PBA: Gangguan Otak yang Sering Disalahpahami

Ilustrasi Pseudobulbar affect membuat seseorang tertawa atau menangis tanpa kendali (Ist)

Pseudobulbar affect membuat seseorang tertawa atau menangis tanpa kendali. Kondisi neurologis ini kerap disalahartikan sebagai gangguan mental.

INDONESIAONLINE – Tawa tidak selalu berarti seseorang sedang bahagia. Tangis pun tidak selalu menjadi tanda kesedihan. Pada sebagian orang yang mengalami pseudobulbar affect (PBA), ekspresi tersebut dapat muncul tiba-tiba, berlebihan, bahkan bertentangan dengan perasaan yang sebenarnya sedang mereka rasakan.

Situasi inilah yang membuat PBA sering sulit dipahami lingkungan sekitar.

Seseorang dapat tertawa ketika mendengar kabar buruk atau menangis ketika berada dalam situasi yang sebenarnya menyenangkan. Bagi orang lain, respons tersebut bisa terlihat tidak sopan, aneh, atau bahkan kejam. Padahal, persoalannya bukan pada niat.

PBA merupakan kondisi neurologis yang berkaitan dengan gangguan pada sistem saraf yang mengatur ekspresi emosi. Episode tertawa atau menangis muncul secara involunter dan dapat tidak sebanding dengan suasana hati seseorang.

Cleveland Clinic menjelaskan PBA sebagai kondisi yang dapat muncul akibat cedera atau penyakit neurologis, termasuk stroke, multiple sclerosis, ALS, penyakit Parkinson, demensia, hingga cedera otak traumatis.

Karena ekspresi wajah dan suara yang terlihat dari luar, PBA sering dianggap sebagai persoalan psikologis. Padahal, sumber masalahnya berada pada mekanisme neurologis yang mengendalikan ekspresi emosi.

Ketika Otak Tidak Mampu Mengerem Ekspresi Emosi

Kisah Joyce Hoffman memperlihatkan bagaimana kondisi tersebut dapat mengubah kehidupan sosial seseorang.

Setelah mengalami stroke, Hoffman mulai mengalami episode PBA. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika ia menghadiri pesta makan malam bersama teman-temannya.

Suasana awalnya berlangsung normal. Namun, seorang pria kemudian bercerita tentang kesulitan hidupnya. Ia kehilangan pekerjaan, istrinya hanya bekerja paruh waktu dan mereka memiliki tiga anak. Cerita itu membuat pria tersebut menangis.

Hoffman justru tertawa.

“Aku sangat malu, teman-temanku kaget atas respons itu. Aku cuma bisa menjauh dari meja, mendorong kursi roda ke ruang tamu,” katanya.

Ia kemudian menghabiskan sekitar satu jam sendirian karena tawa tersebut tidak kunjung berhenti. Ketika kembali ke ruang makan, suasana sudah berubah. Orang-orang memandangnya dengan curiga dan marah.

Teman yang mengantarnya pulang bahkan menjalani perjalanan dalam suasana hening.

Bagi Hoffman, persoalannya bukan tidak memiliki empati. Ia tidak sedang menertawakan penderitaan orang lain. Ekspresi yang keluar dari tubuhnya tidak menggambarkan perasaan yang sebenarnya.

Dokter kemudian menjelaskan bahwa Hoffman mengalami PBA sebagai dampak dari kerusakan otak akibat stroke. “Dokter menekankan, PBA bukan berarti saya sakit jiwa. Tapi ada luka di bagian otak saya.”

Penjelasan tersebut menjadi penting karena PBA memang berbeda dari depresi.

Depresi merupakan gangguan suasana hati yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan dan biasanya disertai gejala lain. PBA memiliki pola berbeda: episode tertawa atau menangis berlangsung singkat, tiba-tiba dan sulit dikendalikan.

Namun, keduanya tetap dapat terjadi pada orang yang sama.

Kajian ilmiah mengenai PBA menunjukkan prevalensinya sangat bervariasi tergantung penyakit dasar dan alat diagnosis yang digunakan. Sebuah tinjauan mencatat estimasi gejala PBA pada berbagai penyakit neurologis berada pada kisaran 9,4 hingga 37,5 persen.

Pada pasien stroke, PBA juga menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan selama proses pemulihan.

Mekanismenya berkaitan dengan terganggunya jaringan saraf yang mengatur ekspresi emosional. Penelitian terbaru menggambarkan PBA sebagai gangguan pada jaringan cortico-limbic-ponto-cerebellar, yaitu rangkaian koneksi otak yang ikut mengatur bagaimana respons emosional diekspresikan.

Sederhananya, seseorang masih dapat merasakan emosi secara normal, tetapi kemampuan otaknya untuk mengatur kapan dan seberapa kuat emosi tersebut ditampilkan mengalami gangguan.

Itulah sebabnya seorang penderita PBA dapat mengetahui bahwa tawanya tidak pantas dalam sebuah situasi, tetapi tetap kesulitan menghentikannya.

Dari Stigma Sosial hingga Upaya Mengendalikannya

Pengalaman Wayne B menggambarkan sisi lain dari PBA.

Setelah mengalami stroke hemoragik pada usia 45 tahun, Wayne mengalami respons emosional yang sulit dikendalikan. Menurut istrinya, Susan, ia dapat menangis berlebihan dalam situasi yang sebenarnya tidak terlalu menyedihkan atau tertawa ketika sesuatu tidak dianggap lucu.

“Dia bisa menangis berlebihan pada hal yang tidak terlalu sedih atau tertawa histeris karena hal yang sama sekali tidak lucu,” ungkap Susan.

Masalah kemudian berkembang menjadi persoalan sosial. Ketika orang-orang meminta Wayne berhenti menangis atau tertawa, mereka tidak selalu memahami bahwa respons tersebut bukan sesuatu yang bisa ia matikan begitu saja.

Susan bahkan menghindari membawa suaminya ke pemakaman atau situasi tertentu yang berpotensi memicu episode PBA. Keputusan tersebut menunjukkan bagaimana gangguan neurologis dapat berujung pada isolasi sosial.

Padahal, dampak PBA bukan hanya soal episode tertawa atau menangis.

Rasa malu, kecemasan, frustrasi dan keengganan bertemu orang lain dapat mengikuti. Cleveland Clinic menyebut PBA dapat memengaruhi kehidupan sosial dan menyebabkan seseorang menarik diri karena khawatir mengalami episode di depan publik.

Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi tersebut.

PBA tidak berarti seseorang kehilangan kemampuan merasakan emosi. Yang terganggu terutama adalah kendali terhadap ekspresi emosinya.

Kemajuan dalam pengobatan juga telah berkembang. Di Amerika Serikat, kombinasi dextromethorphan dan quinidine telah disetujui FDA untuk terapi PBA. Obat tersebut ditujukan untuk mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan episode.

Tinjauan ilmiah terbaru yang terindeks PubMed pada Januari 2026 juga secara khusus mengevaluasi efektivitas dan keamanan dextromethorphan/quinidine dalam menangani PBA pada berbagai penyakit neurologis.

Namun, terapi tidak berarti seseorang harus menghadapi PBA sendirian. Diagnosis tetap membutuhkan penilaian tenaga medis karena gejala serupa dapat muncul pada sejumlah kondisi neurologis maupun gangguan suasana hati.

Di luar ruang klinis, pemahaman lingkungan juga berperan.

Tawa atau tangis yang muncul pada waktu yang salah tidak selalu mencerminkan karakter seseorang. Dalam kasus PBA, ekspresi yang terlihat oleh orang lain bisa merupakan hasil gangguan pada jalur pengendalian emosi di otak.

Film Joker memang memperkenalkan kondisi serupa kepada penonton melalui karakter Arthur Fleck, tetapi PBA dalam kehidupan nyata jauh lebih kompleks daripada sekadar “tertawa tanpa alasan”.

Bagi penderita, satu tatapan sinis atau komentar bahwa mereka tidak punya perasaan dapat memperberat rasa malu yang sudah mereka tanggung.

Memahami PBA berarti memisahkan ekspresi dari niat.

Seseorang yang tertawa saat orang lain menangis belum tentu sedang mengejek. Seseorang yang menangis ketika menerima kabar bahagia belum tentu sedang bersedih.

Kadang, tubuh hanya sedang menampilkan respons yang tidak mampu dikendalikan oleh pemiliknya.