Harga Bahan Baku Plastik Turun, Industri Petrokimia RI Masih Tertekan

Harga Bahan Baku Plastik Turun, Industri Petrokimia RI Masih Tertekan
Senior Manager LyondellBasell Industries (LYB) Asia Pacific sekaligus President Director LYB Indonesia, Rakhma Febriani (Ist)

Harga bahan baku plastik mulai turun, tapi industri petrokimia RI masih tertekan impor. LYB ungkap dampak Selat Hormuz, harga lebih tinggi dari 2025.

INDONESIAONLINE – Ruang seminar lantai 3 Gedung Teknik Universitas Brawijaya (UB) tampak sesak pada Kamis (15/5/2026) lalu. Tak hanya mahasiswa jurusan teknik kimia, puluhan pelaku industri plastik wilayah Malang Raya memadati ruangan untuk mendengar paparan Senior Manager LyondellBasell Industries (LYB) Asia Pacific sekaligus President Director LYB Indonesia, Rakhma Febriani.

Topik utamanya: kondisi industri petrokimia nasional yang sedang berada di fase pemulihan rapuh, setelah harga bahan baku plastik sempat meroket gara-gara gejolak geopolitik global.

Harga Bahan Baku Mulai Landai, Tapi Belum Kembali ke Level Pra-Krisis

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Mei 2026 menunjukkan nilai impor bahan baku plastik berupa polipropilena (PP) dan polietilena (PE) di kuartal I 2026 mencapai US2,28 miliar. Namun, angka tersebut masih 12 persen lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2025, ketika harga bahan baku masih stabil di kisaran US$1,87 miliar per kuartal.

Rakhma mengonfirmasi tren ini dalam paparannya. “Bahan baku kita memang 65 persen bergantung pada impor, terutama dari Timur Tengah dan Asia Timur. Jadi wajar kalau harga naik gara-gara perang di sana. Bulan-bulan ini memang sudah agak turun, tapi masih jauh lebih tinggi dari Mei tahun lalu,” ujarnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat industri petrokimia menyumbang 4,2 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2025, dengan menyerap 1,2 juta tenaga kerja. Namun, kenaikan harga bahan baku sepanjang 2025 membuat margin keuntungan industri turun rata-rata 7 persen, menurut data Asosiasi Petrokimia Indonesia (APPI) 2026.

Tekanan terbesar industri terjadi saat Selat Hormuz sempat ditutup akibat konflik di Timur Tengah pada kuartal III 2025. International Energy Agency (IEA) mencatat 21 persen ekspor etilena dan propilena global, bahan baku utama plastik, melewati Selat Hormuz.

Penutupan selat selama 14 hari pada September 2025 menyebabkan lonjakan harga resin global hingga 22 persen, menurut data World Bank Commodity Markets 2026.

“Waktu itu pasokan dari Timur Tengah terhenti total. Kita terpaksa ambil raw material dari China dan Thailand yang rantai pasoknya lebih stabil, meski biaya logistiknya 15 persen lebih mahal,” kata Rakhma.

LYB Indonesia sendiri memiliki kapasitas produksi 450.000 ton polipropilena per tahun, yang mencakup 30 persen kebutuhan domestik, menurut data APPI 2026. Rakhma memastikan produksi tidak pernah berhenti meski pasokan terganggu.

“Kontinuitas pasokan ke pelanggan adalah prioritas utama kita, jadi kita cari cara apa pun agar produksi tetap jalan,” tegasnya.

70 Persen Produksi Diserap Pasar Domestik

Rakhma menegaskan permintaan plastik di Indonesia masih sangat kuat, karena tidak hanya digunakan untuk kantong plastik atau peralatan rumah tangga, tapi juga sektor kemasan, kesehatan, hingga otomotif. Data Kemenperin menunjukkan penjualan kendaraan listrik (EV) domestik tumbuh 187 persen pada 2025, yang memicu permintaan plastik rekayasa untuk casing baterai dan komponen interior sebesar 12 persen.

“Kita sekarang melihat lonjakan demand di sektor electric vehicle. Plastik bukan lagi barang konsumsi murah, tapi bagian kritis dari rantai industri modern,” ujar Rakhma.

Sekitar 70 persen produksi LYB Indonesia diserap pasar domestik, sementara 30 persen lainnya diekspor ke kawasan ASEAN dan Australia.

“Pasar Indonesia masih sangat kuat menopang industri petrokimia, meski ekonomi global sedang tidak pasti,” tambahnya.

Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi sektor produk plastik mencapai 4,1 persen pada April 2026, lebih tinggi dibanding inflasi nasional yang sebesar 2,8 persen. Hal ini terjadi karena sebagian kenaikan biaya produksi akibat bahan baku impor diteruskan ke pelanggan.

“Dengan sendirinya kita harap pass on ke customer. Tapi kita berusaha agar kenaikannya tidak terlalu besar, supaya pelanggan tidak beralih ke produk impor yang lebih murah,” kata Rakhma.

Untuk mempertahankan loyalitas pelanggan, LYB fokus pada kualitas produk yang tidak bisa ditiru kompetitor. “Kualitas itu yang tidak bisa dipatahkan. Pelanggan bisa maafin harga naik sedikit, asal kualitasnya konsisten,” ujarnya.

Data internal LYB 2026 menunjukkan tingkat retensi pelanggan mencapai 98,2 persen, berkat komitmen kualitas tersebut.

Tantangan Limbah Plastik di Tengah Lonjakan Konsumsi

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat Indonesia menghasilkan 7,8 juta ton sampah plastik per tahun, namun hanya 18 persen yang berhasil didaur ulang. Rakhma mengakui pertumbuhan konsumsi plastik otomatis meningkatkan volume limbah yang harus dikelola.

“Waste-nya akan semakin banyak, jadi kita harus cari cara mengolahnya,” ujarnya.

LYB saat ini telah mengimplementasikan inisiatif ekonomi sirkular, dengan 15 persen bahan bakunya berasal dari plastik daur ulang. Perusahaan menargetkan proporsi tersebut naik menjadi 30 persen pada 2030, sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi sampah plastik 70 persen pada 2025.

Meski harga bahan baku mulai turun, Rakhma menilai pasar belum sepenuhnya stabil. Perusahaan masih menunggu titik keseimbangan baru antara harga dan permintaan.

“Kami percaya demand dan harga akan menemukan titik balance sendiri. Mungkin lebih rendah dari tahun lalu, tapi tidak akan terlalu rendah sekali,” tutupnya.

Di tengah tekanan geopolitik, fluktuasi energi, dan tantangan lingkungan, industri petrokimia Indonesia tetap bertahan berkat pasar domestik yang kuat dan inovasi pelaku usaha seperti LYB (as/dnv).