitas bagi-bagi obat. Ini adalah sebuah gerakan edukasi akar rumput. Mereka sedang menanamkan sebuah paradigma baru kepada masyarakat: bahwa memastikan tekanan darah dalam kondisi normal sama krusialnya dengan memastikan tekanan angin pada ban kendaraan Anda.
Melihat tren pergerakan manusia modern yang semakin masif, padat, dan kompleks, keberadaan layanan kesehatan proaktif di titik-titik lelah seperti di Kota Batu ini harusnya tidak lagi dilihat sebagai kegiatan insidental setahun sekali. Ke depan, ini harus menjadi cetak biru standar keselamatan perjalanan nasional.
Para dokter muda dari UIN Malang telah memberikan teladan nyata. Mereka membuktikan bahwa kepedulian yang dibalut dengan ilmu pengetahuan mampu mencegah air mata tumpah di jalan raya raya. Karena pada akhirnya, makna sejati dari mudik bukanlah tentang seberapa cepat kita membelah jalanan, melainkan tentang bagaimana kita bisa tiba di ambang pintu rumah dengan selamat, sehat, dan bisa memeluk keluarga yang telah menunggu lama (as/dnv)













