Jejak Sailendra di Sojomerto

Relief di Borobudur menampilkan raja dan ratu dengan segenap abdi pengiringnya. Adegan keluarga kerajaan seperti ini kemungkinan besar dibuat berdasarkan istana wangsa Sailendra sendiri (wikipedia)

Prasasti Sojomerto di Batang membuktikan Dinasti Sailendra berakar dari Sumatra, menggeser narasi Mataram Kuno sebagai awal peradaban tulisan Jawa.

INDONESIAONLINE – Narasi sejarah kebudayaan Jawa selama ini kerap terjebak dalam pakem bahwa peradaban beraksara dan sistem negara bermula secara eksklusif dari Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Pandangan lazim yang mengakar di kurikulum sekolah ini mulai retak ketika bukti epigrafis dan arkeologis mutakhir menunjukkan bahwa struktur monarki serta tradisi literasi di Pulau Jawa telah berakar jauh sebelum era Mataram berkuasa.

Dalam catatan “Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuna” (2010) karya M.D. Poesponegoro dan N. Notosusanto, kemunculan sistem kerajaan di Jawa ditandai oleh Kerajaan Ho-ling atau Kalingga. Kronik Rajakula T’ang (abad ke-7 M) dari Tiongkok mencatat Ratu Hsi-mo—kemungkinan pelafalan Tionghoa dari Sima—sebagai pemimpin yang adil namun ditakuti musuhnya, orang Ta-shih (Arab/Persia) yang saat itu bercokol di Sumatra.

Fakta ini mengisyaratkan bahwa jaringan politik Nusantara sudah terhubung lintas pulau jauh sebelum candi-candi megah berdiri.

Perdebatan akademis mengenai dikotomi dua dinasti di Mataram Kuno, Sanjaya dan Sailendra, sudah lama dikritisi habis oleh kalangan epigraf. Boechari dalam “Melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti” (2012) menolak teori bahwa dua dinasti tersebut mewakili agama berbeda (Hindu Sanjaya, Buddha Sailendra).

Ia merupakan suksesi intelektual dari Poerbatjaraka yang berpijak pada naskah Carita Parahyangan. Prasasti Sangkhara dan Kalasan (778 M) menguatkan bahwa Rakai Panangkaran, sang “sailendrawangsatilaka” (permata Dinasti Sailendra), adalah putra Sanjaya yang berganti keyakinan ke Buddhisme, bukan pendiri dinasti terpisah. Lantas, jika Panangkaran bukan wangsakerta (pendiri), di mana akar Sailendra sesungguhnya?

Menguak Misteri Batang sebagai Pusat Peradaban Awal

Titik nol hadirnya keluarga Sailendra di Jawa justru terungkap dari sebuah prasasti misterius di pesisir utara yang selama ini luput dari sorotan publik. Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Reban, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, pada 1963 oleh wartawan V. Soekandar Hadiwiyana.

Atas inisiasi Bupati Pekalongan saat itu, R. Moch Oesman, temuan ini dilaporkan ke Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Boechari mempublikasikan analisisnya pada 1966 melalui tulisan “Prasasti Dapunta Selendra (Sojomerto)”.

Secara paleografis, aksara batu andesit ini berasal dari awal abad ke-7 M, lebih tua dari Prasasti Kedukan Bukit (682 M) di Sumatra, namun lebih muda dari Ciaruteun di Jawa Barat. Menariknya, prasasti ini menggunakan Bahasa Melayu Kuno, menjadikannya bukti tertua interaksi linguistik Austronesia-Sanskrit di Jawa.

Boechari mencatat sosok Dapunta Selendra, anak Santanu dan Bhadrawati, serta istri Sampula, sebagai penganut Hindu Saiwa yang taat. Gelar “Dapunta” yang melekat padanya identik dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa dari Sriwijaya, mengindikasikan Sailendra adalah dinasti asli Nusantara (berakar dari Sumatra) dengan arti “Raja Pergunungan”.

Data terkini dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah menunjukkan bahwa kawasan Batang saat ini menjadi fokus ekskavasi intensif. Survei arkeologis 2023 di sekitar Reban dan Gringsing menemukan fragmen candi dan arca Ganesha yang memperkuat teori bahwa pesisir utara Jawa merupakan jalur emigrasi elit keagamaan pra-Mataram.

Prasasti Sojomerto sendiri kini secara ketat diawetkan di Museum Nasional, diakui sebagai penanda awal masuknya sistem politik maritim ke Jawa Tengah. Pemerintah Kabupaten Batang juga tengah menggodok kawasan ini sebagai “Kampung Arkeologi” untuk melindungi tinggalan berharga tersebut dari abrasi waktu.

Jejak Dapunta dan Kontestasi Narasi Medang Gana

Peneliti Sugeng Riyanto dalam artikel “Dinamika Kebudayaan dan Peradaban Batang Kuna” (2014) menyoroti anomali tinggalan arkeologis di Batang. Objek pemujaan di sana tidak sepenuhnya patuh pada kitab Manasara-Silpasastra, mengisyaratkan Batang sebagai zona akulturasi awal yang belum sempurna menyerap dogma Hindustan.

Fenomena ini selaras dengan naskah Tantu Panggelaran (abad ke-15 M). Stuart Robson dan Hadi Sidomulyo dalam “Threads of The Unfolding Web” (2021) menerjemahkan mitos bahwa Sang Kandyawan, inkarnasi Wisnu, membangun permukiman pertama di Medang-Gana. Robson memperkirakan Medang-Gana berada di Kendal-Batang-Semarang, dibuktikan dengan konsentrasi Arca Ganesha (Gana).

Konteks ini menambah bobot argumen bahwa Borobudur (c. 780-830 M)—monumen Buddha terbesar di dunia yang masuk daftar UNESCO—bukanlah awal, melainkan puncak dari akumulasi peradaban Sailendra yang dimulai sejak abad ke-7 di pesisir Batang.

Penelitian linguistik (2022) dari Universitas Gadjah Mada juga memvalidasi bahwa substrat Bahasa Jawa Kuno banyak menyerap kosakata pelayaran Melayu Kuno, selaras dengan profil Dapunta Selendra sebagai tokoh maritim.

Dengan terungkapnya jejak Sojomerto dan Medang-Gana, kita dituntut merevisi buku teks sejarah yang sentris-Mataram. Peradaban Jawa tidak lahir mendadak di pedalaman, melainkan tumbuh dari jaringan kepulauan yang berpusat di pesisir utara, menghubungkan Sumatra dan Jawa jauh sebelum abad ke-9.

Narasi kebesaran nenek moyang kita sesungguhnya lebih arsipelagis dan terbuka daripada yang selama ini kita duga. Penemuan prasasti dan survei terbaru ini mengajarkan bahwa sejarah tidak pernah statis; ia terus digali dan didekonstruksi untuk menemukan kebenaran yang lebih utuh.