Panen Raya Akademik: UIN Maliki Malang Siap Kukuhkan 12 Guru Besar Sekaligus

Panen Raya Akademik: UIN Maliki Malang Siap Kukuhkan 12 Guru Besar Sekaligus
Ilustrasi Guru Besar UIN Maliki Malang yang akan dikukuhkan sekaligus tanggal 20 Januari 2026 mendatang (io)

UIN Maliki Malang cetak sejarah, kukuhkan 12 guru besar sekaligus pada 20 Januari 2026. Momentum perkuat riset dan reputasi global kampus Ulul Albab.

INDONESIAONLINE – Atmosfer akademik di kawasan Gajayana, Malang, tengah menghangat. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, institusi pendidikan tinggi yang dikenal dengan jargon “Kampus Ulul Albab”, sedang bersiap mencatatkan tinta emas dalam sejarah perjalanannya.

Bukan sekadar peresmian gedung atau penandatanganan kerja sama, kali ini UIN Maliki Malang akan melakukan “panen raya” intelektual dengan mengukuhkan 12 guru besar (profesor) sekaligus dalam satu momentum.

Langkah ini dinilai sebagai lompatan strategis yang tidak main-main. Di tengah ketatnya persaingan perguruan tinggi menuju status World Class University (WCU), penambahan jumlah guru besar secara masif menjadi indikator krusial kesehatan dan kualitas sebuah universitas. Agenda besar ini dijadwalkan akan dihelat pada Selasa, 20 Januari 2026 mendatang.

Mobilisasi Kekuatan Akademik: Lebih dari Sekadar Seremoni

Menjelang hari bersejarah tersebut, denyut persiapan di Gedung Rektorat UIN Maliki semakin kencang. Rapat koordinasi intensif telah digelar untuk mematangkan segala detail teknis maupun substansial. Komando persiapan ini dipimpin langsung oleh Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama (AAKK), Hj. Ita Hidayatus Solihah, S.Ag., MM.

Dalam pandangan Ita, pengukuhan ini memiliki makna filosofis yang jauh lebih dalam daripada sekadar prosesi penyematan kalung senator dan jubah kebesaran. Ia menegaskan bahwa hadirnya 12 profesor baru adalah suntikan energi raksasa bagi ekosistem riset kampus.

“Pengukuhan 12 guru besar ini merupakan tonggak penting bagi UIN Maliki Malang. Ini adalah bagian dari ikhtiar kami memperkuat tradisi keilmuan, riset, dan kontribusi akademik kampus di tingkat nasional maupun global,” ungkap Ita saat memimpin rapat koordinasi dengan tim panitia.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi arah kebijakan kampus yang tidak ingin terjebak pada menara gading. Guru besar, sebagai jabatan fungsional tertinggi bagi seorang dosen, dituntut bukan hanya mengajar, tetapi menjadi lokomotif inovasi dan penjaga marwah keilmuan.

Dengan bertambahnya 12 “jenderal” akademik ini, UIN Maliki Malang mengirimkan sinyal kuat kepada publik bahwa mereka siap berlari lebih kencang dalam produksi pengetahuan.

Deretan “Pendekar” Ilmu Baru UIN Maliki Malang

Siapa saja figur yang akan resmi menyandang gelar profesor pada 20 Januari nanti? Berdasarkan data validasi yang dirilis pihak universitas, ke-12 akademisi ini berasal dari lintas disiplin ilmu.

Keberagaman latar belakang keilmuan mereka—mulai dari pendidikan, hukum, studi Islam, hingga sains—mencerminkan model integrasi ilmu yang selama ini didengungkan oleh UIN Maliki.

Berikut adalah nama-nama akademisi yang akan dikukuhkan:

  1. Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag
  2. Prof. Dr. H. Moh. Padil, M.Pd.I
  3. Prof. Dr. M. Fahim Tharaba, M.Pd
  4. Prof. Dr. H. Bisri Mustofa, MA
  5. Prof. Dr. Muhammad Walid, MA
  6. Prof. Dr. Danial Hilmi, S.Hum., M.Pd
  7. Prof. Dr. Abdul Bashith, M.Si
  8. Prof. Dr. Mohammad Asrori, M.Ag
  9. Prof. Dr. Siti Mahmudah, M.Si
  10. Prof. Dr. Khoirul Hidayah, MH
  11. Prof. H. Aunur Rofiq, Lc., M.Ag., Ph.D
  12. Prof. Dr. HM Lutfi Mustofa, M.Ag

Melihat komposisi nama dan gelar di atas, terlihat adanya keseimbangan antara ilmu-ilmu keislaman murni (seperti yang tercermin dari gelar M.Ag dan Lc) dengan ilmu pendidikan (M.Pd) serta sains dan hukum (M.Si dan MH). Hal ini selaras dengan visi integrasi keilmuan UIN Maliki yang memadukan sains dan Islam dalam satu tarikan napas akademik.

Kehadiran Prof. Dr. Siti Mahmudah, M.Si dan Prof. Dr. Abdul Bashith, M.Si, misalnya, diharapkan dapat memperkuat lini riset sains dan teknologi yang berbasis nilai Islam. Sementara itu, keberadaan pakar hukum seperti Prof. Dr. Khoirul Hidayah, MH, akan memperkaya diskursus hukum di tengah dinamika masyarakat modern.

Di sisi lain, para pakar pendidikan dan studi Islam akan terus menjaga fondasi spiritual dan pedagogis kampus.

Dampak Sistemik bagi Reputasi Kampus

Hj. Ita Hidayatus Solihah menekankan bahwa implikasi dari pengukuhan ini akan dirasakan dalam jangka panjang. “Kami ingin pengukuhan ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar berdampak pada pengembangan riset, publikasi ilmiah, dan peningkatan mutu pendidikan,” tegasnya.

Secara teknis, penambahan jumlah guru besar akan mendongkrak nilai akreditasi institusi dan program studi. Namun lebih dari itu, keberadaan mereka diharapkan menjadi mentor bagi dosen-dosen muda. Dalam budaya akademik, seorang profesor memiliki kewajiban khusus untuk membimbing riset, membuka jejaring internasional, dan mempublikasikan karya di jurnal bereputasi tinggi.

Dengan tambahan 12 orang sekaligus, UIN Maliki Malang memiliki amunisi baru untuk melakukan akselerasi. Jika satu profesor saja diwajibkan menghasilkan karya monumental setiap tahunnya, maka dengan tambahan 12 orang, produktivitas riset kampus diprediksi akan meningkat signifikan pada tahun 2026 ini.

Ini adalah modal berharga untuk bersaing dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) lain seperti UIN Jakarta atau UIN Yogyakarta, serta universitas umum lainnya di Jawa Timur.

Persiapan Menuju Hari-H: Khidmat dan Bermartabat

Pihak panitia pelaksana telah menetapkan Aula Gedung Rektorat lantai 5 sebagai lokasi prosesi sakral tersebut. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan; sebagai pusat administrasi tertinggi universitas, gedung rektorat menyimbolkan jantung kebijakan kampus.

Persiapan teknis meliputi tata letak panggung, orasi ilmiah masing-masing calon guru besar, hingga pengaturan tamu undangan yang diperkirakan akan membludak, mengingat masing-masing profesor akan membawa kolega dan keluarga. Panitia menargetkan acara berjalan dengan lancar, tertib, dan penuh khidmat, mencerminkan kewibawaan tradisi akademik.

“Rapat koordinasi kemarin memastikan semua lini siap. Mulai dari penyambutan, prosesi senat terbuka, hingga dokumentasi. Ini adalah wajah UIN Malang di mata publik,” tambah salah satu anggota panitia.

Kini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tinggal menghitung hari. Tanggal 20 Januari 2026 akan menjadi pembuktian bahwa kampus ini tidak pernah berhenti bertumbuh. Di bawah naungan integrasi ilmu, ke-12 guru besar baru ini siap memikul tanggung jawab moral dan intelektual: menjadi pelita yang menerangi jalan peradaban bangsa melalui riset dan pendidikan yang berkualitas. Publik menanti, gagasan besar apa yang akan dilontarkan para profesor baru ini dalam orasi ilmiah mereka nanti (dnv).