Beranda

Noordwijk 36: Mesin Propaganda Wisata Kolonial di Balik Eksotisme Jawa

Noordwijk 36: Mesin Propaganda Wisata Kolonial di Balik Eksotisme Jawa
Biro Wisata Noordwijk 36 pada dekade 1910-an (io)

Biro Wisata Noordwijk 36 bukan sekadar kantor informasi, tapi mesin propaganda kolonial. Menelisik sejarah ‘Come to Java’ dan warisan wisata modern.

INDONESIAONLINE – Batavia, awal abad ke-20. Di tengah deru trem listrik yang membelah Weltevreden (kawasan baru Batavia, kini Jakarta Pusat) dan aroma modernitas yang dibawa oleh Politik Etis (Ethische Politiek), sebuah revolusi sunyi sedang terjadi.

Bukan revolusi bersenjata, melainkan revolusi citra. Pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang selama berabad-abad dikenal dunia sebagai penakluk rempah dan penguasa perkebunan yang kaku, tiba-tiba ingin tampil dengan wajah baru: tuan rumah yang ramah bagi pelancong dunia.

Pusat dari ambisi pencitraan ini terletak di sebuah bangunan strategis bernomor 36 di kawasan Noordwijk (kini Jalan Ir. H. Juanda). Di sinilah beroperasi Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) atau Biro Informasi Resmi Wisatawan.

Lembaga ini, yang didirikan pada tahun 1908—tahun yang sama dengan berdirinya Budi Utomo—kerap luput dari buku sejarah arus utama. Padahal, Noordwijk 36 adalah laboratorium tempat “Indonesia Molek” (Mooi Indie) pertama kali diracik, dikemas, dan dijual ke pasar global sebagai komoditas politik dan ekonomi.

Laboratorium Citra di Jantung Batavia

Pendirian Biro Wisata Noordwijk 36 pada dekade 1910-an menandai transformasi fundamental dalam cara pandang kolonial. Jika VOC melihat Nusantara sebagai gudang logistik, pemerintah Hindia Belanda abad ke-20 melihatnya sebagai “Taman Tropis”.

Biro ini bukanlah sekadar loket tiket. Ia adalah perpanjangan tangan birokrasi kolonial yang didesain sebagai lembaga nirlaba (semiformal). Tugas utamanya adalah mengurasi narasi. Data arsip kolonial menunjukkan bahwa biro ini memiliki kewenangan luas: menyusun rencana perjalanan (itinerary) bagi pejabat Eropa dan aristokrat, menerbitkan peta, hingga menstandarisasi akomodasi.

Dalam katalognya, biro ini mengelola basis data lebih dari 200 hotel di Jawa. Ini mencakup Hotel des Indes di Batavia yang legendaris dengan kemewahan Eropanya, Hotel Oranje di Surabaya, hingga Savoy Homann di Bandung.

Namun, yang paling menarik adalah integrasi sistem “pesanggrahan”. Pesanggrahan adalah rumah singgah milik pemerintah di daerah terpencil yang awalnya hanya untuk ambtenaar (pegawai negeri) yang berdinas.

Melalui Biro Noordwijk 36, pesanggrahan ini dibuka untuk turis kulit putih dengan izin berjenjang dari Residen hingga Wedana. Ini adalah bukti kecerdasan administratif Belanda: memanfaatkan aset negara untuk memfasilitasi pariwisata tanpa harus menunggu investasi swasta masuk ke pedalaman.

Tarif sewa yang murah dan makanan “ala pribumi” yang disajikan di sana menjadi daya tarik eksotis bagi turis yang ingin merasakan sensasi petualangan, namun tetap dalam koridor keamanan kolonial.

“Come to Java”: Propaganda di Atas Kertas Art Paper

Senjata utama Noordwijk 36 adalah literasi visual. Mahakarya propaganda mereka adalah brosur dan buku panduan bertajuk “Come to Java”. Dijual seharga 1,25 florin (gulden), publikasi ini disebar secara masif ke agen perjalanan di Amsterdam, London, New York, hingga Melbourne.

Narasi dalam brosur ini sangat kalkulatif. Kalimat seperti “Jawa adalah tanah pribumi yang elok dan tua” bukan sekadar pujian, melainkan penegasan hierarki. Jawa digambarkan sebagai negeri yang “diam”, “kuno”, dan “spiritual”, yang kontras dengan Barat yang “maju” dan “rasional”.

Profesor sejarah budaya sering mengaitkan ini dengan konsep Orientalisme Edward Said. Belanda sedang menjual fantasi. Dalam paket wisata yang direkomendasikan—12 hari di Jawa, 5 hari di Bali, dan 10 hari di Sumatera—wisatawan tidak diajak melihat kemiskinan akibat Tanam Paksa atau geliat pergerakan nasional yang mulai tumbuh. Mereka diarahkan untuk melihat Borobudur yang “mistis”, sawah yang “menenteramkan”, dan penari yang “eksotis”.

Pariwisata, dalam kacamata Noordwijk 36, adalah alat legitimasi kekuasaan. Dengan mendatangkan turis asing, Belanda ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Hindia Belanda adalah koloni yang aman, tertib (rust en orde), dan beradab di bawah asuhan Ratu Wilhelmina. Ini adalah upaya untuk menghapus jejak brutal Perang Aceh yang sempat mencoreng citra Belanda di mata internasional pada akhir abad ke-19.

Infrastruktur: Menjinakkan Tropis Demi Kenyamanan Kolonial

Kesuksesan propaganda Noordwijk 36 ditopang oleh pembangunan infrastruktur fisik yang masif. Periode ini bertepatan dengan ekspansi Staatsspoorwegen (Perusahaan Kereta Api Negara). Jalur kereta api yang membelah pegunungan Priangan tidak hanya untuk mengangkut teh dan kina, tetapi juga mengangkut turis menuju kesejukan.

Kereta api Eendaagsche Express yang kelak menghubungkan Batavia dan Surabaya dalam satu hari adalah puncak dari integrasi ini. Di sinilah konsep Colonial Comfort bermain. Wisatawan Eropa memiliki obsesi paradoksal: mereka menginginkan keindahan tropis, tetapi takut pada iklim tropis yang dianggap sumber penyakit (malaria, kolera, disentri).

Oleh karena itu, promosi wisata sangat menekankan aspek higienitas. Biro Noordwijk 36 secara spesifik mempromosikan destinasi dataran tinggi (hill stations) seperti Lembang, Tosari (Bromo), dan Kaliurang. Udara dingin di sana dianggap “menyehatkan” dan mirip dengan iklim Eropa. Hotel-hotel dilengkapi dengan standar sanitasi Barat. Tubuh wisatawan dijaga agar tetap merasa superior di tengah alam yang dianggap liar.

Politik Pandangan: Siapa Melihat Siapa?

Aspek paling gelap dari warisan Noordwijk 36 adalah konstruksi “tatapan kolonial” (colonial gaze). Pariwisata diatur sebagai sebuah panggung pertunjukan. Penduduk pribumi—petani yang membajak sawah, perempuan yang membatik, atau pemangku adat di Bali—diposisikan sebagai objek tontonan. Mereka adalah scenery (pemandangan), bukan subjek yang setara.

Fotografi memainkan peran krusial. Foto-foto promosi VTV selalu menampilkan komposisi yang tenang dan romantis. Tidak ada foto buruh yang kelelahan atau pasar yang kotor. Realitas sosial disensor demi kenyamanan visual turis. Interaksi yang terjadi bersifat transaksional dan hierarkis: tuan kulit putih sebagai penikmat, dan inlander sebagai pelayan atau objek foto.

Namun, sejarah tidak pernah hitam putih. Masuknya arus wisatawan ini secara tidak sengaja juga membuka celah ekonomi bagi warga lokal. Munculnya kelas pemandu wisata, pengrajin suvenir di Yogyakarta, hingga seniman di Bali yang mulai memodifikasi tarian agar sesuai durasi tontonan turis (seperti lahirnya Tari Kecak di tahun 1930-an yang merupakan kolaborasi Walter Spies dan seniman lokal), adalah bentuk respons adaptif masyarakat terjajah.

Warisan yang Tak Kunjung Hilang

Biro Wisata Noordwijk 36 mungkin telah bubar seiring runtuhnya Hindia Belanda pasca kedatangan Jepang tahun 1942. Gedung-gedung hotel mungkin telah berganti nama. Namun, cetak biru yang mereka buat masih hidup dan berdenyut dalam nadi pariwisata Indonesia modern.

Jika kita melihat iklan pariwisata hari ini—baik di era Visit Indonesia Year 1990-an maupun Wonderful Indonesia masa kini—pola narasinya seringkali masih mereplikasi apa yang dirintis Noordwijk 36. Kita masih menjual “keramahan penduduk”, “sawah yang hijau”, dan “budaya yang eksotis”. Struktur pandangannya masih menempatkan wisatawan (terutama mancanegara) sebagai raja yang harus dilayani oleh keindahan lokal.

Noordwijk 36 mengajarkan kita bahwa pariwisata tidak pernah netral. Ia adalah arena politik, ekonomi, dan budaya yang saling berkelindan. Mempelajari sejarah biro kecil di Batavia ini adalah cara untuk melakukan dekolonisasi pikiran; agar kita sadar bahwa keindahan Nusantara adalah milik bangsa sendiri yang patut dibanggakan, bukan sekadar komoditas warisan mentalitas kolonial yang didesain untuk memuaskan mata orang asing. Sejarah pariwisata kita, pada akhirnya, adalah sejarah perebutan makna atas tanah air sendiri.

Exit mobile version