Ini Respons PDIP soal Dugaan Keterlibatan dalam Aksi Mahasiswa Tolak MBG

Guntur Romli memberikan tanggapan atas dugaan PDIP berada di balik aksi mahasiswa tolak MBG. (gunromli)

INDONESIAONLINE – PDI Perjuangan membantah tudingan yang mengaitkan partainya dengan aksi mahasiswa yang menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bantahan tersebut disampaikan setelah Aliansi BEM Bersatu menyoroti kedekatan mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dengan sejumlah tokoh yang disebut memiliki hubungan dengan PDIP.

Politikus PDIP Guntur Romli menilai narasi yang dibangun dalam konferensi pers BEM Bersatu merupakan bentuk penggiringan opini yang tidak berdasar. Menurut dia, upaya menghubungkan gerakan mahasiswa dengan kepentingan partai politik dilakukan melalui rangkaian asumsi yang dipaksakan.

“Kami memandang perlu untuk meluruskan distorsi informasi dan penyesatan opini yang secara sengaja dibangun melalui metode ‘cocokologi’ yang sangat dipaksakan. Tuduhan yang mengaitkan aksi-aksi mahasiswa menolak program Makan Bergizi Gratis dengan PDI Perjuangan adalah fitnah yang tidak berdasar, absurd, dan mencederai integritas gerakan moral mahasiswa,” ujar Guntur Romli kepada wartawan, Rabu (17/6/2026).

Guntur menegaskan bahwa tuduhan mengenai keterlibatan PDIP dalam aksi demonstrasi penolakan MBG tidak memiliki dasar yang kuat. Ia menilai kesimpulan tersebut dibangun dari hubungan-hubungan yang tidak relevan.

Sebelumnya, BEM Bersatu mengungkap bahwa mobil Toyota Fortuner yang digunakan Tiyo Ardianto tercatat atas nama Siti Nuraeni. Menurut mereka, Siti Nuraeni memiliki keterkaitan dengan Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa yang pernah menjadi tokoh penting dalam tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Siti juga disebut merupakan adik dari Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Setyo Sularso adalah besan Andika Perkasa.

Menanggapi hal itu, Guntur menegaskan bahwa baik Siti Nuraeni maupun Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso bukan bagian dari struktur maupun kader PDIP. “Faktanya, Siti Nuraeni dan Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso bukanlah kader maupun pengurus PDI Perjuangan,” kata Guntur.

Ia juga mengkritik cara berpikir yang digunakan untuk menghubungkan kepemilikan kendaraan tersebut dengan dugaan keterlibatan PDIP dalam aksi mahasiswa. Menurut dia, menarik hubungan dari pemilik kendaraan ke hubungan keluarga, kemudian ke relasi dengan tokoh lain hingga akhirnya menyimpulkan adanya peran PDIP merupakan bentuk logika yang keliru.

“Menghubungkan kepemilikan sebuah kendaraan milik seorang warga sipil, lalu ditarik ke hubungan persaudaraan, kemudian ke hubungan besan, dan akhirnya disimpulkan bahwa PDI Perjuangan berada di balik aksi mahasiswa, adalah sesat pikir yang nyata,” tegasnya.

Sebelumnya, BEM Bersatu menyinggung dugaan keterkaitan politik yang melibatkan salah satu pimpinan aksi mahasiswa, Tiyo Ardianto. Rahmat menyebut Tiyo diduga memiliki hubungan dengan jaringan politik tertentu, termasuk kaitannya dengan seorang purnawirawan TNI.

Perwakilan BEM Bersatu, Rahmat Djimbula selaku ketua BEM Hukum UIC, menjelaskan mobil Fortuner yang digunakan Tiyo diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, yang disebut sebagai adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Setyo diketahui merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh yang pernah masuk tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan kedekatan itu, menurut Rahmat, diperkuat dengan kehadiran politikus PDI Perjuangan Andi Widjajanto di tengah massa aksi.

Selain itu, Rahmat menyinggung kehadiran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung pada 18 Juni 2026 bersama sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr Tifa. Dalam forum tersebut, Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga tercatat hadir. “Hal itu menunjukkan adanya jejaring yang pantas dicermati,” ucap dia. (rds/hel)