Santo Buifena, petani milenial dari Pulau Semau, mengakui ucapan Presiden Prabowo benar secara permukaan, namun mengungkap fakta pahit bahwa petani dan nelayan menanggung beban terberat dari kenaikan dolar AS.
INDONESIAONLINE – Sebuah kalimat yang dilontarkan Presiden RI Prabowo Subianto saat merespons kekhawatiran publik atas anjloknya nilai tukar rupiah terus menuai gelombang reaksi dari berbagai penjuru negeri. “Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” ujar Presiden menanggapi kecemasan akan potensi kolapsnya ekonomi nasional.
Kini, suara dari ujung timur Indonesia turut bersuara. Santo Buifena, seorang petani milenial berusia 28 tahun asal Desa Letbaun, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), memberikan tanggapannya yang terukur namun menusuk.
Ia mengakui kebenaran permukaan dari pernyataan Presiden, namun dengan tegas membeberkan realitas pahit yang dihadapi masyarakat desa pesisir setiap harinya.
“Benar, Tapi…”
Ditemui melalui sambungan telepon pada Senin (18/5/2026), Santo membuka percakapan dengan sikap apresiatif. Ia tidak serta-merta menolak pernyataan Presiden.
“Saya pikir omongan Bapak Presiden ada benarnya juga. Masyarakat di desa, termasuk di NTT, memang tidak pegang dollar atau transaksi pakai dollar setiap hari. Kami kerja tani, berkebun, beternak, dan jual hasil pakai rupiah,” ujar Santo dirilis kompas.
Akan tetapi, persetujuan itu hanya sampai di situ. Bagi Santo, fakta bahwa rupiah digunakan sebagai alat tukar harian tidak lantas membentengi petani dan nelayan dari gempuran nilai tukar dolar AS yang kini telah menembus level psikologis Rp17.600 per dolar AS.
Dengan Bahasa Indonesia yang fasih, Santo mengurai dampak pelemahan rupiah yang tidak kasat mata namun menusuk langsung ke jantung biaya produksi pertanian dan perikanan di Pulau Semau. Ia menggambarkan fenomena imported inflation—inflasi yang dipicu kenaikan harga barang impor—dalam bahasa keseharian petani.
“Kalau dollar naik, dampaknya tetap ada. Harga pupuk, racun rumput, onderdil mesin, BBM, dan barang-barang dari luar biasanya ikut naik. Kalau biaya produksi naik, petani dan masyarakat desa juga pasti rasa,” katanya.
Penjelasan Santo ini sejalan dengan analisis para pakar ekonomi. Peneliti dari Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi, menegaskan bahwa barang kebutuhan warga desa sangat dipengaruhi dolar.
“Orang desa memang tidak bertransaksi pakai dolar. Tapi pupuknya, BBM-nya, pakan ternaknya, obatnya, sampai ongkos distribusi pangannya sangat dipengaruhi dolar,” ujarnya.
Lebih jauh, ekonom senior Prof. Ferry Latuhihin bahkan menyebut pernyataan Presiden sebagai sebuah kekeliruan besar yang berpotensi menyesatkan. “Salah Pak, kalau dolar naik semua orang kena, Pak. Orangutan juga kena, Pak,” ujar Ferry dengan nada satire yang menusuk.
Ferry menyoroti ketergantungan tinggi Indonesia pada bahan baku impor, mulai dari kedelai untuk tahu dan tempe, gula, hingga minyak goreng yang harganya kini meroket.
Potret Pulau Semau: Solar Langka, Traktor dan Perahu Terhenti
Santo melukiskan potret nyata Pulau Semau sebagai representasi desa-desa pesisir di Indonesia timur. Di sana, kehidupan warganya bertumpu pada dua sektor utama: pertanian bawang merah dan perikanan tangkap. Kedua sektor ini memiliki urat nadi yang sama: solar.
“Di Pulau Semau, banyak petani bawang dan nelayan membutuhkan solar untuk mendukung kebutuhan pertanian, tapi sulit sekali mendapatkan solar,” ungkap Santo.
Solar, yang notabene merupakan komoditas energi yang harganya sangat dipengaruhi harga minyak mentah dunia dan nilai tukar dolar, menjadi paradoks tersendiri. Saat harganya merangkak naik akibat pelemahan rupiah, ketersediaannya justru kerap langka karena sistem kuota di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setempat.
“Kalau petani bawang, solar dipakai untuk mesin traktor dan mesin pompa air. Kalau nelayan, dipakai untuk perahu yang menggunakan mesin diesel,” jelasnya.
Kelangkaan solar ini pernah menjadi sorotan nasional, di mana antrean panjang di SPBU kawasan timur Indonesia menyebabkan truk logistik berhenti total dan perahu nelayan terparkir di pelabuhan tanpa bisa melaut.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Fatkur Huda, memperingatkan bahwa dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan daya beli dan memperbesar tekanan ekonomi masyarakat kecil.
“Nilai tukar rupiah yang menurun tetap memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok karena banyak sektor ekonomi Indonesia masih bergantung pada barang impor dan harga global,” ujarnya.
Santo Buifena, di penghujung perbincangan, menyampaikan sebuah harapan sederhana namun mendalam. Ia berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada narasi optimisme, tetapi turun langsung menjaga stabilitas harga di tingkat akar rumput.
“Kami berharap pemerintah bisa menjaga harga kebutuhan pokok tetap stabil. Walaupun kami tinggal di desa, dampak kenaikan dollar tetap terasa. Harga BBM, pupuk, dan barang-barang dari luar daerah bisa ikut naik,” tutup Santo.
Pernyataan Santo menjadi cermin bahwa di balik statistik makroekonomi dan pidato politik, ada realitas petani dan nelayan yang harus bertarung setiap hari dengan kenaikan biaya produksi. Bagi mereka, dolar memang tidak dipegang tangan, tetapi beratnya terpikul di pundak.












