Kisah Haru Nenek Saimah, 31 Tahun Hidup Sendiri di Merauke hingga Akhirnya Kembali ke Pelukan Keluarga di Situbondo

Nenek Saimah (tengah), bisa kembali berkumpul dengan keluarganya di Kecamatan Asembagus, Situbondo. (dok camat asembagus)
Saimah (81), warga Kecamatan Asembagus, Situbondo, saat tiba di kediamannya usai 31 Tahun merantau dan tinggal sebatangkara ke Merauke, Selasa (23/9/2026) dini hari. (Foto: Camat Asembagus for JATIMTIMES)

INDONESIAONLINE – Tangis haru  bercampur kegembiraan pecah di Padukuhan Pariopo, Kampung Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Situasi itu mewarnai pertemuan Saimah (81 tahun) dan keluarganya setelah terpisah puluhan tahun.

Setelah 31 tahun hidup jauh dari kampung halaman, Saimah akhirnya kembali bertemu dengan anak-anak dan keluarganya, Selasa (22/9/2026).

Perjalanan panjang perempuan lanjut usia tersebut dari Merauke, Papua Selatan, menuju Situbondo menjadi kisah yang menyentuh. Selama lebih dari tiga dekade, Saimah hidup seorang diri di Merauke hingga akhirnya muncul keinginan untuk kembali ke tanah kelahirannya dan berkumpul bersama keluarga yang telah lama ditinggalkannya.

Kabar tentang keberadaan Saimah pertama mencuat melalui siaran langsung atau live TikTok Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo. Saat live berlangsung, seorang warga Merauke menyampaikan informasi bahwa terdapat warga asal Situbondo yang telah tinggal sebatangkara di Merauke selama 31 tahun dan ingin pulang ke kampung halamannya.

Informasi tersebut langsung mendapat perhatian Bupati Situbondo. Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau yang akrab disapa Mas Rio kemudian membantu memfasilitasi  pemulangan Saimah agar dapat kembali ke Kabupaten Situbondo dan berkumpul dengan keluarganya.

“Alhamdulillah, Ibu Saimah yang selama 31 tahun berada di Merauke sebatangkara akhirnya bertemu kembali dengan keluarganya. Ibu Saimah kita pulangkan dari Merauke berkat partisipasi dari masyarakat Kabupaten Situbondo,” kata Mas Rio ketika bertemu dengan tim penjemput Saimah di SPBU Gending, Probolinggo.

Pemulangan tersebut tidak berlangsung sederhana. Perjalanan Saimah dari Merauke menuju Situbondo harus melalui sejumlah tahapan dan koordinasi dengan berbagai pihak. Salah satu titik transit dalam perjalanan tersebut adalah Makassar.

“Terima kasih atas bantuan protokol di Makassar yang telah membantu  pemulangan Saimah. Sebab, sebelum Saimah sampai di Kabupaten Situbondo, transit dulu di Makassar,” ujar Mas Rio.

Bagi Mas Rio, kepulangan Saimah bukan sekadar memulangkan seorang warga ke daerah asalnya. Peristiwa tersebut juga menjadi bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap masyarakat Situbondo yang berada jauh dari kampung halaman dan membutuhkan fasilitasi untuk kembali bertemu keluarganya.

“Kami tentu bersyukur warga kita bisa kembali ke Situbondo setelah 31 tahun berada di Merauke. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan warga kita bisa kembali dan berkumpul dengan keluarganya,” ucapnya.

Setelah menempuh perjalanan panjang, Saimah akhirnya tiba di rumah keluarganya di Padukuhan Pariopo, Kampung Selatan, Desa Bantal. Pertemuan dengan anak dan kerabat yang telah puluhan tahun terpisah tersebut berlangsung penuh haru.

Camat Asembagus Faishol Afandi dan Camat Jangkar Lina Yuriyana Soeherman turut menyambut kedatangan Saimah. Isak tangis bahagia tak terbendung ketika perempuan berusia 81 tahun tersebut akhirnya kembali berpelukan dengan sang anak setelah 31 tahun hidup berjauhan.

“Perjalanan panjang Saimah dari Merauke hingga sampai ke tempat tujuan di Padukuhan Pariopo, Kampung Selatan, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Situbondo, dapat terlaksana dengan baik. Atas kepedulian Mas Rio, Bupati Situbondo dan bantuan dari berbagai pihak, Ibu Saimah bertemu kembali dengan anak-anaknya dan kerabatnya,” kata Faishol saat berada di rumah keluarga Saimah.

Menurut Faishol, pihak keluarga menyampaikan terima kasih kepada bupati Situbondo yang telah memberikan fasilitasi dalam proses kepulangan Saimah. Apresiasi juga disampaikan kepada masyarakat yang ikut berpartisipasi melalui donasi untuk membantu membiayai perjalanan pulang Saimah.

“Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada seluruh masyarakat yang telah menyisihkan donasi demi mendanai kepulangan Saimah ke tanah kelahirannya,” jelas Faishol.

Selain masyarakat, apresiasi juga diberikan kepada Abang Muhammad. Ia ditunjuk oleh Mas Rio sebagai fasilitator yang mendampingi sekaligus mengurus proses kedatangan Saimah sejak perjalanan dari Merauke hingga akhirnya tiba dan berkumpul kembali bersama keluarganya di Desa Bantal.

Kepulangan Saimah setelah 31 tahun menjadi lebih dari sekadar perjalanan pulang ke kampung halaman. Setelah puluhan tahun menjalani kehidupan jauh dari keluarga, kini perempuan tersebut kembali berada di tengah anak-anak, kerabat, dan masyarakat di tanah kelahirannya.

“Kepulangan tersebut sekaligus menjadi awal baru bagi Saimah. Setelah puluhan tahun meninggalkan kampung halaman, ia kini kembali menjalani kehidupan di tengah keluarga dan masyarakat Situbondo. Kepulangan Saimah tersebut menjadi momentum untuk kembali membangun kehidupan bersama keluarganya,” pungkas Faishol. (ws/hel)