INDONESIAONLINE – Pasangan suami istri (pasutri) asal Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, ini berangkat menuaikan ibadah haji ke Tanah Suci berkat kesabaran, kerja keras, dan keyakinan. Shaleh (70) dan istrinya, Zaenab (68), yang sehari-hari berjualan kerupuk keliling, tahun 2026 ini berkesempatan menunaikan ibadah haji setelah bertahun-tahun menabung dari hasil usaha sederhana mereka.
Pasangan lansia tersebut menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mewujudkan impian menunaikan Rukun Islam kelima. Dengan penghasilan yang tidak seberapa, keduanya mampu mengumpulkan biaya haji melalui usaha kecil yang mereka tekuni dengan penuh ketekunan.
Shaleh menceritakan, niat untuk berhaji mulai ia tanamkan sejak tahun 2007. Saat itu, ia mulai menyisihkan sebagian keuntungan dari berjualan kerupuk keliling yang dijajakan ke warung-warung di pinggir jalan.
“Sekitar tiga tahun saya kumpulkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa mendaftar haji pada tahun 2012,” ujar Shaleh usai mengikuti pelepasan jamaah haji.
Pada tahun 2012, biaya pendaftaran haji mencapai sekitar Rp37,16 juta dari total biaya riil sebesar Rp45,39 juta. Angka tersebut tentu sangat besar bagi Shaleh yang kala itu hanya memperoleh penghasilan antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari, tergantung ramai atau tidaknya pembeli.
“Kalau sedang ramai, paling banyak dapat Rp100 ribu sehari. Waktu awal jualan malah hanya sekitar Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Saya benar-benar tidak menyangka bisa sampai ke titik ini,” ungkapnya.
Kakek yang telah dikaruniai empat cucu itu mengaku sempat merasa pesimistis. Namun, ia meyakini bahwa niat yang kuat dan keyakinan kepada Allah SWT menjadi modal utama dalam mewujudkan cita-citanya.
“Kalau sudah punya niat dan keinginan besar, apa pun bisa terjadi. Mungkin tidak banyak yang percaya, tapi ini buktinya. Alhamdulillah, meski usia kami sudah lanjut, saya dan istri masih sehat dan dinyatakan layak berangkat,” ungkapnya penuh haru.
Shaleh mengungkapkan, sebenarnya dirinya bersama sang istri masuk dalam daftar jamaah cadangan dan dijadwalkan berangkat pada tahun depan. Namun, takdir berkata lain. Mereka mendapat kabar bahwa bisa berangkat lebih cepat karena ada jemaah lain yang mengundurkan diri.
“Saya dan istri sebenarnya masuk cadangan untuk keberangkatan tahun depan. Tetapi karena ada jemaah yang mundur, kami dipanggil sebagai pengganti dan visa kami baru turun kemarin,” katanya.
Sementara, Zaenab mengaku tak kuasa menahan rasa syukur karena akhirnya dapat berangkat haji bersama suami tercinta. Selama ini, ia tak hanya membantu menggoreng kerupuk untuk dijual suaminya, tetapi juga berdagang di pasar tradisional guna menambah penghasilan keluarga.
“Sebelum berjualan di pasar, saya menggoreng kerupuk yang dijual keliling oleh suami. Setelah itu saya juga berdagang di pasar untuk membantu kebutuhan keluarga,” ujar Zaenab.
Menurut Zaenab, penantian selama kurang lebih 15 tahun akhirnya terbayar lunas. Kini, ia hanya berharap seluruh rangkaian ibadah haji dapat berjalan lancar dan mereka diberi kesehatan selama berada di Tanah Suci.
“Semoga perjalanan ke Makkah lancar dan kami bisa beribadah dengan maksimal tanpa gangguan lahir maupun batin. Mudah-mudahan ini juga menjadi pelajaran bagi anak cucu kami agar kelak bisa menunaikan ibadah haji,” pungkasnya.
Kisah Shaleh dan Zaenab menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa mimpi besar dapat diwujudkan melalui kesabaran, ikhtiar, dan keyakinan. Dari usaha kecil menjual kerupuk keliling, pasangan sederhana asal Besuki ini berhasil menapaki langkah suci menuju Baitullah. (ws/hel)
