IRGC mengancam hentikan pasokan minyak via Selat Hormuz menyusul serangan CENTCOM. Harga Brent tembus 91 dolar, pasar global panik.
INDONESIAONLINE – Ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat memasuki babak baru yang mengancam stabilitas energi dunia. Garda Revolusi Iran (IRGC) secara terbuka mengeluarkan ultimatum bahwa mereka tidak akan membiarkan satu tetes pun produk hidrokarbon melewati Selat Hormuz selama Washington dinilai masih melakukan agresi di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan yang dilansir The Guardian pada Senin (20/7/2026) ini merespons eskalasi serangan udara berturut-turut yang dilakukan Komando Pusat AS (CENTCOM) terhadap infrastruktur militer Tehran. Ancaman ini langsung berdampak pada psikologi pasar global yang sangat bergantung pada selat sempit namun krusial tersebut.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan aman selama aksi yang mereka sebut sebagai agresi AS di kawasan tersebut tetap berlanjut.
“Jalur ini tidak akan aman untuk transit produk petrokimia, bahkan tidak untuk setetes pun minyak dan gas,” ujar IRGC, sebagaimana dilansir The Guardian, Senin (20/7/2026).
Ancaman tersebut bukan sekadar retorika lisan. Selain memperingatkan militer AS untuk bersiap menghadapi operasi hukuman, IRGC mengklaim telah meluncurkan rudal balistik yang menargetkan pesawat-pesawat militer AS di Bandara Aqaba, Yordania.
Letak geografis Aqaba sangat vital mengingat keberadaan kontingen AS di perbatasan selatan Yordania yang berbatasan dengan Irak dan Suriah, menjadikannya titik logistik strategis bagi Washington di Levant.
Pada Senin waktu setempat, pihak IRGC juga mengklaim bahwa dua kapal tanker minyak telah meledak dan tidak dapat bergerak setelah mencoba melintasi rute selatan di Selat Hormuz. Iran menuding kedua kapal tersebut melintas karena didorong oleh militer AS.
Kendati demikian, sebagaimana dilaporkan Reuters, pernyataan resmi dari IRGC tersebut tidak merinci nama kapal, bendera negara, awak kapal, maupun informasi mengenai korban jiwa. Reuters juga menyatakan tidak dapat langsung memverifikasi kebenaran insiden tersebut secara independen.
Ketiadaan detail identitas kapal dalam klaim IRGC memicu skeptisisme di kalangan intelijen maritim Barat. Menurut data pelacakan Automatic Identification System (AIS) yang dihimpun badan pengawas pelayaran internasional pada pekan ini, tidak terdeteksi sinyal distress atau penyimpangan rute drastis dari kapal berbendera mayoritas di perairan selatan Oman.
Hal ini menguatkan dugaan bahwa klaim ledakan tersebut mungkin merupakan manuver operasi psikologis untuk menaikkan tekanan politik menjelang putaran baru sanksi ekonomi terhadap Tehran.
Di sisi lain, Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) mengonfirmasi bahwa mereka berhasil menyelesaikan gelombang serangan malam kesembilan secara berturut-turut terhadap target-target di Iran. Melalui sebuah unggahan di platform X, Centcom menegaskan bahwa tindakan tegas tersebut diambil untuk melumpuhkan kapasitas militer Iran di kawasan tersebut.
“Aset Centcom menargetkan pusat komando militer Iran, situs pertahanan udara dan pengawasan pesisir, kemampuan maritim, situs peluncuran rudal dan drone, serta jaringan komunikasi untuk semakin mengurangi kemampuan Iran dalam menyerang kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz,” tulis Centcom.
“Militer AS menuntut pertanggungjawaban Iran atas arahan Panglima Tertinggi ,” lanjut pernyataan resmi Centcom.
Dampak Pasar dan Urgensi Data Strategis Selat
Pernyataan keras dari Teheran tersebut berimbas langsung pada pasar finansial global, yang memicu lonjakan harga minyak dunia pada perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan laporan AFP, minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman September naik 2,72 persen menjadi 90,50 dollar AS per barrel.
Harganya bahkan sempat menembus angka 91 dollar AS, yang menjadi level tertinggi sejak Juni. Sementara itu, patokan harga minyak AS, West Texas Intermediate (WTI), menguat 2,39 persen ke posisi 84,46 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga ini mencerminkan makin besarnya kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi minyak dunia.
Mengutip data terverifikasi dari Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman ini menyalurkan hampir sepertiga dari total volume perdagangan minyak mentah dan produk olahan di laut global, dengan rata-rata throughput mencapai 20 hingga 21 juta barel per hari sepanjang 2025.
Jika IRGC benar-benar menutup akses tersebut, disrupsi rantai pasok akan memicu krisis energi multidimensi, terutama bagi importir Asia seperti China, India, dan Jepang yang mengandalkan pasokan dari Timur Tengah.
Analis geopolitik dari lembaga riset energi internasional mencatat, eskalasi terkini merupakan bagian dari pola ancaman mutually assured disruption. Pada 2019 silam, ketegangan serupa pernah mengerek harga asuransi pengiriman (war risk premium) kapal tanker hingga 500 persen.
Data terbaru pada Juli 2026 menunjukkan indeks biaya pengiriman VLCC (Very Large Crude Carrier) di rute Timur Tengah-Asia sudah merangkak naik 12 persen hanya dalam seminggu terakhir, memvalidasi kepanikan operator pelayaran atas klaim ledakan dua tanker di rute selatan Hormuz.
Lebih jauh, International Energy Agency (IEA) dalam laporan kuartal II 2026 memproyeksikan bahwa gangguan berkepanjangan di Hormuz dapat mendorong inflasi energi global melampaui ambang batas 5 persen jika cadangan darurat negara-negara OECD tidak segera dilepas.
Presiden AS sebelumnya pernah membatalkan rencana tarif pelayaran 20 persen di selat tersebut untuk meredam gejolak, namun manuver militer CENTCOM saat ini memperlihatkan bahwa pendekatan diplomasi ekonomi telah terpinggirkan oleh logika keamanan keras.
Bagi Iran, ancaman menutup selat adalah kartu as di meja perundingan. Namun dengan CENTCOM yang terus membombardir situs peluncuran rudal dan drone, ruang manuver Teheran kian sempit. Masyarakat global kini menahan napas, menyaksikan apakah ancaman “tidak untuk setetes pun minyak” akan menjadi kenyataan, atau sekadar bagian dari perang urat saraf yang merugikan ekonomi semua pihak.






