Kontes Sapi Kediri Didorong Jadi Agenda Tahunan Bergengsi

Kontes Sapi Kediri Didorong Jadi Agenda Tahunan Bergengsi
Bupati Kediri dorong kontes sapi jadi agenda tahunan, perkuat ketahanan pangan dan tarik peternak baru di tengah tren populasi meningkat (jtn/io)

Bupati Kediri dorong kontes sapi jadi agenda tahunan, perkuat ketahanan pangan dan tarik peternak baru di tengah tren populasi meningkat.

INDONESIAONLINE – Upaya memperkuat sektor peternakan di Kabupaten Kediri kembali ditegaskan oleh Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana. Pria yang akrab disapa Mas Dhito itu mendorong agar kontes sapi di wilayahnya tidak sekadar menjadi ajang seremonial, melainkan agenda rutin tahunan dengan skala yang semakin besar.

Dorongan tersebut disampaikan saat ia meninjau sekaligus menyerahkan hadiah kepada para pemenang kontes sapi di Lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Rabu (6/5/2026). Dalam kesempatan itu, Mas Dhito menekankan pentingnya menjaga kesinambungan acara sebagai bagian dari strategi penguatan sektor peternakan daerah.

“Tahun depan harus bisa diselenggarakan lagi dengan euforia yang lebih besar. Harapan saya ini bisa jadi kontes ternak terbaik di Jawa Timur,” ujarnya.

Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Kontes sapi yang baru kembali digelar pada 2026 ini menjadi momentum kebangkitan setelah vakum selama tujuh tahun sejak terakhir diselenggarakan pada 2019. Kembalinya agenda tersebut menjadi indikator pulihnya aktivitas peternakan pasca berbagai tantangan, termasuk wabah penyakit ternak.

Kebangkitan Setelah Vakum dan Dampak Wabah PMK

Vakumnya kontes sapi Kediri tidak bisa dilepaskan dari dampak pandemi global dan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat melanda Indonesia pada 2022. Wabah ini menyebabkan gangguan serius pada sektor peternakan nasional, termasuk di Kediri.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa wabah PMK sempat menjangkiti lebih dari 600 ribu ekor ternak di Indonesia pada puncaknya. Dampaknya, sejumlah daerah, termasuk Kediri, harus menutup pasar hewan untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Langkah tersebut memang efektif menekan laju penularan, namun di sisi lain berdampak pada aktivitas ekonomi peternak. Kontes sapi, yang biasanya menjadi ruang promosi sekaligus transaksi, ikut terhenti.

Kini, dengan situasi yang lebih terkendali, pemerintah daerah melihat momentum untuk menghidupkan kembali kegiatan tersebut sebagai simbol pemulihan.

Kontes sapi Kabupaten Kediri tahun ini digelar selama dua hari, mulai Selasa (5/5), dengan melibatkan 134 peserta dari 26 kecamatan. Ajang ini terbagi dalam tiga kategori utama: sapi Peranakan Ongole (PO), sapi hasil persilangan inseminasi buatan (IB), serta kategori kereman ekstrem.

Kategori terakhir menjadi sorotan karena menampilkan sapi dengan bobot luar biasa. Dalam kontes kali ini, sapi dengan berat mencapai 1 ton 214 kilogram menjadi yang terberat, menunjukkan keberhasilan teknik pemeliharaan intensif yang diterapkan peternak lokal.

Menurut data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, tren peningkatan bobot sapi di berbagai daerah memang mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dipengaruhi oleh penggunaan pakan berkualitas, teknologi inseminasi buatan, serta manajemen kandang yang lebih modern.

Populasi Sapi Meningkat, Sinyal Positif Sektor Peternakan

Selain keberhasilan penyelenggaraan kontes, indikator lain yang menguatkan optimisme adalah peningkatan populasi sapi di Kabupaten Kediri. Pada 2025, jumlah populasi tercatat mencapai 216.886 ekor, naik dari 214.715 ekor pada 2024.

Kenaikan ini mungkin terlihat moderat, namun dalam konteks peternakan, pertumbuhan yang stabil justru menjadi indikator kesehatan sektor. Pertumbuhan yang terlalu cepat tanpa diimbangi infrastruktur justru berisiko menimbulkan masalah baru, seperti kekurangan pakan atau meningkatnya penyakit.

Secara nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat populasi sapi potong Indonesia berada di kisaran 18,3 juta ekor pada 2024. Jawa Timur menjadi salah satu kontributor terbesar, menyumbang lebih dari 25 persen populasi nasional.

Dalam konteks ini, Kediri memiliki posisi strategis sebagai salah satu kantong produksi sapi di provinsi tersebut.

Mas Dhito menegaskan bahwa sektor peternakan memiliki peran penting dalam menopang program ketahanan pangan. Karena itu, ia mengingatkan agar sektor ini tidak kembali lumpuh seperti saat wabah PMK melanda.

Salah satu langkah kunci adalah menjaga ketersediaan vaksin dan memperkuat sistem kesehatan hewan. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), vaksinasi menjadi metode paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit menular pada ternak.

Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menggencarkan program vaksinasi massal sejak 2022. Hingga 2025, lebih dari 100 juta dosis vaksin PMK telah didistribusikan ke berbagai daerah.

Namun demikian, tantangan tetap ada. Mobilitas ternak yang tinggi, kurangnya kesadaran sebagian peternak, serta keterbatasan pengawasan di daerah terpencil menjadi faktor risiko yang harus terus diantisipasi.

Kontes Sapi sebagai Penggerak Ekonomi Lokal

Lebih dari sekadar ajang kompetisi, kontes sapi memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Kegiatan ini menjadi ruang temu antara peternak, pembeli, hingga pelaku usaha pendukung seperti penyedia pakan dan peralatan ternak.

Dalam banyak kasus, sapi yang memenangkan kontes memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi. Hal ini membuka peluang peningkatan pendapatan bagi peternak sekaligus mendorong adopsi praktik peternakan yang lebih baik.

Selain itu, kontes juga berpotensi menjadi daya tarik wisata. Dengan pengemasan yang tepat, kegiatan ini bisa menarik pengunjung dari luar daerah, bahkan luar provinsi.

Konsep agrowisata berbasis peternakan sendiri mulai berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Kediri memiliki peluang besar untuk mengembangkan model serupa, mengingat potensi sumber daya yang dimiliki.

Salah satu poin penting yang disampaikan Mas Dhito adalah perlunya regenerasi peternak. Ia menegaskan bahwa sektor peternakan tidak hanya untuk mereka yang memiliki latar belakang khusus, tetapi terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemauan dan ketekunan.

“Sektor peternakan ini tidak melulu orang yang bergerak di bidang peternakan, tapi bisa dilakukan secara otodidak. Ulet dan telaten kata kuncinya,” ungkapnya.

Pernyataan ini sejalan dengan tren nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, minat generasi muda terhadap sektor agribisnis mulai meningkat, terutama dengan dukungan teknologi digital.

Platform pemasaran online, aplikasi manajemen ternak, hingga akses informasi yang lebih luas membuat sektor ini menjadi lebih menarik bagi generasi baru.

Namun, tantangan tetap ada. Akses modal, pelatihan, serta jaminan pasar menjadi faktor penting yang harus diperkuat agar minat tersebut bisa berkelanjutan.

Ambisi menjadikan kontes sapi Kediri sebagai yang terbaik di Jawa Timur bukanlah target yang mudah. Dibutuhkan konsistensi, peningkatan kualitas penyelenggaraan, serta kolaborasi antara pemerintah, peternak, dan pihak swasta.

Namun, dengan fondasi yang mulai terbentuk—mulai dari peningkatan populasi, pulihnya kegiatan pasca wabah, hingga dukungan kebijakan—target tersebut bukan hal yang mustahil.

Kontes sapi Kediri kini tidak hanya menjadi ajang unjuk kualitas ternak, tetapi juga simbol kebangkitan sektor peternakan daerah. Jika dikelola dengan baik, ia bisa menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus penopang ketahanan pangan di masa depan (eas/dnv).