Perampokan SPBU Selokromo Wonosobo direncanakan 10 hari. Enam pelaku berbagi peran, menyamarkan kendaraan, dan mengincar rekaman CCTV.
INDONESIAONLINE – Perampokan di sebuah SPBU di Selokromo, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ternyata bukan kejahatan yang lahir dalam hitungan jam. Polisi menemukan indikasi bahwa komplotan pelaku telah menyiapkan aksi tersebut sekitar 10 hari sebelumnya.
Persiapan bahkan dibuat menyerupai produksi sebuah adegan film. Para pelaku membagi tugas, menyiapkan kendaraan, memikirkan cara menghindari kamera pengawas, kemudian melakukan simulasi sebelum mendatangi lokasi sasaran.
Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja mengatakan, perencanaan dilakukan pada akhir Juli 2026 di sebuah rumah kos di wilayah Banjarnegara.
“Perencanaan ini dilakukan di akhir Juli sebenarnya, 10 hari sebelum kejadian. Di sebuah kos-kosan di Banjarnegara,” ujar Ricky, Sabtu (15/8/2026).
Dari tempat tersebut, skenario mulai disusun. Para pelaku tidak hanya menentukan target, tetapi juga memetakan bagaimana masing-masing orang akan menjalankan perannya.
Persiapan kemudian berlanjut di sebuah bengkel di Kecamatan Leksono. Di sana, kendaraan yang akan digunakan dipersiapkan sekaligus dimodifikasi agar lebih sulit dikenali kamera pengawas. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memasang skotlet hitam pada kendaraan.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa komplotan telah memperhitungkan risiko identifikasi sejak sebelum kejahatan dilaksanakan. Mereka juga mengetahui bahwa kamera pengawas dapat menjadi salah satu sumber utama bagi penyidik untuk mengurai perjalanan pelaku setelah kejadian.
Namun, yang lebih menarik adalah adanya gladi bersih dua hari sebelum aksi. “H-2 mereka berlatih (gladi bersih) dan berkumpul di sebuah bengkel dan mempersiapkan mobil,” kata Ricky.
Simulasi itu membuat setiap anggota memiliki fungsi yang relatif jelas. Ada yang bertugas berkomunikasi dengan korban, ada yang melumpuhkan, mengawasi keadaan, dan ada pula yang bertanggung jawab terhadap kendaraan untuk melarikan diri.
Di lokasi SPBU, modus dimulai dengan penyamaran.
Salah seorang pelaku mendatangi ruang supervisor dan memperkenalkan diri sebagai anggota Resmob. Ia membawa cerita tentang penyelidikan kasus pembegalan dan meminta akses untuk memeriksa kamera CCTV.
Ketika pintu dibuka, skenario berlanjut.
Supervisor kemudian dibekap dan dilumpuhkan. Kabel ties digunakan untuk mengikat korban, sedangkan mulutnya dilakban. Pelaku juga menodongkan senjata jenis airsoft gun untuk memastikan korban tidak melawan.
Petugas keamanan yang terbangun akibat keributan kemudian menghadapi situasi serupa. Ia sempat dibujuk agar percaya kepada penyamaran pelaku, tetapi ketika mulai curiga, petugas tersebut turut diancam, diikat, dan dibuat tidak berdaya.
Dalam kondisi itu, para pelaku mengambil uang dari brankas dan laci ruang supervisor. Mereka tidak berhenti pada uang tunai. Mesin DVR yang menyimpan rekaman CCTV juga dibawa keluar dari lokasi.
Cara tersebut menunjukkan bahwa pelaku bukan hanya mengincar hasil kejahatan, tetapi juga berusaha mengurangi jejak digital yang mungkin dapat digunakan polisi.
Berganti Kendaraan, Memburu Jejak Komplotan
Setelah meninggalkan SPBU, komplotan tidak langsung berpencar. Mereka bergerak menuju bengkel di wilayah Banjarnegara untuk berganti kendaraan dan membagi hasil kejahatan.
Barang-barang yang dianggap dapat menjadi petunjuk kemudian berusaha dimusnahkan. Sebagian dibakar dan sebagian lainnya dibuang ke aliran Sungai Serayu.
Meski DVR CCTV dari lokasi utama berhasil dibawa kabur, penyidik masih memperoleh rekaman dari kamera lain di sekitar tempat kejadian. Dari sinilah penelusuran pergerakan kendaraan dan orang-orang yang terlibat terus dilakukan.
Penyelidikan kasus tersebut dilakukan tim gabungan Polres Wonosobo dan Jatanras Polda Jawa Tengah melalui pendekatan scientific crime investigation. Metode ini menempatkan bukti dan analisis ilmiah sebagai bagian penting dalam membangun rangkaian perkara, bukan semata-mata mengandalkan pengakuan tersangka.
Pendekatan penyidikan berbasis bukti ilmiah juga digunakan kepolisian dalam berbagai kasus pidana untuk menghubungkan bukti, lokasi, saksi, dan pergerakan pelaku.
Polisi akhirnya menangkap empat orang yang diduga terlibat, yakni M.R.A.P. (33), W.W. alias RD (20), A.H. (37), dan R.A.T.S. (42). Dua orang lainnya masih berstatus buron. Peran keduanya disebut cukup penting dalam keseluruhan skenario.
Salah seorang diduga menjadi pemodal sekaligus penyedia airsoft gun dan turut menyusun rancangan kejahatan. Sementara satu orang lainnya diduga menyediakan kendaraan serta perlengkapan yang dipakai untuk menyamar.
Kerugian akibat perampokan diperkirakan mencapai Rp718,5 juta. Dari tangan tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti, antara lain satu unit Daihatsu Luxio, kabel ties, lakban, holster senjata laras pendek, pelat nomor kendaraan, serta uang tunai Rp6,3 juta.
Besarnya kerugian membuat penyidik belum menutup kemungkinan bahwa komplotan yang sama pernah menjalankan aksi serupa di tempat lain.
“Penyelidikan ini masih kami dalami. Ada kemungkinan TKP lain di luar Wonosobo atau di luar wilayah Jawa Tengah. Kami masih melakukan tracing dan follow up,” ujar Ricky.
Pernyataan tersebut membuka babak baru dalam penyidikan. Empat tersangka yang telah ditangkap kemungkinan bukan akhir dari perkara, melainkan pintu masuk untuk membongkar jaringan yang lebih luas.
Modus menyamar sebagai aparat juga menjadi perhatian tersendiri. Pola semacam ini memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap identitas penegak hukum. Karena itu, masyarakat maupun pengelola usaha perlu melakukan verifikasi sebelum memberikan akses kepada seseorang yang mengaku sebagai petugas.
Bagi pengelola SPBU, perkara ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sistem pengawasan tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan kamera. Rekaman juga harus dipastikan tetap tersedia ketika perangkat fisik dirusak atau dibawa pelaku.
Ricky menyarankan penggunaan sistem penyimpanan berbasis awan atau cloud sebagai pelapis penyimpanan lokal.
“Kalau menyiapkan perangkat CCTV dengan sistem penyimpanan file di DVR, gunakan sistem cloud. Ketika perangkat itu diambil atau dirusak, sistem cloud secara otomatis tetap menyimpan rekaman video,” ujar Ricky.
Kasus Selokromo memperlihatkan bagaimana sebuah perampokan modern dapat disiapkan dengan perhitungan panjang: target dipilih, peran dibagikan, kendaraan disamarkan, penyamaran dilatih, alat bukti dicari untuk dihilangkan, dan jalur pelarian dipersiapkan.
Tetapi perencanaan yang rapi tidak selalu berarti jejak benar-benar lenyap.
Ketika satu kamera berhasil dilucuti, kamera lain masih merekam. Ketika kendaraan diubah tampilannya, pergerakannya tetap dapat ditelusuri. Dan ketika barang bukti dibakar atau dibuang ke sungai, rangkaian bukti lain dapat menjadi jalan bagi penyidik untuk menyusun kembali cerita kejahatan.
Di situlah perampokan SPBU Selokromo akhirnya berubah dari sebuah aksi yang dirancang layaknya film menjadi perkara kriminal yang justru perlahan dibongkar melalui jejak-jejak kecil yang ditinggalkan para pelakunya.
